Liputan Khusus
LIPSUS: Ibunda Prada Lucky Namo, Saya Hanya Ingin Keadilan
Air mata dan duka belum kering dari wajah Mama Epi, ibunda dari almarhum Prada Lucky Chepril Saputra Namo, personel Batalyon Infanteri TP 834 WM
POS-KUPANG.COM, KUPANG - Air mata dan duka belum kering dari wajah Mama Epi, ibunda dari almarhum Prada Lucky Chepril Saputra Namo, personel Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan 834/Wakanga Mere Nagekeo.
Di tengah luka yang belum sembuh, ia membuka suara dengan satu harapan yang tak tergoyahkan yakni keadilan bagi putranya yang diduga menjadi korban penganiayaan berat hingga meninggal dunia saat menjalankan tugas sebagai prajurit TNI.
Dalam wawancara eksklusif dengan Pos Kupang pada Jumat (8/8) di kediamannya, mama Epi mengisahkan kembali rentetan peristiwa menyakitkan yang ia alami sejak komunikasi terakhir dengan anaknya hingga ia melihat langsung tubuh Lucky terbaring koma dengan ventilator di ruang ICU.
“Terlalu banyak kejanggalan. Kalau memang mereka tahu dia sakit, kasih tahu orang tua. Tapi kenapa HP anak saya ditahan? Kenapa dia tidak bisa komunikasi sama saya sama sekali?” ujar Mama Epi.
Ia menceritakan, selama anaknya sakit, ia terus mencoba menghubungi, namun tak satu pun pesan mendapat balasan.
Baca juga: Ayah Prada Lucky di Hadapan Pangdam Udayana, Duga ada Manipulasi Laporan Medis
"Komunikasi terakhir itu saat saya WA terus dia mungkin yang pegang HP lihat akhirnya kasih kesempatan lucky bicara. Saat itu hanya via telpon suara tetapi saya rasa lain dengar suaranya tapi saya belum curiga," ujarnya.
Menurut keterangan mama Epi saat percakapan itu lucky mengatakan keadaan baik-baik saja dan meminta dirinya datang ke Nagekeo.
Informasi bahwa Lucky dalam kondisi kritis justru datang dari pihak rumah sakit dan mama angkat Lucky yang sudah tidak bisa melihat Lucky di Batalyon. Jadi bukan dari pihak satuan.
“Tubuhnya penuh luka. Saya dengar dia disiksa, dicambuk menggunakan selang oleh beberapa oknum seniornya sebelum dia masuk rumah sakit. Saat itu dia masih komunikasi video call dengan saya di rumah mama iren (mama angkat)," ungkapnya.
Dalam kondisi khawatir, Mama Epi langsung berangkat ke Nagekeo dan mendatangi RSUD Aeramo. Di sana, ia mendapati Lucky dalam keadaan koma. "Saya masuk di dalam ruangan itu lihat kondisi anak saya sudah koma dan dipasang ventilator," ungkap mama Epi.
Mama Epi menghampiri anaknya dan memeluk anaknya penuh haru. “Saya bisik di telinganya, Lucky mama datang nak. Dia langsung berontak, dia dengar suara saya,” ujarnya sambil mengusap air mata.
Baca juga: Viral NTT, Potret Diduga Tersangka Tewasnya Prada Lucky Picu Amarah Netizen
Hasil pemeriksaan medis menunjukkan kerusakan pada paru-paru dan ginjal Lucky, yang diduga kuat akibat luka memar akibat penganiayaan. “Itu bukan sakit biasa, itu karena penganiayaan,” tegasnya.
Mama Epi juga menyebut sejumlah nama yang diduga terlibat dalam kasus ini. Termasuk seorang anggota intelijen yang memegang ponsel Lucky dan dinilai menghalangi komunikasi keluarga. “Ini bukan lagi pembinaan. Ini penyiksaan. Ini pembunuhan. Saya tahu tradisi militer, tapi ini bukan bagian dari itu,” tegas Mama Epi.
Dalam kesempatan itu, ia mengenang anaknya Lucky sebagai sosok yang baik hati, penyayang, dan peduli terhadap sesama. “Dia sering bagi makanan ke anak-anak kecil, bantu orang jualan kue. Anak saya itu baik, semua orang tahu,” kenangnya.
Sebagai bentuk perjuangannya, Mama Epi mendesak agar para pelaku dihukum setimpal, bahkan menuntut hukuman mati bagi pelaku utama. “Saya serahkan anak saya ke negara, bukan untuk dipukuli sampai mati. Kalau anak saya punya salah, dia bisa diproses hukum. Tapi sekarang dia sudah jadi mayat yang harus diproses itu pelakunya,” ujar Mama Epi dengan suara bergetar.
Prada Lucky Tewas Dianiaya Senior
Prada Lucky Namo
Yonif TP 834/WM
POS-KUPANG.COM
Lipsus
Liputan Khusus
| LIPSUS: Pembelian BBM 50 Liter Sehari, Kendaraan Antri di SPBU, Dipicu Isu Kenaikan Harga BBM |
|
|---|
| LIPSUS: Suster Ika Sedih Lepas 12 LC, Gubernur KDM Jemput ke Maumere Carter Pesawat Susi Air |
|
|---|
| LIPSUS: Melki dan Johni Siap Terima Kritik, Sudah Setahun Memimpin Provinsi NTT |
|
|---|
| LIPSUS: PIP Rp 5 Miliar Gagal Dicairkan untuk 6.334 Siswa Ngada, Tuding Pihak Perbankan Persulit |
|
|---|
| LIPSUS: Orangtua Firjun Lima Tahun tak Dapat PKH, Perbankan Jangan Hambat Pencairan PIP |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Sepriana-Paulina-Mirpey-Ibu-dari-Prada-Lucky-Namo.jpg)