Opini

Opini: Pandangan yang Sama

Fokusnya bukan lagi pada dirinya, bukan pada metode baptisan, bukan pada ritual melainkan pada Yesus.

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI ROBERT BALA
Robert Bala 

Ide Homili Inspiratif untuk Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristen, Minggu 18 Januari 2026. 

Oleh: Robert Bala
Diploma Resolusi Konflik Asia Pasifik Universidad Complutense de Madrid. Penulis buku MEMAKNAI BADAI KEHIDUPAN. Penerbit Kanisius Yogyakarta.

POS-KUPANG.COM - Berdoa untuk persatuan umat Kristen di daerah-daerah dengan komposisi Protestan dan Katolik yang hampir seimbang— seperti di NTT, Sulawesi Utara, Sumatera Utara, atau Papua—selalu punya cerita sendiri. 

Di satu sisi, sama-sama Kristen itu seharusnya bikin suasana adem. Tapi di sisi lain, justru karena “sama”, gesekan bisa muncul kalau sedikit saja “digoreng”. 

Beda tata ibadah, beda tradisi, beda kebiasaan—semua bisa jadi bahan perbandingan. 

Baca juga: Opini: Ketika Sekolah Tidak Mengajarkan Literasi Bahaya

Itulah sebabnya Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristen pada hari Minggu 18 Januari 2026 bukan sekadar agenda tahunan, tapi kebutuhan nyata.

Namun, pertanyaan pentingnya: persatuan yang kita doakan itu sebenarnya apa? 

Apakah yang dimaksud bahwa semua gereja harus sama dalam ritual, liturgi, atau cara berdoa? Haruskah kita  seragam supaya bisa disebut bersatu? 

Injil Yohanes 1:29–34 memberi jawaban yang jernih sekaligus menohok terhadap pertanyaan ini. 

Dalam kisah itu, Yohanes Pembaptis sedang jadi pusat perhatian. Banyak orang datang kepadanya, terkesan dengan baptisan air yang ia lakukan. 

Tapi di tengah sorotan itu, Yohanes justru mengalihkan perhatian mereka. 

Ketika Yesus berjalan mendekat, Yohanes berkata, “Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia.” 

Fokusnya bukan lagi pada dirinya, bukan pada metode baptisan, bukan pada ritual melainkan pada Yesus.

Kalau kita tarik ke konteks Pekan Doa untuk Persatuan Umat Kristen, jangan-jangan inilah yang sering terjadi di antara kita. 

Kita terlalu sibuk melihat ke dalam: ke doktrin sendiri, ke tradisi sendiri, ke keunggulan gereja sendiri. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved