Opini
Opini: Antara Diskon, Promosi dan Ilusi Hemat
Gejala ini muncul menjelang hari raya, liburan sekolah atau seringkali diperhadapkan isu kenaikan gaji dan lain sebagainya.
Oleh: Emiliana Martuti Lawalu,SE,ME
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unwira Kupang, Nusa Tenggara Timur
POS-KUPANG.COM - Menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru), diskon besar-besaran menjadi strategi pemasaran yang sangat efektif.
Hampir semua pusat perbelanjaan, marketplace, dan platform e-commerce menawarkan diskon, cashback, flash sale, hingga promo khusus pada tanggal tertentu.
Strategi ini dirancang untuk menciptakan ilusi bahwa masyarakat sedang "menghemat", masyarakat mengeluarkan uang lebih sedikit dari biasanya, padahal dalam banyak kasus masyarakat justru membeli lebih banyak dari biasanya.
Secara ekonomi, kenaikan permintaan akan barang dan jasa akan mengakibatkan terjadinya kenaikan harga. Kondisi ini akan menyebabkan terjadinya inflasi.
Baca juga: Opini: Bencana, Bansos, dan Bahaya Instrumentalisasi Duka Korban
Gejala ini muncul menjelang hari raya, liburan sekolah atau seringkali diperhadapkan isu kenaikan gaji dan lain sebagainya.
Di tengah kenaikan permintaan dan harga, bijaklah untuk kembali pada pertanyaan mendasar.
Apakah ini kebutuhan atau hanya keinginan yang sesat? Karena kebijaksanaan konsumen tidak hanya terlihat dari seberapa besar mereka berbelanja, tetapi dari seberapa baik mereka mengendalikan diri dan menjaga keberlanjutan keuangan keluarga.
Untuk itu sangat dibutuhkan kehati-hatian dalam mengalokasikan anggaran untuk berbelanja dan menyesuasikan dengan pendapatan yang diperoleh.
Kebutuhan Vs Keinginan: Titik awal pengambilan keputusan
Dalam perspektif perilaku konsumen, diskon mempengaruhi aspek psikologis manusia, seperti rasa takut kehilangan kesempatan, dorongan untuk mendapatkan harga yang lebih rendah, dan tekanan sosial untuk membeli barang yang dianggap sedang tren.
Akibatnya, konsumen sering kali mengabaikan pertanyaan mendasar: Apakah saya benar-benar memerlukan barang-barang ini?
Alih-alih menghemat, banyak orang justru mengeluarkan lebih banyak uang untuk barang yang sebenarnya tidak terlalu penting.
Dalam teori ekonomi, kebutuhan adalah sesuatu yang benar-benar diperlukan dan tidak dapat ditunda penggunaannya karena bertujuan untuk keberlangsungan hidup dan kenyamanan.
Contohnya adalah pangan, layanan kesehatan, pendidikan, dan tempat tinggal.
Sementara itu, keinginan adalah dorongan untuk memperoleh barang atau jasa yang tidak bersifat mendesak, tetapi memberikan kepuasan tambahan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Emiliana-Martuti-Lawalu.jpg)