Opini
Opini: Sastra sebagai Advocatus Diaboli
Sastra secara etimologis berasal dari bahasa Sanskerta, yaitu sas yang berarti mengajar atau memberi petunjuk, dan tra yang berarti alat atau sarana.
Oleh: Berno Jani, S. Fil
Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero
POS-KUPANG.COM - Perkembangan sastra Indonesia telah mencapai suatu tingkat yang signifikan.
Artinya, tidak hanya dari segi kuantitas karya yang tersebar luas di berbagai media cetak dan elektronik, tetapi juga dari kualitas dan kedalaman maknanya.
Perlu diingat bahwa sastra tidak semata-mata berfungsi sebagai ekspresi estetis, tetapi juga sebagai medium reflektif dan kritis terhadap realitas sosial, politik, serta budaya yang melingkupi masyarakat pada umumnya.
Secara historis, sastra Indonesia telah mengalami transformasi dari sastra lama yang berakar pada tradisi Melayu, Sansekerta, dan Jawa Kuno menuju sastra modern yang berorientasi pada semangat nasionalisme dan pembaruan bahasa.
Transformasi ini memungkinkan karya sastra menjadi wahana partisipatif dalam membahasakan dinamika dan penderitaan masyarakat secara kontekstual.
Namun di tengah kemajuan teknologi terdapat tantangan internal, terutama berkaitan dengan instrumentalitas sastra sebagai komoditas ekonomi yang berpotensi menggeser fungsi moralnya.
Fenomena ini menuntut para sastrawan untuk merekonstruksi motivasi dan idealisme mereka agar sastra tetap berperan sebagai agen perubahan yang kritis dan konstruktif atau dengan kata lain sebagai "advocatus diaboli”.
Sastra sebagai Napas Kritik
Sastra secara etimologis berasal dari bahasa Sanskerta, yaitu sas yang berarti mengajar atau memberi petunjuk, dan tra yang berarti alat atau sarana.
Dengan demikian, sastra dipahami sebagai alat untuk mengajar dan memberikan kompas kehidupan.
Dalam perkembangannya, sastra tidak hanya berupa karya tulis yang memiliki keindahan bahasa, tetapi juga merupakan karya seni yang bersifat fiktif dan imajinatif, yang mengandung unsur realitas tertentu.
Sastra menjadi medium pengungkapan pikiran, perasaan, dan nilai-nilai kemanusiaan yang bisa berbeda maknanya tergantung pada pembacanya.
Fungsi sastra sangat beragam, antara lain sebagai pembentuk wawasan baru, pembentuk kepribadian bangsa, serta sarana penyampaian nasihat dan kritik sosial.
Sastra juga berperan sebagai catatan warisan budaya, pengalaman perwakilan tentang tempat dan situasi yang belum pernah dialami pembaca, serta manifestasi ekspresi tekanan batin dan keindahan bahasa.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Berno-Jani1.jpg)