Opini

Opini: Antara Diskon, Promosi dan Ilusi Hemat

Gejala ini muncul menjelang hari raya, liburan sekolah atau seringkali diperhadapkan isu kenaikan gaji dan lain sebagainya. 

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI EMILIANA MARTUTI LAWALU
Emiliana Martuti Lawalu. 

Dalam diskusi mengenai konsumsi akhir tahun, kita tidak bisa mengabaikan fakta bahwa daya beli masyarakat Indonesia tidak merata. 

Keluarga dengan pendapatan tinggi menikmati berbagai paket liburan, berbelanja di mal, membeli gadget baru, atau melakukan perjalanan ke luar kota. 

Di sisi lain, keluarga berpendapatan rendah harus mempertimbangkan dengan cermat bagaimana memenuhi kebutuhan dasar sambil tetap merayakan momen penting secara sederhana. 

Tekanan ekonomi dapat memaksa keluarga berpendapatan rendah untuk tetap melakukan konsumsi yang sebenarnya melebihi kemampuan mereka. 

Keinginan untuk ikut merayakan sering kali membuat mereka mengambil keputusan ekonomi yang kurang bijaksana. 

Dalam situasi seperti ini, literasi finansial memainkan peranan yang sangat penting. 

Perayaan Nataru bukanlah tentang kemewahan, melainkan tentang kebersamaan dan makna. 

Belanja bijak sebagai kunci ketahanan ekonomi rumah tangga Dalam konteks inflasi musiman, belanja bijak menjadi strategi yang sangat penting. 

Belanja bijak bukan berarti pelit atau tidak ikut menikmati suasana perayaan, melainkan kemampuan untuk mengelola konsumsi agar tetap sesuai dengan kemampuan finansial. 

Ada beberapa prinsip belanja bijak yang relevan untuk diterapkan: Dalam teori konsumsi Keynes dan Friedman, pengeluaran rumah tangga cenderung meningkat pada periode tertentu karena faktor sosial dan psikologis. 

Menurut para ekonom, rumah tangga yang mempersiapkan anggaran khusus menjelang libur akhir tahun lebih mampu menjaga konsistensi pengeluaran dan menghindari pemborosan. 

Anggaran berfungsi sebagai komitmen finansial untuk memastikan konsumsi tidak melebihi kemampuan pendapatan. 

Membuat anggaran khusus Nataru dan memberikan batasan, membedakan antara kebutuhan dan keinginan, terutama untuk barang konsumtif jangka pendek, berbelanja lebih awal untuk menghindari kenaikan harga yang lebih tinggi, serta menghindari paylater atau pinjaman konsumtif. 

Para ekonom berpendapat bahwa mengklasifikasikan barang berdasarkan urgensi dan nilai guna adalah cara yang sederhana namun efektif untuk menahan impulsif konsumtif. 

Perayaan Natal dan Tahun Baru adalah momen sukacita. Namun, sukacita tidak harus dibayar dengan beban finansial setelahnya. 

Konsumen dapat tetap menikmati suasana perayaan sambil menjaga keputusan belanja yang rasional. 

Dengan mengedepankan skala prioritas, membedakan antara kebutuhan dan keinginan, serta mengontrol dorongan impulsif, konsumen dapat merayakan Nataru dengan lebih bijak, seimbang, dan bertanggung jawab. (*)

Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News 

 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved