Opini
Opini: Apa yang Salah dengan Hitam?
Indonesia adalah salah satu negara yang masyarakatnya sering berada dalam lingkaran setan rasisme.
Justru karena itu, yang harus diubah adalah konsep kita tentang hitam atau tentang orang yang berkulit hitam.
Pada suatu zaman yang berlalu, segala sesuatu selalu Eropasentris, orang dari barat menilai kita yang di timur sebagai yang terbelakang dan menakutkan.
Walaupun sudah berlalu, rasisme atau kesalahan cara pandang ini juga seringkali terjadi pada dunia sekarang–Indonesia termasuk.
Roh Bhineka Tunggal Ika sepertinya hanya menjadi slogan palsu ketika rasisme masih bertumbuh. Bahkan lebih buruk, orang-orang dari suku tertentu disinonimkan dengan nama binatang tertentu.
Padahal sebagai negara yang mayoritas masyarakatnya percaya pada Tuhan sebagai pencipta manusia, rasisme mestinya dilihat sebagai perbuatan melawan Tuhan sebagai kreator pertama.
Esensi setiap orang sebagai manusia tidak bisa direduksi dengan melihat eksistensinya.
Misalnya, walaupun ia berkulit hitam, ia punya keterbatasan fisik, ia dari NTT atau Papua tetapi esensinya ia adalah manusia. Konsep tentang manusia mesti menjadi titik tolak melawan rasisme.
Kemudian, kita juga mesti mengubah kata hitam yang selalu disinonimkan dengan noda, dosa, bodoh, sarkas atau kotor.
Kesalahan konsep seperti ini, menurut saya merupakan bentuk dari rasisme sejak dalam pikiran. Cara pandang kita tentang warna kulit hitam, walaupun belum diekspresikan sudah menjadi bentuk dari rasisme itu sendiri.
Mengapa hitam selalu harus lebih rendah dari putih? Mengapa tidak disebut saja bahwa warna merah disinonimkan dengan kotor, buruk, terbelakang dan seterusnya agar kita bisa adil melihat sesama manusia yang berkulit hitam.
Padahal, kopi adalah minuman yang sangat sehat dan memberi inspirasi bagi para pemikir dan penulis, padahal manusia termasuk yang kulit putih tercipta dari tanah, padahal tanah yang memberikan kehidupan bagi manusia berwarna hitam, padahal rambut yang membuat manusia dipandang indah berwarna hitam, padahal hujan selalu berawal dari mendung.
Lantas, mengapa kita selalu mendiskreditkan warna hitam dan mengagungkan warna putih? Inilah yang menurut saya rasisme sudah ada sejak dalam pikiran kita sebagai akibat dari konsep yang salah.
Oleh karena itu, selain mengubah konsep, kita juga mesti memetik inspirasi dari fakta rasisme.
Misalnya, dalam konteks kita di Indonesia Timur yang rata-rata berkulit hitam dan rambut keriting mesti melawan konsep rasisme. Dengan cara apa?
Pertama, kita mesti memandang bahwa esensi sebagai manusia tidak bisa direduksi dengan eksistensinya. Ia tetap manusia walaupun ia lahir sebagai orang NTT, Afrika atau Papua.
Opini: Prada Lucky dan Tentang Degenerasi Moral Kolektif |
![]() |
---|
Opini: Drama BBM Sabu Raijua, Antrean Panjang Solusi Pendek |
![]() |
---|
Opini: Kala Hoaks Menodai Taman Eden, Antara Bahasa dan Pikiran |
![]() |
---|
Opini: Korupsi K3, Nyawa Pekerja Jadi Taruhan |
![]() |
---|
Opini: FAFO Parenting, Apakah Anak Dibiarkan Merasakan Akibatnya Sendiri? |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.