Senin, 27 April 2026

Opini

Opini: Pengetahuan Lokal dari Rumah ke Sekolah

Dengan demikian, maka tak boleh tidak, kita mesti memiliki kesadaran untuk mendalami pengetahuan lokal khas daerah. 

Editor: Dion DB Putra
DOK PRIBADI
Antonius Rian 

Oleh: Antonius Rian
Bergiat di Komunitas Pandu Budaya Lembata, suka mendalami kearifan lokal

POS-KUPANG.COM - Socrates pernah bilang, aku tahu bahwa aku tak tahu yang mau menegaskan bahwa manusia tak boleh merasa cukup dengan pengetahuan yang dimiliki. 

Daya kuriositas tak boleh berhenti di dalam kelas sekolah formal. Tentu ungkapan Socrates tersebut menjadi pemantik bagi kita untuk terus menyalakan obor pengetahuan.

Kita perlu terus belajar, baik melalui buku-buku di sekolah, para guru yang mewariskan ilmu maupun di tempat-tempat lain, termasuk pengetahuan lokal yang diwariskan oleh para leluhur kita yang kini lebih popular disebut kearifan atau pengetahuan lokal.

Setiap daerah tentu memiliki keberagaman pengetahuan lokal khususnya pada aspek bahasa. 

Namun, nilai-nilai universal selalu terhubung dari satu daerah ke daerah lainnya. 

Justru karena nilai-nilai universal inilah, Soekarno dan para bapa bangsa lainnya tak ragu menjadikan Pancasila sebagai filsafat dasar negara Indonesia.

Dalam berbagai sumber, Soekarno selalu menegaskan bahwa nilai-nilai Pancasila sudah lama tertanam bisu dalam budaya-budaya lokal khas daerah di seluruh wilayah Nusantara–Soekarno, Supomo, M. Yamin hanya sebagai penggali nilai-nilai yang tertanam bisu tersebut.

Dengan demikian, maka tak boleh tidak, kita mesti memiliki kesadaran untuk mendalami pengetahuan lokal khas daerah. 

Selain sebagai pengetahuan yang diwariskan secara oral, dengan berkembangnya zaman sudah sepatutnya dipertimbangkan agar pengetahuan-pengetahuan lokal kita mesti direkomendasikan untuk masuk ke sekolah-sekolah di NTT.

Hal ini penting lantaran ada sebuah kecemasan yang muncul bahwa generasi muda (pelajar) sudah mulai jarang mengenal dan memahami pengetahuan lokal daerahnya sendiri sebagai bagian dari identitas diri yang mestinya melekat. 

Dengan hadirnya ponsel pintar, kebiasaan untuk terlibat bersama tetua-tetua yang paham tentang nilai-nilai pengetahuan lokal mulai pudar. 

Hal ini berbahaya, sebab orang NTT selalu mewariskan pengetahuan lokal secara lisan bukan tertulis. 

Jika pengetahuan ini tidak diwariskan secara tertulis di sekolah-sekolah, potensi hilangnya kekayaan budaya lokal kita suatu saat akan masif terjadi.

Kearifan Lokal Masuk Sekolah

Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved