Sabtu, 18 April 2026

Liputan Khusus

LIPSUS: Ibunda Prada Lucky Namo, Saya Hanya Ingin Keadilan 

Air mata dan duka belum kering dari wajah Mama Epi, ibunda dari almarhum Prada Lucky Chepril Saputra Namo, personel Batalyon Infanteri TP 834 WM

|
POS-KUPANG.COM/RAY REBON
PELUK PETI - Sang ibu Sepriana Paulina Mirpey memeluk peti jenazah anaknya Prada Lucky Namo di rumah duka Asrama TNI, Kelurahan Kuanino, Kota Kupang, sebelum dimakamkan pada Sabtu (9/8/2025). 

Ia pun berharap tragedi yang dialami putranya menjadi yang terakhir. “Cukup Lucky saja. Jangan ada lagi Lucky-Lucky lain yang mati bukan di medan perang, tapi di tangan sesama prajurit,” ucapnya.

Di akhir pernyataannya, ia menegaskan bahwa perjuangannya bukan untuk mencari perhatian, tapi demi keadilan. “Saya mohon hukum ditegakkan. Jangan ada lagi anak bangsa yang mati sia-sia seperti ini,” tutupnya sambil mengusap air mata.

Lusi Namo, kakak dari almarhum Prada Lucky mengungkapkan sejumlah informasi terkait dugaan kekerasan yang dialami adiknya sebelum meninggal dunia pada 6 Agustus 2025. Kesaksian itu ia peroleh dari seseorang yang mengaku sebagai pacar salah satu prajurit yang mengirim pesan melalui DM instagram. 

“Pacar prajurit itu bilang bahwa pacarnya pernah mengirim foto yang hanya bisa dilihat sekali. Ia melihat wajah Lucky dan kawannya waktu itu dipukul dan sudah berdarah. Namun, saat daftar nama pacarnya tidak ada dalam beberapa catatan 20 pelaku tersebut," ujarnya Sabtu (8/8). 

Baca juga: Pangdam Udayana Piek Budyakto Janji Proses Hukum Prada Lucky Namo Transparan

Lusi menyebutkan, dugaan kekerasan itu terjadi saat pergantian piket dari Senin hingga Jumat. Di dalam sel, korban dan rekannya tidur di lantai tanpa tempat tidur. “Richard juga kena, tapi yang saya tahu lebih parah Lucky. Saya lihat perutnya ada bekas sepatu dan dugaan saya itu diinjak,” ujarnya.

Lusi menuturkan, beberapa hari sebelum koma, Lucky masih berkomunikasi lewat panggilan video dan terlihat dalam kondisi baik. Ia juga sempat bercerita pernah dipukul senior meski sedang sakit. “Senior pikir dia pura-pura tidak mau kerja di dapur,” kata Lusi.

Kabar masuknya Lucky ke rumah sakit diterima keluarga dari pihak rumah sakit yang diminta tolong oleh almarhum untuk menghubungi orang tuanya di Kupang.   Lusi mengaku terkejut karena selama hidup bersama keluarga, adiknya tidak pernah mengalami sakit parah. 

“Waktu masuk rumah sakit, butuh tiga kantong darah. Selama ini hanya sakit biasa,saat dengar itu saya langsung perasaan tidak enak," ujarnya. 

Ia juga menyayangkan sikap atasan almarhum yang tidak memberikan informasi jelas kepada keluarga.  Bagi Lusi, kepergian Lucky meninggalkan duka mendalam. Sebagai kakak, ia merasa menyesal tidak bisa selalu berada di dekat adiknya. 

“Dia anaknya pergaulan luas, dekat sekali dengan mama. Kami akrab sejak kecil, bahkan dia sempat meminta saya untuk pindah di Nagekeo," kenangnya.

Saat ini keluarga berharap pihak berwenang mengusut tuntas dugaan kekerasan yang dialami Prada Lucky hingga menyebabkan kematiannya. 


*Usut Tuntas

Ratusan pelayat menghadiri prosesi pemakaman Prada Lucky. Ibadah pelepasan berlangsung di rumah duka di Rumah Dinas Asrama Tentara (Asten), Kuanino, Kecamatan Kota Raja, Kota Kupang. 

Prosesi ibadah dipimpin oleh Pendeta Lenni dari Jemaat GMIT Batu Karang Kuanino Kupang. Suasana haru menyelimuti upacara. Di hadapan ratusan pelayat, Otniel selaku perwakilan keluarga menyampaikan permintaan tegas agar pimpinan TNI mengusut tuntas kematian Lucky, yang diduga akibat penganiayaan oleh seniornya.

DANDIM ROTE NDAO- Dandim 1627/Rote Ndao, Letkol Kav Kurnia Santiadi W didampingi istri saat bertemu dengan ayah dan ibu dari almarhum Prada Lucky di rumah duka, Kupang, Jumat, 8 Agustus 2025 malam.
DANDIM ROTE NDAO- Dandim 1627/Rote Ndao, Letkol Kav Kurnia Santiadi W didampingi istri saat bertemu dengan ayah dan ibu dari almarhum Prada Lucky di rumah duka, Kupang, Jumat, 8 Agustus 2025 malam. (POS-KUPANG.COM/HO- )

"Kepada pemimpin tertinggi TNI, usut semua yang ada sampai tuntas. Mereka adalah preman yang berseragam. Preman itu tidak boleh dibiarkan. Mereka ibarat duri dalam daging," ujarnya.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved