Sabtu, 18 April 2026

Renungah Harian Katolik

Renungan Harian Katolik Minggu 12 April 2026: Damai yang Lahir Dari Kerahiman Allah

Yesus Kristus hadir menembusi pintu-pintu yang terkunci, seperti dahulu Ia datang ke dunia saat tidak ada tempat bagi-Nya. 

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI POS-KUPANG.COM
Romo Leo Mali 

Oleh: RD. Leo Mali
Rohaniwan dan Dosen Fakultas Filsafat Unwira Kupang, Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Penyaliban Yesus menjadi pengalaman yang sangat mengguncang para murid. 

Sebagai orang-orang dekat-Nya, mereka merasa ikut terancam. Injil Yohanes melukiskan suasana itu dengan jelas:

 “Pada malam pertama sesudah Sabat, berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi” (Yoh. 20:19). 

Apa yang terjadi di antara mereka tidak dikisahkan secara rinci. Namun kita dapat membayangkan kegelisahan yang meliputi hati mereka: rasa bersalah karena telah meninggalkan Yesus, rasa malu karena harapan mereka seakan runtuh, dan ketakutan akan nasib yang sama. 

Baca juga: Opini: Ketika Hujan Tak Datang, Siapa yang Kita Jaga?

Mereka menutup diri, bukan hanya secara fisik dengan pintu yang terkunci, tetapi juga secara batin. 

Dalam keterpurukan itu, ketakutan menjadi satu-satunya bahasa yang tersisa. Namun justru dalam situasi tertutup itulah Yesus datang. 

Ia hadir menembusi pintu-pintu yang terkunci, seperti dahulu Ia datang ke dunia saat tidak ada tempat bagi-Nya. 

Ia berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: “Damai sejahtera bagi kamu!” (Yoh. 20:19). Ia tidak datang untuk menghakimi, tetapi untuk memulihkan. 

Ia menunjukkan tangan dan lambung-Nya yang terluka (Yoh. 20:20). Luka itu tidak hilang, tetapi kini menjadi tanda kasih yang mengalahkan penderitaan dan kematian. 

Kehadiran-Nya mengubah segalanya. Ketakutan berganti sukacita. Para murid mengalami damai yang tidak berasal dari situasi luar, melainkan dari perjumpaan dengan Dia yang bangkit.

Sekali lagi Ia berkata: “Damai sejahtera bagi kamu!”(Yoh. 20:21). Salam ini bukan sekadar sapaan, melainkan anugerah yang memulihkan hati mereka. 

Dari damai itu lahirlah perutusan. “Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu” (Yoh. 20:21). 

Ia menghembusi mereka dengan Roh Kudus (Yoh. 20:22) dan memberi kuasa untuk mengampuni dosa (Yoh. 20:23). 

Mereka diutus untuk menjadi pembawa kerahiman, karena mereka sendiri telah lebih dahulu mengalami pengampunan dan kerahiman Allah. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved