Opini
Opini: Bencana dan Tobat
Bumi dan alam semesta bukanlah benda mati yang seenaknya diperlakukan oleh manusia sebagai makhluk hidup.
Meskipun manusia diberi kuasa untuk menguasai dan mengelola bumi, tetapi itu bukan tanpa syarat.
Di sini, suatu kesadaran ekologis menjadi sifat paling hakiki yang harus dipunyai manusia penghuni bumi, seberapapun canggih dan modern peradabannya.
Pemberian konsensi Hutan Tanaman Industri (HTI), penebangan liar, pembukaan pekerbunan kelapa sawit dan tambang, tidak bisa dipungkiri menjadi faktor pendorong dahsyatnya bencana Sumatra 2025.
Laju deforestasi yang tinggi turut menjadi pemicu ketidakmampuan alam menampung luapan air hujan akibat badai Siklon Tropis.
Ketika hutan dibabat, bumi kekurangan kmamuan menahan dan menyerap air tumpahan dari langit. Hal ini terlihat jelas, bagaimana banjir bandang bisa setinggi rumah?
Bencana Sumatera sepertinya sangat jelas; bukan saja soal siklon tropis (akibat alam; meteorologi-atmosfer), tetapi lebih dari itu, soal mitigasi dan tata kelola sumber daya alam (pengaruh tindakan manusia-struktural; ekologis dan degradasi lingkungan).
Tak kala menyaksikan ribuan batang kayu hanyut diterjang banjir menuju ke muara sungai, danau dan laut sebuah tanya dalam diam menyeruak : dari manakah kayu-kayu ini, siapa pemiliknya?
Suatu foto satelit memperlihatkan ribuan batang kayu mengapung di Danau Singkarak, Sumatera Barat.
Terseretnya ribuan batang kayu, menjadi pesan penting bahwa hutan sudah rusak, bahkan hutan sudah punah.
Tanpa perlu bersilat lidah, salah satu pemicu bahkan pemicu utama bencana Sumatera, tidak lain hutan yang rusak ( deforestasi).
Sudah lama memang, pegiat lingkungan mewanti-wanti para penguasa kebijakan, penguasa regulasi untuk waspada terhadap kebijakan tata kelola sumber daya alam, di Sumatera maupun Indonesia.
Pemberian konsensi yang terlampau mudah dan jor-joran telah mendegradasi kekuatan alam dalam menopang kehidupan manusia.
Cara pintas untuk memperoleh uang dengan mengeksploitasi sumber daya alam menjadi tren baru di tengah isu pemanasan global (global warming).
Data yang dirilis Kementerian Kehutanan, (Jakarta, 20 Maret 2025 ) sebagai berikut : Kementerian Kehutanan merilis hasil pemantauan tahunan mengenai kondisi hutan dan angka deforestasi di Indonesia.
Pemantauan ini dilakukan secara menyeluruh di seluruh daratan Indonesia yang mencakup 187 juta hektare, baik di dalam maupun di luar kawasan hutan, menggunakan citra satelit Landsat yang disediakan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Anggota-DPRD-Provinsi-NTT-dari-Partai-Demokrasi-Indonesia-Eman-Kolfidus.jpg)