Opini
Opini: Kurikulum Cinta dari Rumah- Gema Gong Belajar dan Kelahiran Sekolah Kehidupan
Gong Belajar menegaskan tanggung jawab pendidikan tidak hanya di pundak guru atau pemerintah, tetapi juga di hati setiap orang tua.
Oleh: Tryles Neonnub
ASN pada Kanwil Kementerian Agama Provinsi NTT
POS-KUPANG.COM - “Non scholae sed vitae discimus” — Kita belajar bukan untuk sekolah, tetapi untuk hidup (Lucius Annaeus Seneca).
Membaca headline Pos Kupang, 14 Oktober 2025: Gubernur Melki Gaungkan Gong Belajar, saya langsung membayangkan sebuah suasana sederhana di rumah-rumah NTT.
Pukul 17.30, matahari condong ke barat. Seorang ayah menutup laptopnya, menaruh ponsel di meja, lalu memanggil anaknya dengan lembut, “Mari kita belajar, Nak.”
Ibu datang membawa secangkir teh dan duduk di samping mereka. Tak ada notifikasi, tak ada televisi, hanya tawa kecil, pertanyaan polos, dan percakapan hangat.
Baca juga: Opini: Budaya Adalah Kompas Jati Diri
Waktu seakan melambat, memberi ruang bagi sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar belajar: kedekatan emosional. Dalam suasana seperti itu, anak merasa aman untuk bertanya dan mencoba; orang tua merasa berarti karena hadir sepenuhnya.
Menjelang pukul 19.00, aroma makan malam perlahan memenuhi ruang. Mereka menutup buku dan saling menatap dalam keheningan hangat—sebuah keterikatan batin yang oleh psikolog disebut emotional attunement, hati yang berdetak dalam irama yang sama.
Lalu tibalah Sabtu, hari rekreasi keluarga. Mereka pergi ke pantai, menatap laut dengan rasa syukur.
Di antara tawa dan canda, orang tua menyadari satu hal: Gong Belajar bukan sekadar program, tetapi irama kasih yang menyatukan keluarga—memulihkan kehangatan yang sempat hilang di tengah kesibukan dunia digital.
Budaya Belajar dari Rumah
Gagasan Gubernur NTT, Melki Laka Lena, untuk menghidupkan kembali Gong Belajar merupakan langkah strategis yang menyentuh jantung kehidupan sosial kita.
Melalui Peraturan Gubernur tentang Jam Belajar di Rumah bersama Orang Tua, anak-anak NTT diajak belajar secara serentak setiap sore, sementara Sabtu ditetapkan sebagai hari kebersamaan keluarga.
Tujuannya bukan sekadar mengatur waktu belajar, tetapi menumbuhkan kembali budaya baca, tulis, dan hitung dari rumah—seraya menghidupkan peran keluarga sebagai tiang utama pendidikan.
Sebab rumah bukan sekadar tempat tinggal, melainkan ruang pertumbuhan kasih, disiplin, dan karakter. Kita ingat kata Plutarch: “The mind is not a vessel to be filled, but a fire to be kindled.” Pikiran bukan bejana yang diisi, melainkan api yang harus dinyalakan.
Itulah esensi Gong Belajar—bukan untuk memenuhi kepala anak dengan hafalan, tetapi menyalakan api rasa ingin tahu dan semangat belajar yang lahir dari rumah.
| Opini: Dilema Kesejahteraan- Efisiensi atau Erosi Biokrasi? |
|
|---|
| Opini: Sunyi yang Tidak Didengar-Ketika Bunuh Diri Menjadi Bahasa Terakhir |
|
|---|
| Opini: Lonjakan HIV/AIDS di Nusa Tenggara Timur |
|
|---|
| Opini: Ilusi “Profesor Menjamur” dan Krisis Nalar Kebijakan Pendidikan Tinggi |
|
|---|
| Opini: Kerahiman Ilahi- Jalan Pulang Menuji Hati yang Diperbaharui |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Ilustrasi-belajar-di-rumah.jpg)