Cerpen
Cerpen: Dompet Mama
Di dalam lipatanku yang lusuh tersimpan kebenaran universal: perempuan-perempuan sandwich bukanlah korban keadaan
Telepon berdering. Rina, adik bungsu Dana. "Kak, aku butuh uang praktikum. Dua setengah juta." Aku merasakan getaran halus di tangan Dana.
Getaran keputusasaan bercampur tekad. Sama seperti getaran yang dulu kurasakan dari Mama ketika Dana sendiri meminta uang kuliah.
Saldo rekening: Rp 1.350.000. Transfer ke Rina: Rp 2.500.000. Saldo: minus Rp 1.150.000. Merah.
Warna yang sudah familiar bagiku selama puluhan tahun, warna yang selalu datang di akhir bulan, warna yang menjadi saksi betapa cinta itu memang tidak gratis.
Di sudut yang paling dalam dari lipatanku, tersimpan sebuah origami kecil berbentuk bintang.
Dibuat dari uang seribu rupiah yang sudah kusam, dilipat dengan tangan yang gemetar tapi penuh cinta.
Mama membuatnya di malam terakhirnya, ketika dia tahu bahwa waktu bersamanya dengan keluarga tinggal sedikit.
Dana menemukannya hari ini, membuka lipatan demi lipatan dengan hati-hati seperti membuka surat wasiat yang paling berharga.
Di dalam origami itu, tersembunyi tulisan kecil dengan tinta yang hampir pudar.
"Dana sayang, uang seribu ini adalah uang terakhir yang Mama punya ketika pertama kali gendong kamu di rumah sakit. Mama simpan selama 35 tahun. Bukan karena nilainya, tapi karena dia saksi pertama kali Mama jadi ibu. Mama lipat jadi bintang, karena kamu adalah bintang Mama. Cahaya di malam-malam gelap Mama. Sekarang gantian kamu jadi bintang. Ingat, cinta itu seperti origami—semakin sering dilipat, semakin kuat bentuknya."
Air mata Dana jatuh di atas kertas itu, membasahi tulisan yang sudah pudar. Aku merasakan hangat air mata itu, rasa asinnya, kejujurannya. Air mata yang tidak merusak, tapi membersihkan.
Air mata yang tidak melemahkan, tapi menguatkan. Air mata yang menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan, antara Mama yang sudah tiada dan Dana yang harus melanjutkan estafet cinta.
Keputusan terberat datang seperti hujan badai. Nenek harus operasi. Biaya tiga puluh juta rupiah.
Dana duduk di beranda rumah masa kecilnya, menatap pohon mangga yang ditanam ayahnya dulu.
"Mas," katanya pada suami, "kita jual rumah ini."
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Dompet-mama.jpg)