Opini
Opini: Apa yang Salah dengan Hitam?
Indonesia adalah salah satu negara yang masyarakatnya sering berada dalam lingkaran setan rasisme.
Oleh: Antonius Rian
Ketua Pandu Budaya Lembata - NTT
POS-KUPANG.COM - Dalam sebuah fakta sosial yang penuh dengan perbedaan partikular, khususnya etnis sangat mudah melahirkan rasisme.
Cara pikir yang mengangap etnis tertentu lebih rendah (etnosentrisme) atau orang dengan warna kulit tertentu dicap sebagai yang belum beradab, bodoh, belum maju secara intelektual, masih hidup di hutan dan karena itu pantas direndahkan.
Indonesia adalah salah satu negara yang masyarakatnya sering berada dalam lingkaran setan rasisme.
Jika Anda menyaksikan pertandingan bola kaki terbaru pada putaran liga 4 nasional antara salah satu tim dari NTT melawan tim dari Jawa, di situ kita menemukan dengan jelas ada ujaran rasisme. Ada suporter yang dengan enteng berteriak: “hitam, hitam, hitam.”
Apa yang salah dengan hitam? Menanggapi pertanyaan seperti ini, kita mesti kembali memeriksa cara berpikir kita tentang sebuah kebiasaan yang salah.
Sudah menjadi fakta yang dianggap benar bahwa orang yang lahir dengan kulit hitam dan rambut keriting, sering mendapat diskriminasi.
Orang berkulit hitam dianggap sarkas, terbelakang, belum maju dan seterusnya.
Tak hanya demikian, Anda barangkali pernah mendengar dalam ajaran agama-agama yang seringkali menggunakan Bahasa atau kata hitam diidentikan dengan dosa, noda dan kotor.
Sebaliknya kata putih diidentikkan dengan suci, bersih dan murni. Dalam konteks rasisme, sejarah dunia mencatat bahwa patologi sosial sering disebabkan oleh ekspresi rasisme.
Orang-orang dari bangsa atau negara tertentu yang berkulit putih misalnya menganggap yang berkulit hitam sebagai orang yang layak mendapat diskriminasi, menjadi budak yang termarginalisasi. Itulah rasisme.
Ubah Konsep Rasisme
Rasisme adalah konsep atau cara berpikir kita yang salah tentang manusia yang lahir dalam fakta keberagaman.
Orang berkulit hitam sering menjadi korban rasisme. Apa yang salah dengan hitam? Yang salah adalah konsep kita tentang perbedaan.
Taman yang dipenuhi bunga dengan warna yang berbeda termasuk warna hitam akan dilihat indah. Namun, mengapa orang yang lahir dalam fakta sosial budaya tertentu apalagi berkulit hitam dilihat mengganggu peradaban?
Justru karena itu, yang harus diubah adalah konsep kita tentang hitam atau tentang orang yang berkulit hitam.
Pada suatu zaman yang berlalu, segala sesuatu selalu Eropasentris, orang dari barat menilai kita yang di timur sebagai yang terbelakang dan menakutkan.
Walaupun sudah berlalu, rasisme atau kesalahan cara pandang ini juga seringkali terjadi pada dunia sekarang–Indonesia termasuk.
Roh Bhineka Tunggal Ika sepertinya hanya menjadi slogan palsu ketika rasisme masih bertumbuh. Bahkan lebih buruk, orang-orang dari suku tertentu disinonimkan dengan nama binatang tertentu.
Padahal sebagai negara yang mayoritas masyarakatnya percaya pada Tuhan sebagai pencipta manusia, rasisme mestinya dilihat sebagai perbuatan melawan Tuhan sebagai kreator pertama.
Esensi setiap orang sebagai manusia tidak bisa direduksi dengan melihat eksistensinya.
Misalnya, walaupun ia berkulit hitam, ia punya keterbatasan fisik, ia dari NTT atau Papua tetapi esensinya ia adalah manusia. Konsep tentang manusia mesti menjadi titik tolak melawan rasisme.
Kemudian, kita juga mesti mengubah kata hitam yang selalu disinonimkan dengan noda, dosa, bodoh, sarkas atau kotor.
Kesalahan konsep seperti ini, menurut saya merupakan bentuk dari rasisme sejak dalam pikiran. Cara pandang kita tentang warna kulit hitam, walaupun belum diekspresikan sudah menjadi bentuk dari rasisme itu sendiri.
Mengapa hitam selalu harus lebih rendah dari putih? Mengapa tidak disebut saja bahwa warna merah disinonimkan dengan kotor, buruk, terbelakang dan seterusnya agar kita bisa adil melihat sesama manusia yang berkulit hitam.
Padahal, kopi adalah minuman yang sangat sehat dan memberi inspirasi bagi para pemikir dan penulis, padahal manusia termasuk yang kulit putih tercipta dari tanah, padahal tanah yang memberikan kehidupan bagi manusia berwarna hitam, padahal rambut yang membuat manusia dipandang indah berwarna hitam, padahal hujan selalu berawal dari mendung.
Lantas, mengapa kita selalu mendiskreditkan warna hitam dan mengagungkan warna putih? Inilah yang menurut saya rasisme sudah ada sejak dalam pikiran kita sebagai akibat dari konsep yang salah.
Oleh karena itu, selain mengubah konsep, kita juga mesti memetik inspirasi dari fakta rasisme.
Misalnya, dalam konteks kita di Indonesia Timur yang rata-rata berkulit hitam dan rambut keriting mesti melawan konsep rasisme. Dengan cara apa?
Pertama, kita mesti memandang bahwa esensi sebagai manusia tidak bisa direduksi dengan eksistensinya. Ia tetap manusia walaupun ia lahir sebagai orang NTT, Afrika atau Papua.
Cara pandang seperti ini harus kita wartakan kepada dunia. Kedua, kita juga mesti mengubah konsep hitam yang disinonimkan dengan hal-hal yang negatif.
Sudah seharusnya yang hitam diidentikan dengan orang yang baik, toleran, masih punya budaya sopan santun dan menghargai perbedaan, punya kualitas otak yang bagus karena rajin membaca buku dan sekolah yang serius, masih menjaga alam sebagai penopang kehidupan dunia dan hal-hal positif lainnya.
Yang tak kalah penting yakni kita juga mengubah kebiasaan buruk, misalnya mabuk-mabukan dan membuat onar di tempat umum, premanisme.
Artinya rasisme bisa hilang dengan sendirinya jika kita juga mengubah tingkah laku kita yang mengganggu keharmonisan sosial.
Jika orang menganggap yang dari Timur punya kemampuan intelektual lemah, maka kita mesti mengubahnya dengan menunjukkan bahwa kita bisa menjadi pemikir hebat, kita bisa menyumbang wawasan kita untuk Indonesia dan dunia.
Jika kata hitam diteriakkan saat pertandingan bola kaki, maka kita buktikan bahwa kita juga bisa bersaing secara sportif dalam dunia olahraga.
Itulah beberapa contoh yang bisa menjadi daya dorong untuk mewujudkan diri kita sebagai manusia otentik bukan kosmetik.
Kita melawan rasisme bukan dengan rasisme melainkan dengan menampilkan kualitas diri kita mulai dari pikiran sampai pada tindakan kita.
Ketiga, rasisme juga akibat dari ketidakadilan sistem. Hal ini menurut saya lahir dari negara.
Orang dari Timur seringkali mendapat ujaran rasisme sebagai orang terbelakang dan belum maju karena infrastruktur jalan, kualitas pendidikan dan seterusnya.
Contoh yang terakhir ini adalah akibat dari ketidakadilan negara. Karena itu, negaralah yang harus mengubahnya.
Orang Indonesia Timur juga butuh keberpihakan negara yang lebih adil bukan hanya Jakarta! (*)
Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News
Opini: Prada Lucky dan Tentang Degenerasi Moral Kolektif |
![]() |
---|
Opini: Drama BBM Sabu Raijua, Antrean Panjang Solusi Pendek |
![]() |
---|
Opini: Kala Hoaks Menodai Taman Eden, Antara Bahasa dan Pikiran |
![]() |
---|
Opini: Korupsi K3, Nyawa Pekerja Jadi Taruhan |
![]() |
---|
Opini: FAFO Parenting, Apakah Anak Dibiarkan Merasakan Akibatnya Sendiri? |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.