Opini
Opini: La Pace Sia Con Voi
Paus Leo XIV, ingin segera menempatkan dirinya dalam kesinambungan pastoral Paus Fransiskus, pendahulunya.
Bahasa Warisan: Fransiskus dan Agustinus
Paus Leo XIV dalam barisan kalimat pidatonya kembali menegaskan: adalah kedamaian dari Kristus yang bangkit. Kedamaian yang berasal dari Tuhan, Tuhan yang mengasihi kita semua tanpa syarat. Masih terngiang di telinga kita suara Paus Fransiskus yang lemah namun penuh keberanian memberkati Roma!
Paus memberkati Roma, memberikan berkatnya kepada dunia, kepada seluruh dunia, pada pagi Paskah itu. Izinkan saya untuk melanjutkan berkat yang sama: Tuhan mengasihi kita, Tuhan mengasihi Anda semua, dan kejahatan tidak akan menang!

Kita semua ada di dalam tangan Allah.Oleh karena itu, tanpa rasa takut, bergandengan tangan dengan Allah dan satu sama lain, marilah kita melangkah maju. Kita adalah murid-murid Kristus. Kristus berjalan mendahului kita. Dunia membutuhkan cahaya-Nya.
Umat manusia membutuhkan Dia sebagai jembatan menuju Allah dan kasih-Nya. Bantulah kami juga, satu sama lain untuk membangun jembatan, dengan dialog, dengan perjumpaan, yang menyatukan kita semua untuk menjadi satu umat yang selalu damai. Terima kasih Paus Fransiskus!"
Nama Paus Fransiskus secara eksplisit disebut dua kali, tetapi seluruh pidato dipenuhi dengan warisan kata, kalimat dan semangat darinya.
Paus yang baru ini menyebutnya 'berani' dan mengikuti jejak pendahulunya, mengatakan: 'Tuhan mengasihi kalian semua dan kejahatan tidak akan menang' menggemakan nada pastoral dan ramah, khas Paus Fransiskus.
Namun, ada juga ruang untuk referensi utama lainnya, yakni: Santo Agustinus. Paus Leo XIV menyebut dirinya “putra Santo Agustinus”. Katanya: Saya adalah putra Santo Agustinus, seorang Agustinian.
Lebih lanjut ia mengutip ungkapan terkenal dari Santo Agustinus: "Bersamamu aku seorang Kristiani, bagimu aku seorang Uskup" yang mengungkapkan identitas kerendahan hati yang berakar pada pelayanan.
Bahasa Sedernana
Gaya Bahasa yang ada dalam pesan pidato yang disampaikan Paus Leo XIV sangat sederhana tapi langsung dan sangat menggugah. Kata Paus Leo XIV:
"Kita harus bersama-sama mencari cara untuk menjadi Gereja yang missioner, Gereja yang membangun jembatan, berdialog, selalu terbuka untuk menerima seperti alun-alun ini dengan tangan terbuka. Setiap orang, setiap orang yang membutuhkan cinta kasih kita, kehadiran kita, dialog dan cinta."
Gaya pidatonya ini sangat pastoral, tanpa konsesi untuk merujuk pada diri sendiri atau kesungguhan institusional.
Paus menampilkan dirinya sebagai bagian dari umat, bukan di atas mereka: Paus sering menggunakan kata 'kita', berbicara tentang 'berjalan bersama', dan dia menyebut dirinya 'murid Kristus'.
Satu-satunya bagian yang samar-samar bernuansa politis adalah seruan untuk 'membangun jembatan' melalui dialog, yang tetap dibingkai dalam bahasa religius, bukan bahasa diplomatik-politis.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.