Opini
Opini: Literasi Keuangan sebagai Benteng Gen Z Terbebas dari Jeratan Perilaku Doom Spending
Fenomena Doom Spending tidak dapat semata-mata dianggap sebagai tindakan konsumtif yang boros dan tidak berarti.
Perilaku Doom Spending juga mengakibatkan Generasi Z sulit untuk memiliki tabungan dan investasi. Pengeluaran impulsif akibat Doom Spending dapat menghambat kemampuan Gen Z dalam menyisihkan uang untuk tabungan atau investasi.
Kebiasaan mengutamakan kepuasan instan membuat banyak dari mereka mengabaikan pentingnya perencanaan keuangan jangka panjang, seperti dana darurat, biaya pendidikan, atau persiapan masa depan lainnya.
Selain itu, perilaku Doom Spending ditakutkan akan mengakibatkan stress keuangan dalam jangka waktu panjang. Dampak emosional akibat Doom Spending kerap muncul tanpa disadari.
Saat Gen Z mulai menyadari kondisi keuangan mereka memburuk, perasaan stres, cemas, hingga rasa bersalah pun muncul.
Tekanan psikologis ini justru membuat mereka makin kesulitan dalam mengatur keuangan, sehingga terjebak dalam pola masalah finansial yang terus berulang.
Literasi Keuangan Sebagai Benteng Dari Jeratan Perilaku Doom Spending
Di tengah gempuran iklan digital, budaya konsumtif, dan kemudahan akses ke layanan keuangan instan seperti paylater dan pinjaman daring, generasi Z menghadapi tantangan serius dalam mengelola keuangannya.
Doom Spending merupakan ancaman bagi kesehatan finansial dikalangan generasi Z.
Tanpa disadari, kebiasaan ini bisa menjerumuskan mereka ke dalam jebakan utang dan menggerus masa depan finansial.
Di sinilah pentingnya literasi keuangan. Saya percaya, literasi keuangan yang kuat dapat menjadi benteng perlindungan bagi Gen Z dari perilaku konsumtif yang merugikan ini.
Bukan sekadar tahu cara menabung atau membuat anggaran, literasi keuangan membentuk pola pikir rasional dalam mengelola uang memahami perbedaan antara kebutuhan dan keinginan, menyadari risiko utang konsumtif, serta memiliki kesadaran untuk merencanakan masa depan secara matang.
Secara ilmiah, studi dari Lusardi dan Mitchell (2014) menegaskan bahwa individu yang memiliki pemahaman keuangan yang baik lebih mampu membuat keputusan finansial yang cermat, termasuk menghindari pembelian impulsif dan pengambilan utang yang tidak produktif.
Di sisi lain, literasi keuangan juga terbukti berkontribusi dalam meningkatkan kesehatan mental dan ketahanan emosional, karena mereka yang mampu mengelola keuangan dengan baik cenderung memiliki tingkat stres finansial yang lebih rendah.
Tanpa bekal literasi keuangan, Gen Z akan terus menjadi sasaran empuk strategi pemasaran digital dan tekanan sosial yang mendorong konsumsi berlebihan.
Oleh karena itu, pendidikan keuangan perlu diintegrasikan secara serius ke dalam kurikulum sekolah dan perguruan tinggi, serta didukung oleh media dan kampanye publik yang ditujukan kepada generasi muda.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Retno-Hernawati.jpg)