Kamis, 11 Juni 2026

Liputan Khusus

LIPSUS: Driver Ojol Beralih ke Pertalite, Pemerintah Naikan Harga BBM

Driver ojek online (ojol) Grab dan Maxim di Sumba Timur, NTT kaget mendengar harga BBM nonsubsidi Pertamax yang mengalami kenaikan

Tayang:
POS-KUPANG.COM/IRFAN HOI
ISI BBM - Seorang petugas SPBU di Kelurahan Lasiana Kota Kupang sedang mengisi BBM jenis Pertamax pada salah satu kendaraan roda dua, Rabu, (10/6/2026). 

Ringkasan Berita:
  • Sejumlah driver ojek online (ojol) Grab dan Maxim di Sumba Timur, NTT kaget mendengar harga BBM nonsubsidi Pertamax yang mengalami kenaikan secara tiba-tiba.
  • Kristianus Umbu Tay (35) dan John T. Jama (30) mengatakan, perubahan harga bahan bakar minyak tersebut semakin memberatkan kehidupan mereka di tengah kondisi ekonomi yang sulit.  
  • “Kita sangat terdampak. Kenaikan harga ini sangat mempengaruhi pendapatan kita yang tidak menentu,” kata John kepada Pos Kupang, Rabu (10/6).

 

POS-KUPANG.COM, WAINGAPU - Sejumlah driver ojek online (ojol) Grab dan Maxim di Sumba Timur, NTT kaget mendengar harga BBM nonsubsidi Pertamax yang mengalami kenaikan secara tiba-tiba.

Kristianus Umbu Tay (35) dan John T. Jama (30) mengatakan, perubahan harga bahan bakar minyak tersebut semakin memberatkan kehidupan mereka di tengah kondisi ekonomi yang sulit.  

“Kita sangat terdampak. Kenaikan harga ini sangat mempengaruhi pendapatan kita yang tidak menentu,” kata John kepada Pos Kupang, Rabu (10/6).

John, pria asal Kecamatan Tabundung ini, telah bekerja sebagai driver ojol Maxim selama satu tahun. Ia mengaku, pekerjaan sebagai driver aplikasi yang identik dengan warna kuning itu merupakan pekerjaan utamanya saat ini.

Sejak menjadi driver Maxim dengan Honda Beat terbarunya, ia menggunakan BBM jenis Pertamax. Ia jarang menggunakan Pertalite. Pilihan itu, kata dia, untuk memastikan kendaraannya tetap awet.

Namun karena kenaikan harga Pertamax dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter, kini ia mulai berpikir untuk beralih menggunakan BBM subsidi itu. Jika memaksa memakai Pertamax harga terbaru, tidak ada lagi uang yang bisa disimpannya. 

Pendapatan tambahnya, akhirnya habis untuk mengisi BBM. “Sekarang pikir-pikir untuk isi Pertamax lagi. Pendapatan kita ini tidak pasti. Mau simpan berapa kalau minyak naik terus,” ujarnya.

Ia berharap, pemerintah menurunkan kembali harga Pertamax tersebut. Pemerintah seharusnya menyesuaikan kebijakan kenaikan harga BBM dengan kondisi ekonomi masyarakat sedang sulit. Harga barang naik dan semakin susah mendapatkan uang. 

Hal yang sama disampaikan Kristianus Umbu Tay (35). Ia mengeluh dengan kenaikan harga BBM jenis Pertamax itu. Sebagai driver Grab, ia mengatakan, keuntungan yang diterima tidak banyak. 

Saat ini ia dikenakan potongan atau komisi antara 10 persen hingga 20 persen dari tarif perjalanan yang dibayarkan penumpang. “Kita dapat berapa sekarang? Belum pemotongan aplikasi,” ujarnya mengeluh.

Baginya, kenaikan harga Pertamax ini sangat memberatkan. Selain potongan aplikasi, ia juga harus mengeluarkan biaya untuk membeli oli motor dan pulsa harian untuk aplikasi. “Berat sekali Rp16.250 ini. Kita terpaksa akan lari ke Pertalite,” ujarnya.

Ia pun berharap pemerintah bisa menurunkan harga BBM nonsubsidi Pertamax tersebut. “Harapan saya, kalau bisa diturunkan lagi. Kasihan juga kita ini, kita ini driver, pasti butuh bahan bakar terus,” tutupnya.

Kristianus dan John memilih menggunakan Pertamax bukan untuk gagah-gagahan. Pilihan itu demi kebutuhan mekanis motor baru yang mereka gunakan. Dengan menggunakan Pertamax pada motor baru merupakan bagian dari investasi jangka panjang agar mesin motor tetap awet dan performanya terjaga.

Sementara itu, Demus Ardika, seorang pengendara Maxim lainnya, meyakini kenaikan tersebut semakin menyusahkan pengendara yang memikili sepeda motor atau mobil yang berpelat luar daerah.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved