Opini
Opini: Kurikulum Cinta dari Rumah- Gema Gong Belajar dan Kelahiran Sekolah Kehidupan
Gong Belajar menegaskan tanggung jawab pendidikan tidak hanya di pundak guru atau pemerintah, tetapi juga di hati setiap orang tua.
Dan bagi setiap keluarga, langkah kecil seperti mematikan televisi, menyimpan gawai, lalu hadir penuh selama 90 menit bersama anak, adalah bentuk nyata dari cinta yang mendidik.
Ketika kebiasaan kecil ini dilakukan serentak, ia akan membentuk gerakan budaya belajar dari rumah—gerakan yang perlahan tapi pasti menumbuhkan kembali karakter, kedisiplinan, dan kasih di setiap keluarga NTT.
Seirama Kurikulum Cinta
Program ini seirama dengan gagasan Kementerian Agama Republik Indonesia tentang Kurikulum Cinta—pendekatan pendidikan yang menanamkan nilai kasih sayang, empati, dan toleransi di semua jenjang pendidikan keagamaan.
Kurikulum ini menekankan lima pilar (Pancacinta) utama. Pertama, Cinta kepada Allah, melalui penghayatan iman dan kasih dalam kehidupan sehari-hari.
Kedua, cinta kepada diri dan sesama, dengan menumbuhkan empati dan penghargaan terhadap martabat setiap orang. Ketiga, cinta kepada ilmu pengetahuan, menjadikan belajar sebagai ekspresi cinta dan pencarian makna hidup.
Keempat, cinta kepada lingkungan, menumbuhkan tanggung jawab terhadap bumi dan sesama ciptaan. Kelima, cinta kepada tanah air, membangun rasa syukur dan bangga sebagai warga bangsa.
Sinergi antara Gong Belajar dan Kurikulum Cinta menghadirkan wajah pendidikan yang humanis dan spiritual.
Jika Gong Belajar menata waktu dan disiplin belajar, maka Kurikulum Cinta memberi arah moral dan ruh kasih dalam proses itu.
Dari ruang keluarga yang penuh kehangatan, nilai-nilai cinta, doa, dan kebersamaan akan menetes ke ruang kelas,komunitas, hingga ruang publik.
“Pendidikan adalah tindakan cinta, dan karena itu, tindakan keberanian.” (Paulo Freire).
NTT dapat menjadi model provinsi yang tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga pada pembentukan manusia seutuhnya: cerdas, beriman, dan berkarakter kasih.
Keberhasilan Gong Belajar bergantung pada komitmen kolektif semua pihak—orang tua, guru, tokoh agama, media, dan pemerintah.
Sekolah perlu mendukung dengan inovasi pembelajaran; lembaga keagamaan menguatkan nilai spiritualnya; dan media lokal menyalakan semangat positif agar program ini menjadi gerakan kultural, bukan sekadar administratif.
Pada akhirnya, Gong Belajar adalah panggilan untuk kembali ke rumah — bukan hanya secara fisik, tetapi batin.
Rumah sebagai tempat bertumbuhnya cinta, doa, dan ilmu. Ketika gong itu berbunyi di setiap rumah NTT, biarlah ia menjadi tanda bahwa kasih dan pengetahuan telah kembali berdialog—bahwa kita sedang menulis bab baru dalam sejarah pendidikan yang berakar pada kasih dan kebersamaan. (*)
Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Ilustrasi-belajar-di-rumah.jpg)