Cerpen
Cerpen: Dompet Mama
Di dalam lipatanku yang lusuh tersimpan kebenaran universal: perempuan-perempuan sandwich bukanlah korban keadaan
"Dana, ini rumah kenangan kita..."
"Kenangan tidak akan hilang meski rumahnya dijual. Tapi Nenek bisa hilang kalau tidak dioperasi. Dan aku tidak sanggup kehilangan orang yang kusayang lagi."
Pengembang datang keesokan harinya, menawar 675 juta. Cukup untuk operasi Nenek, modal usaha, dan biaya hidup enam bulan. Malam itu, Dana mengemas barang-barang dengan hati yang berat.
Setiap benda memiliki cerita yang panjang. Album foto yang sudah menguning di sudut-sudutnya, baju sekolah anak-anak yang sudah kekecilan tapi tidak tega dibuang.
Di tembok kamar, masih terlihat jelas coretan-coretan tinggi badan anak-anaknya.
Catatan pertumbuhan yang menjadi saksi berlalunya waktu, bukti bahwa di rumah ini kehidupan terus berjalan dan anak-anak terus tumbuh.
Dana mengambil ponselnya dan memfoto setiap coretan itu dengan teliti, menyimpannya di galeri seperti menyimpan jimat yang paling berharga.
"Rumah baru pasti akan punya tembok baru untuk coretan-coretan baru," bisiknya pada diri sendiri, berusaha meyakinkan hati yang berat.
Pindah ke rumah Nenek seperti melakukan perjalanan waktu mundur. Rumah tua dengan lantai tegel yang dingin, tembok yang merekam kelembaban puluhan tahun, dan aroma obat tradisional yang selalu menguar dari dapur.
Rumah yang penuh dengan bayang-bayang masa lalu, dengan sudut-sudut yang menyimpan cerita keluarga tiga generasi.
"Mama, kapan kita balik ke rumah?" tanya Kiki dengan mata yang berkaca-kaca.
Anak berusia enam tahun yang belum sepenuhnya memahami mengapa mereka harus meninggalkan rumah yang sudah dia anggap sebagai dunianya.
Dana berlutut, menyamakan tinggi badannya dengan anak kecil itu. Matanya menatap mata Kiki dengan kelembutan yang tak terbatas.
"Kiki, tau tidak? Nenek sayang kita, dan kita sayang Nenek. Jadi di mana pun kita tinggal, asalkan ada cinta, di situ rumah kita." Kiki mengangguk pelan.
Usaha catering Dana dimulai dengan pesanan Bu Siti, tetangga sebelah. Nasi kotak untuk arisan, dua puluh porsi. Untung seratus ribu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Dompet-mama.jpg)