Minggu, 26 April 2026

Opini

Opini: Green Chemistry, Solusi Praktis Melawan Krisis Lingkungan di NTT

Meski dampaknya jelas: udara kotor, air tercemar, tanah rusak, sampah tak terkendali. Apakah ini terus dibiarkan?

|
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI ANGGELINUS NADUT
Anggelinus Nadut 

Oleh: Br. Anggelinus Nadut, SVD
Dosen Kimia Fakultas Sains dan Teknologi Unwira Kupang - Nusa Tenggara Timur

POS-KUPANG.COM - Dalam kenangan syukur 150 tahun SVD ( Societas Verbi Divini atau Society of the Divine Word) 1875 – 08 September – 2025, Universitas Katolik  Widya Mandira ( Unwira)  Kupang menyelenggarakan Seminar bertajuk “SVD dan Penyelamatan Lingkungan Hidup di Tengah Dunia yang Terluka”. 

SVD sejagad dikenal melalui 4 Matra atau Dimensi khas pelayanan di bidang: Pewartaan Sabda, Animasi Misi, JPIC (Justice, Peace, and Integrity of Creation atau Keadilan, Perdamaian, dan Keutuhan Ciptaan), dan Komunikasi Sosial. 

Dalam seminar tersebut saya memaparkan materi berjudul: “Misi Ekologis dalam Perspektif Kimia: Selamatkan Bumi Mulai dari Rumah”. 

Saya secara khusus berbicara tentang Keutuhan Ciptaan yang telah “terluka” akibat prilaku manusia dan menawarkan solusi pemulihannya dengan pendekatan “Green Chemistry atau Kimia Hijau”. 

Baca juga: Opini: Sejarah Media Komunikasi SVD di Indonesia dan Nusa Tenggara Timur

Beberapa poin penting dari pendekatan Green Chemistry yang secara praktis dapat diterapkan dalam konteks ekologi NTT disajikan dalam ulasan berikut.

Nusa Tenggara Timur (NTT) dikenal dengan keindahan alam dan budaya yang kaya makna. Namun, ada kenyataan lain yang tak bisa disembunyikan: sebagian besar wilayah NTT kering, tandus, dan rentan kekeringan. 

Curah hujan rendah, hutan berkurang, dan tanah semakin kritis membuat masyarakat kerap mengalami krisis air bersih, gagal panen, dan kesulitan pakan ternak, kehilangan keanekaragaman hayati, banjir, longsor, kerusakan infrakstuktur, kehilangan sumber pernghidupan, serta perubahan sosial-ekonomi.  

Ketika kita bicara soal krisis lingkungan di NTT, bayangan yang muncul biasanya adalah udara berasap karena pembakaran ladang, sungai keruh penuh sampah, tanah kering dan tandus, serta gunungan sampah pada TPA di sudut-sudut kota. 

Banyak orang berpikir ini sekadar masalah teknis. Kita butuh teknologi canggih untuk mengolah sampah. Kalau ada teknologi canggih, apakah masalah selesai?

Mari kita lihat akar masalah jauh lebih dalam. Krisis ekologis sebenarnya adalah cermin dari cara pandang manusia terhadap alam. 

Sosiolog lingkungan, Riley E. Dunlap dan William R. Catton Jr. (1970-an) memperkenalkan konsep New Ecological Paradigm. 

Menurut mereka, krisis lingkungan muncul karena pola pikir antroposentris—manusia menempatkan diri sebagai pusat, merasa bebas mengeksploitasi alam tanpa memikirkan akibat jangka panjang.

Kalau alam dilihat hanya sebagai “alat produksi”, maka membakar hutan, membuang sampah di sungai, menumpuk sampah di TPA atau membiarakan sampah berserakan, atau memakai pupuk anorganik berlebihan dianggap wajar. 

Meski dampaknya jelas: udara kotor, air tercemar, tanah rusak, sampah tak terkendali. Apakah ini terus dibiarkan?

Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved