Opini
Opini: Seni Bertahan di Tengah Hidup yang Liar
Seni bertahan dalam hidup modern bukan terletak pada kemampuan berlari, tetapi pada keberanian untuk berhenti sebelum kita hancur.
Maka, tulisan ini ingin mengajak kita melihat jeda tidak sebagai kemewahan atau pemborosan waktu, tetapi sebagai keterampilan bertahan: sebuah seni untuk tetap menjadi manusia di tengah hidup yang liar.
Saat Semua Terlalu Banyak dan Terlalu Cepat
Kita hidup dalam zaman ketika segalanya terasa “terlalu banyak”: informasi terlalu banyak, tuntutan terlalu banyak, notifikasi terlalu banyak, bahkan peluang pun kadang terasa berlebihan.
Dalam keadaan ini tubuh manusia yang memiliki ritme alami, yang seharusnya punya waktu untuk tenang dan memproses, dipaksa mengikuti kecepatan yang ditentukan teknologi.
Byung-Chul Han menyebutnya sebagai “masyarakat kelelahan”, sebuah kondisi ketika manusia bukan lagi dieksploitasi oleh orang lain, tetapi oleh dirinya sendiri yang merasa harus selalu produktif.
Yang lebih mengkhawatirkan, kita mulai memperlakukan kesibukan sebagai lambang status.
Orang yang sibuk dianggap berhasil; orang yang santai dianggap tidak berguna.
Budaya ini membuat manusia kehilangan hubungan normal dengan dirinya sendiri.
Kita sulit mengatakan “cukup”, bahkan ketika tubuh dan pikiran mengirimkan sinyal kelelahan.
Di titik ini, hidup menjadi liar bukan karena ancaman dari luar, tetapi karena tekanan dari dalam diri yang terus menuntut lebih.
Yasraf Amir Piliang mengingatkan bahwa masyarakat informasi kini menderita apa yang disebutnya “overload eksistensial”, manusia tampak aktif tetapi kehilangan kejelasan tujuan.
Informasi masuk terlalu cepat, sementara waktu untuk merenung semakin pendek.
Kita tahu banyak hal, tetapi tidak benar-benar memahami apa pun secara mendalam. Tanpa jeda, kita menelan dunia tanpa sempat mencernanya.
Teknologi, yang awalnya dirancang untuk mempermudah hidup justru mempercepat ritme sampai melampaui batas biologis manusia.
Yuval Noah Harari menyebut ini sebagai “hilangnya kendali internal”. Algoritma mengetahui bagaimana mengunci perhatian, memaksa kita berpindah dari satu rangsangan ke rangsangan lain tanpa putus.
Akibatnya, kita kehilangan kedalaman. Kita tahu banyak, tetapi dangkal. Bergerak cepat, tetapi kehilangan arah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Goldy-Ogur.jpg)