Kamis, 23 April 2026

Opini

Opini: Seni Bertahan di Tengah Hidup yang Liar

Seni bertahan dalam hidup modern bukan terletak pada kemampuan berlari, tetapi pada keberanian untuk berhenti sebelum kita hancur.

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI GOLDY OGUR
Goldy Ogur 

Oleh: Goldy Ogur
Mahasiswa Pascasarjana Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero, Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Pada suatu titik tertentu, manusia modern sadar bahwa ia berlari tanpa mengetahui ke mana kaki membawanya. Dan kita, hidup dalam dunia yang terasa seperti mesin raksasa yang bergerak cepat. 

Tidak pernah berhenti, dan seolah menuntut kita ikut berputar tanpa sempat menata napas. 

Notifikasi datang bertubi-tubi, pekerjaan memanjang tanpa pinggir, dan ekspektasi sosial berserakan seperti duri kecil yang menusuk dari segala arah. 

Dalam ritme yang kacau ini, tubuh dan pikiran kita sebenarnya berteriak meminta jeda, namun suara itu tenggelam dalam kebisingan hidup yang liar.

Baca juga: Opini: Menjaga Imago Dei

Banyak orang akhirnya menganggap “sibuk” sebagai identitas baru. Ketika ditanya “Bagaimana kabarmu?”, jawaban paling umum bukan lagi “Baik”, tetapi “Sibuk sekali”. 

Seolah kesibukan adalah tanda keberhasilan, bukan tanda kelelahan. Budaya ini persis seperti yang digambarkan Byung-Chul Han sebagai “masyarakat kelelahan” (the burnout society), yaitu masyarakat yang mendorong manusia terus memaksa dirinya hingga melewati batas kapasitasnya. 

Kita hidup dalam imperatif: “Harus produktif!”, dan jeda dianggap dosa kecil yang harus dihindari.

Fenomena ini sebenarnya menandakan ketakutan kita sendiri: ketakutan dianggap tidak berguna, tertinggal, atau tidak relevan. 

Di sinilah dunia menjadi liar, bukan karena manusia menjadi jahat, tetapi karena manusia kehilangan kemampuan mengenali ritme dirinya sendiri. 

Hannah Arendt pernah berkata bahwa manusia membutuhkan ruang untuk contemplation agar hidupnya tidak terhisap dalam arus kerja yang tanpa bentuk. Ketika ruang itu sirna, manusia kehilangan kejernihan batin.

Budaya overload ini diperparah oleh teknologi yang memberi ilusi bahwa kita bisa tetap terhubung tanpa batas. 

Algoritma media sosial mendorong kita terus menggulir, terus melihat, terus merespons. 

Yuval Noah Harari mengingatkan bahwa teknologi bukan hanya menguasai atensi kita, tetapi juga perlahan memetakan kelemahan psikologis kita. 

Dengan kata lain, dunia makin cepat karena ia tahu bagian mana dari diri kita yang mudah terpancing. Dan di tengah semua ini, jeda menjadi seni yang terlupakan.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved