Breaking News
Kamis, 23 April 2026

Opini

Opini: Mitos Standarisasi dan Wabah GERM dalam Pendidikan Kita

Kita seperti terjebak pada satu keyakinan lama bahwa pengukuran adalah obat untuk semua penyakit pendidikan. 

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI PETRUS REDY P JAYA
Petrus Redy Partus Jaya 

Oleh: Petrus Redy Partus Jaya
Dosen Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng, Mahasiswa Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Sekolah Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta.

POS-KUPANG.COM - Di tengah hiruk pikuk upaya kita membenahi kualitas pendidikan dasar dan menengah, kita tampaknya masih tersandera oleh satu obsesi lama: pengukuran. 

Kita seperti terjebak pada satu keyakinan lama bahwa pengukuran adalah obat untuk semua penyakit pendidikan. 

Kita memandang tes bak kompas yang akan menunjukkan arah pembenahan, padahal bisa jadi justru ia adalah gejala bahwa kita sedang kehilangan arah. 

Selama bertahun-tahun, kita menempatkan tes standar sebagai instrumen magis yang dipercaya mampu meningkatkan mutu; apa pun namanya, entah itu TKA, AKM, asesmen nasional, atau seleksi masuk sekolah. 

Baca juga: Opini: Menjaga Imago Dei

Seolah-olah, kalau kita ukur siswa lebih sering, mereka otomatis akan belajar lebih giat, dan mutu sekolah akan terdongkrak. Logikanya sederhana, tetapi kesederhanaan inilah yang sering menipu. 

Pertanyaannya: benarkah sistem pendidikan membaik karena kita rajin mengukur? 

Atau jangan-jangan ia justru sedang sakit dan kita sibuk mengukur suhu tubuhnya, alih-alih menyembuhkan penyebabnya?

Di sinilah gagasan menarik dari Pasi Sahlberg, pakar pendidikan asal Finlandia, terasa sangat relevan. 

Ia memperkenalkan istilah GERM akronim dari Global Education Reform Movement, sebuah istilah untuk menyindir tren reformasi pendidikan dunia yang menyebar layaknya virus patogen.

Dalam bahasa Inggris germ berarti kuman, bibit penyakit, sesuatu yang kecil namun mudah menular dan melemahkan tubuh. 

Sahlberg dengan sengaja memilih metafora medis ini untuk menggambarkan GERM, sebuah “wabah” yang diam-diam telah menyebar ke banyak negara, termasuk kita. 

Inti dari ideologi ini adalah pemaksaan logika pasar dan korporasi ke dalam ruang kelas, di mana sekolah dipaksa bersaing satu sama lain layaknya perusahaan, guru ditekan dengan standar akuntabilitas yang kaku, dan keberhasilan pendidikan direduksi hanya sebatas angka-angka pada lembar ujian standar.

Bak wabah yang tak kasat mata, GERM menginfeksi sistem pendidikan dengan mengubah focus utama sekolah: dari upaya memanusiakan dan mengembangkan bakat unik setiap anak, menjadi sekadar pabrik pencetak nilai demi memenuhi indikator ekonomi dan peringkat global.

Jika GERM dianalogikan sebagai virus, maka tes standar adalah medium penularannya yang paling aktif. 

Sekali masuk ke sistem pendidikan, ia memicu “gejala” yang khas: obsesi pada kompetisi, penyeragaman ekstrem, dan ketergantungan pada pengujian berisiko tinggi. 

Sekolah tidak lagi seperti taman belajar yang subur, tetapi lebih mirip gelanggang balap. 

Siswa berlari tanpa henti, guru menjadi pawang skor, dan institusi pendidikan berubah menjadi pabrik nilai.

Evaluasi yang Regresif: Seperti Mengautopsi, Bukan Mengobati

Salah satu masalah terbesar dari ketergantungan kita pada tes standar adalah sifat evaluasinya yang regresif. 

Kita mengukur pendidikan dengan cara memandang ke belakang, bukan ke depan. 

Kita menunggu di ujung jalan, menghentikan siswa dengan lembar jawaban, lalu memberi vonis atas perjalanan panjang pembelajaran mereka. 

Padahal, pendekatan ini seperti melakukan autopsi terhadap pasien yang sudah tidak bernyawa, cari penyebabnya dan tulis hasilnya tetapi semuanya terjadi ketika sudah terlambat untuk diselamatkan.

Kita mengevaluasi hasil, tetapi mengabaikan penyebab. Kita menuntut panen yang melimpah, tetapi tidak peduli apakah tanahnya subur, benihnya baik, dan apakah petaninya (baca: guru) sejahtera, terlatih, dan mendapat dukungan yang memadai. 

Dalam manajemen mutu, ada prinsip yang sangat terkenal: You cannot inspect quality into a product. 

Kualitas tidak bisa diciptakan hanya dengan menginspeksi hasil di akhir. Namun begitulah yang terus kita lakukan. 

Kita memeriksa output dengan ketat, tetapi kita lupa membangun sistem yang memungkinkan kualitas itu tumbuh sejak dalam proses.

Tes Standar: Mesin Baru Penghasil Ketidakadilan

Yang lebih memprihatinkan, tes standar sering kali menjadi generator ketidakadilan social yang halus, elegan, dan tampak ilmiah. 

Robert K. Merton menyebut fenomena ini sebagai Efek Matius: mereka yang sudah memiliki keuntungan, akan semakin diuntungkan.

Dalam konteks pendidikan Indonesia, skor tes tinggi sering kali bukan hasil kecerdasan alami; ia adalah cermin privilese, gizi yang baik sejak dalam kandungan, fasilitas lengkap, lingkungan rumah yang suportif, guru berkualitas, dan kemampuan membiayai bimbel yang mahal. 

Lalu bagaimana dengan anak dari keluarga terbatas? Siswa di sekolah yang kekurangan guru atau, anak yang hidup di daerah 3T? 

Mereka berangkat dari garis start yang jauh di belakang, tetapi diukur dengan meteran yang sama dan dilabeli dengan aturan yang sama. 

Ketika skor tes dijadikan filter masuk sekolah, alat seleksi, atau label “pintar”, tes tersebut bertransformasi dari alat pengembangan menjadi alat pemberi stempel yang memperkuat kesenjangan. 

Tes standar yang tampak objektif berubah menjadi instrument ketidakadilan yang rapi. 

Ia bekerja dalam senyap, namun dampaknya nyata: menyingkirkan yang lemah, meninggikan yang sudah menang sejak awal.

Membangun Kekebalan Pendidikan: Dari Menguji ke Mempercayai

Jika sistem pendidikan kita ingin sembuh dari wabah GERM, kita perlu merombak paradigma. 

Bukan sekadar mengurangi tes, tetapi menggeser filosofi dasarnya. Dari mentalitas prove (menguji untuk membuktikan) menuju improve (membangun untuk memperbaiki).

Finlandia adalah contoh yang paling sering disebut, bukan karena mereka sempurna, tetapi karena mereka menunjukkan bahwa sistem pendidikan bisa kebal dari virus GERM

Mereka tidak menjalankan tes standar nasional secara rutin. Mereka tidak terobsesi dengan peringkat. Mereka tidak “mengawasi” guru lewat angka-angka. 

Mengapa? Karena mereka sudah selesai dengan membangun fondasi: kualitas guru. 

Profesi guru seleksinya ketat, pendidikannya mendalam, status sosialnya tinggi, dan kesejahteraannya terjamin. Ketika fondasi input kuat, negara tidak perlu melakukan kontrol kualitas di hilir. 

Yang muncul justru kepercayaan (trust) sebagai mata uang utama pengelolaan pendidikan. Di sanalah letak imunisasi mereka terhadap GERM.

Di Indonesia, kita cenderung melakukan hal sebaliknya. Kita banyak berbicara tentang hasil, tetapi sedikit berinvestasi pada penyebabnya. 

Kita memproduksi instrumen tes yang rumit, tetapi lupa menyirami akar persoalan: kompetensi guru, fasilitas sekolah, dukungan daerah, dan pemerataan kualitas PAUD dan pendidikan dasar. 

Jangan lagi kita berharap “timbangan” (tes) akan membuat sapi lebih gemuk. 

Yang membuat sapi gemuk adalah pemberian pakan yang bergizi dan perawatan yang baik, bukan seberapa sering kita menimbangnya.

Saatnya Berhenti Berkaca ke Belakang

Jika kita ingin pendidikan kita membaik, kita perlu berani mengambil langkah yang tidak populer tetapi sangat mendasar: perkuat kualitas guru melalui pendidikan, pelatihan, dan kesejahteraan; 

Pastikan fasilitas belajar merata; bangun budaya belajar yang manusiawi dan kolaboratif, bukan kompetitif semata; gunakan evaluasi sebagai alat diagnosis, bukan alat hukuman; berhenti menilai siswa hanya dari apa yang mereka tulis dalam satu hari ujian. 

Mutu pendidikan lahir dari proses jangka panjang, bukan dari satu kali tes nasional. Dan yang lebih penting: evaluasi yang sejati tidak bertujuan untuk memisahkan siapa yang “gagal” dan siapa yang “sukses”, melainkan untuk memastikan bahwa siapa pun, dari latar belakang apa pun, memiliki kesempatan yang sama untuk berhasil. (*)

Simak terus artikel POS-KUPANG.COM di Google News

 

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved