Opini
Opini: Bencana dan Tobat
Bumi dan alam semesta bukanlah benda mati yang seenaknya diperlakukan oleh manusia sebagai makhluk hidup.
Oleh: Emanuel Kolfidus
Pegiat Literasi, tinggal di Kota Kupang - Nusa Tenggara Timur
POS-KUPANG.COM - Sampai dengan Sabtu (6/11/2025), bencana Sumatera sudah merenggut 867 jiwa meninggal dunia, 521 dinyatakan hilang, dan 4.200 orang luka-luka.
Jika yang dinyatakan hilang sama dengan meningal dunia, maka becana ini sudah memakan korban jiwa 1.388 orang. Jumlah yang sedemikian banyak.
Kedahsyatan bencana Sumatera dapat kita saksikan dalam laporan di berbagai media massa.
Air bah setinggi rumah, menghanyutkan ribuan batang kayu dan mobil-mobil mewah, menerjang kawasan pemukiman dan melibas berbagai bangunan infastruktur publik.
Baca juga: Opini: Relawan Kesehatan adalah Garda Terdepan yang Sering Terlupakan
Potret memilukan dikirim dari Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat.
Bencana yang diklaim sebagai bencana hidrometeorologi berupa banjir bandang dan tanah longsor, menerjang wilayah utara dan tengah Pulau Sumatra pada akhir November 2025.
Setiap hari kita menemukan update data berdasarkan keterangan Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Bencana BNPB.
Jutaan orang terpaksa mengungsi. Ribuan rumah hancur. Angka-angka ini akan bertambah seiring makin gencarnya upaya pencarian dan penanganan pascabencana.
Di tengah kepedihan dan duka mendalam, ada saja debat terbuka di ruang publik, seputar penyebab bencana Sumatera, prihatin, kecewa, sedih, marah dan desakan mundur kepada sejumlah pihak yang dipandang paling bertanggung jawab.
Di lain pihak, ada yang bergerak dalam diam yang aktif, menginisiasi dompet peduli, mengirim bantuan dan menerjunkan sejumlah tim dan relawan.
Bangunan solidaritas sosial tumbuh dan hidup secara humanis merespons dengan cepat penderitaan yang dialami sesama.
Luka bangsa yang begitu pedih setidaknya perlahan diobati oleh solidaritas dan gotong royong kemanusiaan masyarakat menjadi satu rasa: senasib dan sependeritaan.
Lalu, apa hubungan bencana dengan tobat (baca : pertobatan?) Bencana Sumatera mengirim sinyal jelas kepada negara, pemangku kepentingan dan masyarakat bahwa alam semesta memiliki rasionalitas tersendiri bahkan kuasa untuk menegur.
Bumi dan alam semesta bukanlah benda mati yang seenaknya diperlakukan oleh manusia sebagai makhluk hidup.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Anggota-DPRD-Provinsi-NTT-dari-Partai-Demokrasi-Indonesia-Eman-Kolfidus.jpg)