Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik Rabu 21 Mei 2025, "Buah Bermutu Layak Masuk Dalam Lumbung Allah"

Sebagai pengusaha, Allah begitu baik, Ia merawat kita yang menjadi bagian integral dari pokok anggur Yesus Putra Kekasih-Nya.

Editor: Eflin Rote
POS-KUPANG.COM/HO
Pater Fransiskus Funan Banusu SVD 

BUAH BERMUTU LAYAK MASUK DALAM  LUMBUNG ALLAH
Oleh: Pater Fransiskus Funan Banusu SVD
(Kis 15:1-6; Mzm 122:1-2.3-4a.4b-5; Yoh 15:1-8)

"Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusaha-Nya." (Yoh  15:1). Sebagai pokok anggur yang benar, kehadiran Yesus adalah tanda berkat yang besar  bagi kita yang percaya pada-Nya. Yesus datang untuk mengeliminir pokok kesesatan yang membawa kebinasaan. Maka pokok induk keselamatan kita ialah Yesus Kristus Anak Allah.

Setiap petani berupaya supaya tanaman dalam kebunnya berbuah baik, banyak dan bermutu. Maka pelbagai cara ia tempuh untuk panenan yang memuaskan.

Demikian juga Allah sebagai pengusaha kebun anggur manusia yang bersatu dengan Yesus Putra-Nya menghendaki agar ada buah anggur berkualitas tinggi, kezat dan layak bagi lumbung kerajaan-Nya. Kita adalah ranting anggur yang melekat pada pokok yaitu Yesus. 

Sebagai pengusaha, Allah begitu baik, Ia merawat kita yang menjadi bagian integral dari pokok anggur Yesus Putra Kekasih-Nya.

Ketika kita semakin lengket dengan pokok dan terawat baik melalui Sabda Yesus, buah hidup kita sudah pasti bermutu baik dan menjadi sumber sukacita yang besar bagi Yesus sendiri dan Allah Bapa sebagai pengusaha-Nya

Yesus menegaskan kebenaran itu dalam firman kudus-Nya, "Dalam hal ini Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak, dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku." (Yoh 15:8).

Kita berakar pada Sabda Tuhan, membaca dan merenungkannya senantiasa, maka Sabda itu akan membersihkan kita dari kesombongan yang menjadi sumber segala buah busuk dalam hidup, dan membuat kita semakin rendah hati yang menjadi induk dari segala buah kebaikan dalam hidup kita.

Tidak hanya buah busuk yang terbuang tetapi ranting itu pun akan dipotong lalu dibuang ke dalam api. 

Para rasul dalam karya pewartaan pun tak pernah berpisah dari Yesus yang mengutus mereka. Mereka tidak hanya bersatu dengan Sang Guru tetapi di antara mereka sebagai rasul - murid-murid Tuhan pun hidup dalam persaudaraan sejati.

Kendala apa pun yang dialami selalu saja dipecahkan bersama demi target keselamatan sebagaimana yang dikehendak Allah dalam Kristus.

Masalah sunat bagi yang bukan Yahudi. Musa mewariskan sunat sebagai media keselamatan. Maka sunat jadi budaya, tradisi orang Yahudi. Tradisi atau budaya tertentu berlaku terbatas untuk kelompok tertentu pula. Keselamatan tidak ditentukan oleh tradisi tetapi oleh iman akan Allah dalam Yesus Anak-Nya. Iman demikian bersifat universal.

Sunat fisik tidak menjadi sarana keselamatan. Sunat hati yaitu pertobatan mendatangkan keselamatan. Maka sikap Paulus dan Barnabas itu tepat yakni menolak sunat sebagai alat ukur keselamatan  bagi semua orang (Kis 15:2). Masalah ini dibawah dalam sidang bersama untuk memperoleh kebenarannya sesuai Sabda Tuhan dan kehendak Allah sendiri.

Buah keselamatan datang dari iman akan Anak Allah. Dengan demikian Pemazmur pun bermadah, "Aku bersukacita, ketika orang berkata kepadaku, "Mari kita pergi ke rumah Tuhan."

Sekarang kaki kami berdiri di pintu gerbangmu, hai Yerusalem." (Mzm 122:1-2). Allah adalah pokok utama hidup dan keselematan kita. Yesus pun sama, maka Ia menyebut Diri-Nya pokok anggur yang memberi makan kepada cabang-cabang yang tumbuh dari pada-Nya.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved