Opini

Opini: Apa yang Salah dengan Hitam?

Indonesia adalah salah satu negara yang masyarakatnya sering berada dalam lingkaran setan rasisme. 

Editor: Dion DB Putra
DOK PRIBADI
Antonius Rian 

Cara pandang seperti ini harus kita wartakan kepada dunia. Kedua, kita juga mesti mengubah konsep hitam yang disinonimkan dengan hal-hal yang negatif.

Sudah seharusnya yang hitam diidentikan dengan orang yang baik, toleran, masih punya budaya sopan santun dan menghargai perbedaan, punya kualitas otak yang bagus karena rajin membaca buku dan sekolah yang serius, masih menjaga alam sebagai penopang kehidupan dunia dan hal-hal positif lainnya.

Yang tak kalah penting yakni kita juga mengubah kebiasaan buruk, misalnya mabuk-mabukan dan membuat onar di tempat umum, premanisme. 

Artinya rasisme bisa hilang dengan sendirinya jika kita juga mengubah tingkah laku kita yang mengganggu keharmonisan sosial. 

Jika orang menganggap yang dari Timur punya kemampuan intelektual lemah, maka kita mesti mengubahnya dengan menunjukkan bahwa kita bisa menjadi pemikir hebat, kita bisa menyumbang wawasan kita untuk Indonesia dan dunia.

Jika kata hitam diteriakkan saat pertandingan bola kaki, maka kita buktikan bahwa kita juga bisa bersaing secara sportif dalam dunia olahraga. 

Itulah beberapa contoh yang bisa menjadi daya dorong untuk mewujudkan diri kita sebagai manusia otentik bukan kosmetik. 

Kita melawan rasisme bukan dengan rasisme melainkan dengan menampilkan kualitas diri kita mulai dari pikiran sampai pada tindakan kita.

Ketiga, rasisme juga akibat dari ketidakadilan sistem. Hal ini menurut saya lahir dari negara. 

Orang dari Timur seringkali mendapat ujaran rasisme sebagai orang terbelakang dan belum maju karena infrastruktur jalan, kualitas pendidikan dan seterusnya. 

Contoh yang terakhir ini adalah akibat dari ketidakadilan negara. Karena itu, negaralah yang harus mengubahnya. 

Orang Indonesia Timur juga butuh keberpihakan negara yang lebih adil bukan hanya Jakarta! (*)

Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News 

 

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved