Opini

Opini: Guru dan Kurikulum Deep Learning

Dengan demikian, kurikulum merupakan seperangkat bahan ajar yang menjadi pedoman bagi keberlangsungan kegiatan belajar mengajar. 

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI IRENIUS BOKO
Irenius Boko 

Oleh: Irenius Boko
Tinggal di Seminari St. Fransiskus Asisi Sinar Buana, Weetebula, Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Ketika mengunjungi kolom status di WA (WhatsApp), saya menemukan caption yang amat menarik dan menggugah saya dari salah satu teman guru di Seminari Sinar Buana. 

Teman guru saya menulis demikian “Guru adalah Kurikulum Bagi Siswa”. 

Melalui caption dari teman guru, saya tergugah untuk menulis artikel yang fokus pada guru dan kurikulum deep learning. Apa hubungan antara guru dan kurikulum?

Baca juga: Opini: Darurat Integritas di Dunia Pendidikan 

Kurikulum secara etimologis berasal dari kata Curir yang berarti pelari dan curere berarti jarak yang harus ditempuh. Kurikulum berarti jarak yang harus ditempuh oleh seorang pelari. 

Seorang pelari mesti berlari sedemikian mungkin dengan tujuan menempuh jarak yang telah ditentukan dalam perlombaan. Secara historis, kata kurikulum ini berasal dari dunia olahraga. 

Bagaimana hubungannya dengan dunia pendidikan? Dunia pendidikan mengadopsi kata kurikulum dengan memberikan pengertian tersendiri yakni perangkat dan pedoman mata pelajaran yang diajarkan atau yang mesti ditempuh oleh siswa. 

Undang-Undang nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional memberikan defenisi khusus tentang kurikulum yang berarti seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran yang menjadi pedoman dalam kegiatan belajar mengajar. 

Dengan demikian, kurikulum merupakan seperangkat bahan ajar yang menjadi pedoman bagi keberlangsungan kegiatan belajar mengajar. 

Pendidikan Indonesia secara substansial sudah menerapkan begitu banyak kurikulum, mulai dari Kurikulum Rencana Pelajaran (19947), Kurikulum Rencana Pendidikan (1964);

Kurikulum Sekolah Dasar (1968), Kurikulum PPSP (1973), Kurikulum Sekolah Dasar (1975), Kurikulum, 1984, Kurikulum 1994, Kurikulum 1997, Kurikulum Berbasis Kompetensi (2004), Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (2006), Kurikulum 2013, Kurikulum Merdeka (2022), dan kini akan mengimplementasikan gagasan dari  Abdul Mu’ti, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah. 

Hemat saya, tidak ada perbedaan yang signifikan antara kurikulum Merdeka dan Deep Learning

Kurikulum Merdeka fokus pada muatan esensial, pengembangan karakter dan fleksibilitas. 

Sedangkan deep learning fokus pada mindfull learning, meaningfull learning dan joyfull learning.
 
Fakta empiris menampilkan bahwa walaupun kurikuluum terus digubah untuk mengembangkan kualitas pendidikan Indonesia, dalam ruang kelas masih ada metode pembelajaran gaya bank. 

Murid bertindak seperti rekening pasif dan guru bertindak mentransfer pengetahuan ke murid. Dalam kondisi demikian, guru tampil seperti kamus hidup yang tidak dapat dibantah. 

Tentu ada latar belakang yang menciptakan kondisi pembelajaran gaya bank masih ada hingga sekarang meski kurikulum terus diganti dan di-update. 

Latar belakang internal yakni minimnya budaya literasi. Nusa Tenggara Timur merupakan provinsi dengan indeks literasi yang amat rendah. 

Kompas mencatat bahwa di Nusa Tenggara Timur, ada begitu banyak siswa SMP/ sederajat dan SMA/ sederajat yang belum lancar membaca. 

Bahkan ada siswa SMP/ sederajatnya yang tidak bisa membaca sama sekali (Kompas.id; 19 Sep 2025). 

Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena mengaku bahwa tidak hanya SMA, mahasiswa juga masih belum begitu cakap dalam membaca dan menulis. 

Fakta tersebut merupakan satiris bagi masyarakat NTT, khususnya para pelajar dan pengajar. 

Pada 7 Oktober 2025, Kompas juga menerbitkan lagi sebuah berita yang amat satiris. 

Terdapat fakta ironi yang terjadi di NTT yakni guru main tiktok sambil memerintah murid membaca buku. Dalam filsafat, kondisi demikian adalah cacat logika. 

Selain itu, ada pula ironi tentang prinsip konstitusional yakni tentang kedisiplinan. 

Ada begitu banyak guru yang senantiasa menuntut supaya siswa disiplin waktu dan disiplin dalam ruang kelas. 

Akan tetapi banyak guru yang tidak disiplin waktu. Kondisi-kondisi demikian merupakan faktor utama bagi rendahnya budaya literasi.

Guru merupakan figur yang diguguh, dicontohi dan agen peradaban. Sebagai figur yang diguguh dan dicontohi guru hadir dengan keutamaan moral dan intelektual. Keutamaan moral berkaitan dengan prinsip kedisplinan. 

Keutamaan intelektual berkaitan dengan prinsip ilmiah. sebagai figur peradaban, guru hadir dengan inovasi menata moral dan intelektual siswa. 

Hanya dengan menata moral dan intelektual itu, peradaban pendidikan akan senantiasa progresif dan tidak stagnan. 

Apa hubungan guru dan kurikulum deep learning? Dengan poin mindfull learning, guru sesungguhnya menjadi fasilitator bagi siswa dalam menyampaikan pendapat. 

Tuntutan bagi guru dalam konteks ini yakni rendah hati secara intelektual. Tesis-tesis siswa yang ada korelasinya dengan ilmu pengetahuan mesti dikredit. 

Dengan demikian, guru dapat hadir sebagai figur yang secara substansial diguguh dan dicontohi. 

Melalui poin joyfull learning¸guru hadir tidak seperti kamus yang tidak dapat dibantah. 

Metode-metode mengajar mesti diupgrade. Hadirkan metode-metode yang tidak statis melainkan dinamis agar siswa tidak merasa jenuh.  Dengan duan poin utama tersebut, guru tidak sedang mengobjektivasi siswa. 

Siswa tidak hanya menjadi objek bagi guru untuk mengisi ilmu pengetahuan. Melainkan, guru harus terus menciptakan ruang kelas yang isinya subjek-subjek. 

Ada diskusi dan dialog yang aktif. Dengan adanya subjek-subjek yang aktif dan berintelektual dalam ruang kelas, guru sesungguhnya sedang mengkonstruksikan dirinya menjadi hebat. 

Bias dari guru hebat, Indonesia akan Maju dengan adanya siswa-siswa hebat yang menjadi generasi penerus bangsa.  Selamat Hari Guru, “Guru Hebat, Indonesia Maju.” (*)

Simak terus artikel POS-KUPANG.COM di Google News 

 

Sumber: Pos Kupang
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved