Rabu, 29 April 2026

Opini

Opini: Literasi Keuangan sebagai Benteng Gen Z Terbebas dari Jeratan Perilaku Doom Spending

Fenomena Doom Spending tidak dapat semata-mata dianggap sebagai tindakan konsumtif yang boros dan tidak berarti. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
POS-KUPANG.COM/HO-DOK PRIBADI
Retno Hernawati 

Jika upaya ini tidak dimulai sejak sekarang, perilaku Doom Spending berpotensi menjadi "bom waktu" yang mengancam kestabilan keuangan generasi di masa depan.

Langkah pertama yang krusial adalah memasukkan literasi keuangan ke dalam kurikulum sekolah dan perguruan tinggi. 

Di tingkat sekolah dasar hingga menengah, siswa dapat diperkenalkan pada konsep sederhana seperti menabung, mengatur uang jajan, atau membedakan kebutuhan dan keinginan. 

Materi ini dapat dikemas dalam mata pelajaran seperti IPS atau Matematika. 

Di perguruan tinggi, kampus bisa menyelenggarakan mata kuliah literasi keuangan praktis yang membahas manajemen anggaran, investasi pemula, hingga simulasi pengelolaan utang mahasiswa. 

Belajar keuangan tak harus kaku, belajar keuamgan dapat dilakukan melalui  proyek membuat anggaran, tantangan menabung, atau studi kasus nyata dapat membuat materi lebih hidup dan aplikatif. 

Selain pendidikan formal, media massa dan media sosial memiliki peran strategis dalam menyebarluaskan pesan literasi keuangan

Platform seperti TikTok, YouTube, dan Instagram seharusnya tak hanya dipenuhi konten hiburan dan tren konsumsi, tetapi juga edukasi yang ringan dan relevan. 

Misalnya, video pendek tentang cara mengelola paylater, tips menabung harian, atau penjelasan dampak utang konsumtif bisa menjadi konten yang viral sekaligus mendidik. 

Kolaborasi dengan influencer keuangan juga penting agar pesan lebih mudah diterima oleh audiens muda. 

Rubrik keuangan anak muda di media cetak dan program televisi edukatif pun harus terus diperkuat. Tak kalah penting, kampanye publik harus hadir secara berkelanjutan. 

Pemerintah dan lembaga keuangan seperti OJK dan Bank Indonesia perlu aktif menggelar program literasi keuangan dalam berbagai bentuk: seminar di sekolah, pelatihan komunitas, lomba video kreatif, hingga penyebaran infografis di ruang publik. 

Bahkan penggunaan aplikasi edukatif atau game simulasi pengelolaan keuangan bisa menjadi alternatif yang efektif dan menarik bagi generasi digital.

Membangun literasi keuangan bukan pekerjaan instan. Ia membutuhkan komitmen kolektif dari dunia pendidikan, media, dan lembaga negara. 

Namun jika dilakukan secara konsisten dan kontekstual, generasi Z akan memiliki bekal yang cukup untuk menghindari jebakan Doom Spending dan membangun masa depan finansial yang lebih sehat. 

Sebab literasi keuangan sejatinya bukan hanya soal mengelola uang, tapi juga tentang menjaga kendali atas hidup di tengah dunia yang terus menuntut untuk konsumtif. (*)

Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News

 

Halaman 3/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved