Senin, 13 April 2026

Opini

Opini: Legasi Paus Fransiskus bagi Kelestarian Ekologis

Kerusakan lingkungan dalam lima tahun terakhir menunjukkan bahwa masalah lingkungan telah mencapai tingkat yang sangat serius. 

Editor: Dion DB Putra
POS-KUPANG.COM/HO-SETPRES
DI JAKARTA - Salah satu kegiatan Paus Fransiskus saat berkunjung ke Indonesia pada tanggal 3-6 September 2024. 

Oleh: Patrix Wea
Pegawai pada Kanwil Kementerian Agama NTT

POS-KUPANG.COM - Ensiklik Laudato Si (2015) dari Paus Fransiskus telah menjadi tonggak penting dalam perjuangan global untuk kelestarian ekologis. 

Dengan judul "Tentang Merawat Rumah Bersama Kita," dokumen ini menekankan bahwa perubahan iklim dan kerusakan lingkungan adalah masalah moral yang memerlukan tindakan konkret dari seluruh umat manusia.

Kerusakan lingkungan dalam lima tahun terakhir menunjukkan bahwa masalah lingkungan telah mencapai tingkat yang sangat serius. 

Deforestasi terus menjadi bentuk pencemaran lahan yang sangat merusak, dengan luasan besar tutupan pohon yang dibabat setiap tahun untuk tujuan pertanian demi memenuhi permintaan komoditas yang terus meningkat. 

Pencemaran lingkungan melalui sampah plastik juga  semakin serius, dengan sekitar 150 juta ton sampah plastik yang terakumulasi di lautan dan sungai dunia pada tahun 2020. Diperkiran sampah plastik tersebut akan berlipat ganda pada tahun 2040. 

Di Indonesia, berdasarkan laporan Greenpeace Asia Tenggara, antara tahun 2015-2019, sekitar 4,4 juta hektar lahan telah terbakar di Indonesia, yang setara dengan 8 kali luas Pulau Bali.

Pada tahun 2019, kebakaran hutan tahunan terburuk sejak 2015 membakar 1,6 juta hektar hutan dan lahan. 

Selain itu, 30 persen dari area kebakaran berada di konsesi kelapa sawit dan bubur kertas. Kerusakan lingkungan ini tidak hanya mengancam kehidupan manusia, tetapi juga mengancam satwa liar asli Indonesia yang terancam punah.

Data Forest Watch Indonesia juga mencatat antara 2017 hingga 2021, Indonesia kehilangan 2,54 juta hektare hutan per tahun—setara dengan enam lapangan sepak bola hilang setiap menit. 

Ini bukan sekadar angka, tetapi alarm dari jantung bumi. Kita sedang kehilangan warisan kehidupan.

Dalam konteks lebih sempit, di kota Kupang, masalah utama yang dihadapi saat ini adalah masalah sampah. 

Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Kupang tahun 2022, sampah di Kota Kupang mencapai 86 ton sampah per hari sementara tahun 2021 mencapai 218,98 ton per hari.

Laudato Si

Dalam Laudato Si, Paus Fransiskus menjelaskan bahwa lingkungan adalah karya Tuhan yang harus kita hargai dan jaga. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved