Selasa, 12 Mei 2026

Opini

Opini: Kurikulum Cinta dari Rumah- Gema Gong Belajar dan Kelahiran Sekolah Kehidupan

Gong Belajar menegaskan tanggung jawab pendidikan tidak hanya di pundak guru atau pemerintah, tetapi juga di hati setiap orang tua. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
POS-KUPANG.COM/HO-FOTO BUATAN AI
ILUSTRASI 

Ketika orang tua duduk bersama anaknya membaca, menulis, atau sekadar berbincang tentang pelajaran hari itu, mereka sedang menulis bab kecil dari peradaban kasih yang tumbuh dari meja belajar sederhana di ruang keluarga.

Jika dijalankan dengan sepenuh hati, Gong Belajar akan menjadi gerakan sosial yang memulihkan martabat keluarga NTT sebagai pusat peradaban kasih dan ilmu—tempat di mana karakter ditempa, dan cinta menjadi metode belajar paling ampuh.

Rumah sebagai Sekolah Pertama

Dalam perspektif klasik, keluarga disebut ecclesia domestica—gereja kecil tempat iman, kasih, dan nilai hidup pertama kali diajarkan. Rumah adalah sekolah pertama dan utama di mana anak belajar menjadi manusia.

Di rumah, anak mengenal kata pertama, doa pertama, dan nilai pertama tentang kebaikan. 

Di sanalah karakter dibentuk bukan lewat teori, melainkan teladan dan kehadiran. 

Ketika seorang ayah membaca buku bersama anaknya, atau seorang ibu menjelaskan arti syukur sebelum makan malam, di situlah pendidikan karakter sejati berlangsung.

Gong Belajar menegaskan tanggung jawab pendidikan tidak hanya di pundak guru atau pemerintah, tetapi juga di hati setiap orang tua. 

Di era ketika teknologi sering menggantikan interaksi manusia, Gong Belajar menjadi gerakan spiritual pendidikan yang menghidupkan kembali sentuhan manusiawi dalam proses belajar.

Rumah adalah laboratorium kasih, tempat setiap tawa, teguran, dan doa menjadi bahan baku pembentukan karakter. Ketika rumah hidup dalam semangat Gong Belajar, masyarakat pun akan hidup dalam budaya cinta belajar.

Menghidupkan Gong Belajar Secara Nyata

Agar Gong Belajar tidak berhenti pada simbol atau kebijakan, setiap pihak perlu mengambil peran nyata. 

Pemerintah daerah dapat memfasilitasi pendampingan bagi orang tua melalui pelatihan sederhana—bagaimana mendampingi anak belajar dengan sabar dan menyenangkan.

Sekolah dapat menyesuaikan tugas harian agar sejalan dengan waktu belajar keluarga, sementara lembaga keagamaan bisa mengisi sesi pembinaan keluarga tentang nilai-nilai kasih dalam pendidikan. 

Media lokal pun berperan penting: menyiarkan kisah inspiratif keluarga yang konsisten menjalankan Gong Belajar, sehingga muncul efek domino sosial. 

Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved