Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik Senin 12 Mei 2025, "Kepenuhan Hidup Dalam Tuhan: Damai dan Sukacita Sejati"

Mencerna perkataan Tuhan tidak terlalu mudah untuk dimengerti. Penyerahan diri untuk dibimbing oleh Roh Tuhan membantu membuka

Editor: Eflin Rote
POS-KUPANG.COM/HO
Pater Fransiskus Funan Banusu SVD 

KEPENUHAN HIDUP DALAM TUHAN: DAMAI DAN SUKACITA SEJATI
Pater Fransiskus Funan Banusu SVD
(Kis 11:1-18; Mzm 42:2-3;43:3.4; Yoh 10:1-10)

"Aku datang supaya mereka mempunyai hidup dan mempunyainya dalam kelimpahan." (Yoh 10:10b). Manusia memiliki kebutuhan selain fisik juga kebutuhan rohani. Tuhan katakan, "Carilah dahulu Kerajaaan Allah dan semua akan diberikan kepadamu."

Mencerna perkataan Tuhan tidak terlalu mudah untuk dimengerti. Penyerahan diri untuk dibimbing oleh Roh Tuhan membantu membuka misteri-misteri Allah yang tak terjangkau akal kita.

Tuhan menyatakan Diri sebagai gembala yang menuntun di depan dan kita mengikuti-Nya menolong kita untuk mengenal-Nya lebih dalam melalui Sabda Suci-Nya dalam Injil. 

Sudah pasti karena kita ditarik sendiri oleh Allah untuk datang kepada-Nya, maka Ia menuntun kita dengan penuh kasih. Sebagai gembala Tuhan mengenal kita lebih dalam. 

Apa pun itu kebutuhan kita Tuhan pasti penuhi. "Akulah pintu, barang siapa masuk melalui pintu, ia akan selamat; ia akan masuk dan keluar, dan menemukan padang rumput." (Yoh 10:9). 

Yesus sebagai pintu menghantar kita yang percaya sepenuhnya kepada-Nya pada kediaman yang penuh damai dan sukacita. Kebutuhan akan tempat damai dan penuh sukacita menjadi kerinduan semua orang untuk menggapainya.

Seperti pemazmur bilang, "Jiwaku merindukan Engkau, ya Allah. Jiwaku haus akan Allah, akan Allah yang hidup! Bilakah aku boleh datang melihat Allah." (Mzm 42:2-3).

Hanya melalui Yesus sebagai pintu, kerinduan akan Allah itu bisa terpenuhi. Jika tidak melalui Yesus, kerinduan akan menjadi dambaan hampa yang kekal. Roh selalu bekerja menjawabi kebutuhan kerinduan spiritual setiap orang agar terpenuhi.

Pengalaman iman Petrus dan Kornelius layak kita simak. Ketika Petrus terjebak dalam kuasa Roh Kudus untuk mendekati dan ada bersama kaum tak bersunat, ia mendapat tantangan dari golongan bersunat yang ngotot sebagai yang pantas mendapat rahmat Allah.

Petrus mengisahkan pengalaman imannya akan kuasa ilahi yang meliputi dirinya dalam suatu penglihatan. Ia pun takut kehilangan rahmat Allah, jika makan makanan haram.

Dalam kekalutan iman itu, suara dari Surga berkata kepadanya, "Apa yang dinyatakan halal oleh Allah, tidak boleh engkau nyatakan haram." (Kis 11:9). Pengalaman iman Kornelius si perwira Romawi sebagai orang tak bersunat, bersama malaikat Tuhan yang menampakkan diri dalam rumahnya di Kaisarea. 

Malaikat itu berkata kepadanya, "Suruhlah orang ke Yope untuk menjemput Simon yang disebut Petrus, yang mendatangkan keselamatan bagimu dan bagi seluruh isi rumahmu." (Kis 11:13-14). Rahmat Allah mulai bekerja ketika orang mulai percaya pada Yesus sebagai Anak Allah.

Kehadiran Petrus dalam rumah itu membawa serta Roh Kudus. Kesaksian iman Petrus ini membuat tenang golongan bersunat, lalu memuliakan Allah katanya, "Jadi, kepada bangsa lain pun Allah mengaruniakan pertobatan yang menuntun kepada hidup."

(Kis 11:18) Pemazmur pun bermadah, "Suruhlah terang dan kesetiaan-Mu datang, supaya aku dituntun dan dibawa ke gunung-gunung yang kudus dan ke tempat kediaman-Mu." (Mzm 43:3). 

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved