Opini

Opini: Melawan Wabah Brain Rot dan Dehumanisasi Digital

Di level komunitas, dibutuhkan ekosistem melek literasi digital yang mampu mendorong pengembangan media secara bertanggung jawab.

Editor: Dion DB Putra
POS-KUPANG.COM/HO
Adelbertus Pontius Dhae 

Oleh: Adelbertus Pontius Dhae
Mahasiswa Pascasarjana IFTK Ledalero Maumere, Flores.

POS-KUPANG.COM - Kita baru saja menapakkan kaki di tahun baru 2026. Sambil merumuskan resolusi tahun baru, sudah saatnya kita sebagai homo digitalis menata ulang perilaku digital kita. 

Di tengah keriuhan resolusi tahun baru dan banjir bandang digital, ada satu hantu yang masih bergentayangan di ruang siber kita: brain rot

Sejak Penerbit Universitas Oxford menetapkannya sebagai word of the year pada akhir 2024, diskursus publik setahun terakhir menyadari bahwa kita sedang berhadapan dengan penurunan kapasitas intelektual dan mental secara sistemik. 

Fenomena ini bukan lagi sekedar tren konten absurd, melainkan sebuah “pandemi perhatian” yang terstruktur. 

Hegemoni Algoritma dan Matinya Kedalaman

Brain rot pada awalnya populer sebagai julukan untuk konten-konten anomali absurd seperti Simpansini Bananini, Tralalero Tralala, dan Tung Tung Tung Sahur. 

Baca juga: Anggota KKB Tewas di Wamena

Menonton konten-konten seperti ini cukup untuk membuat kita mempertanyakan nasib rasionalitas. 

Namun, definisi tersebut telah bermutasi menjadi sebuah kondisi penurunan kapasitas intelektual dan mental akibat konsumsi berlebihan atas konten-konten dangkal daring. 

Masalahnya bukan lagi pada konten receh yang mungkin menghibur, melainkan cara algoritma platform memformat perilaku dan perasaan kita.

Dalam medan tarik menarik antara individu dan platform, posisi manusia sering kali menjadi pihak yang paling lemah. 

Kita berhadapan dengan teknologi yang sengaja dirancang untuk melampaui kegunaan asli dan menciptakan budaya overusing (Cal Neport, 2024). 

Media-media komunikasi digital dikembangkan dalam sistem yang terus memasung kebebasan individu, membajak perhatian, dan melumpuhkan kesadaran para penggunanya. 

Ketika perhatian kita terus menerus dibajak pleh algoritma, kita kehilangan kemampuan untuk berkonsentrasi dan berpikir jernih. 

Di sinilah brain rot bekerja secara sistemik: ia membuat kepala terasa penuh sekaligus kosong, menguras emosi, dan melumpuhkan kontrol diri. 

Kita bukan lagi pengemudi, melainkan kapal tanpa kemudi yang diombang-ambingkan oleh kepentingan korporasi dan ekonomi atensi.

Antropologi Digital: Dari Narsisme ke Perjumpaan

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved