Minggu, 17 Mei 2026

Opini

Opini: Nikmat Sesaat dan Luka Kekal- Catatan Dari Rumah Duka

Sebuah hubungan yang mungkin diawali dengan senyum manis dan janji indah berakhir dengan luka abadi yang tak terhapuskan.

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
FOTO ILUSTRASI BUATAN AI
ILUSTRASI 

Oleh: Petrus Selestinus Mite
Dosen Sosiologi Fisip Undana Kupang, Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Pagi itu, kabar duka merembet dari kontrakan di Cengkareng hingga ke kampung halaman di Bajawa Jerebu’u. 

Seorang perempuan asal Ngada, NTT, SVB (25), tewas setelah diduga dianiaya oleh pacarnya sendiri, OLG (23), di sebuah kamar kos di Cengkareng, Jakarta Barat, pada Jumat, 20 Maret 2026. 

Pelaku menusuk leher korban dengan pisau dapur, lalu menguncinya dari luar dan kabur. Ia ditangkap warga yang curiga hendak mencuri, dan saat itu ia mengaku telah membunuh (Pos Kupang, 2026). 

Korban sempat dilarikan ke RSUD Cengkareng dan menjalani operasi. Namun, ia juga diketahui sedang hamil tiga bulan dan mengalami keguguran akibat pendarahan. Setelah enam hari dirawat, SVB meninggal pada Kamis, 26 Maret 2026, pukul 03.00 WIB. 

Baca juga: Opini: Masyarakat Kebelet

Keluarga menuntut pelaku diproses hukum seberat-beratnya. Jenazah korban dipulangkan ke kampung halamannya di Jerebu'u, Ngada. 

Sebuah hubungan yang mungkin diawali dengan senyum manis dan janji indah berakhir dengan luka abadi yang tak terhapuskan (Pos Kupang, 2026).

Kita sering mendengar kekerasan dalam pacaran atau rumah tangga dianggap sebagai “ledakan amarah spontan”. 

Namun, Jane Monckton-Smith dalam bukunya In Control: Dangerous Relationships and How They End in Murder (2021) mengajarkan bahwa kekerasan fatal adalah puncak dari sebuah pola yang panjang. 

Smith mengidentifikasi delapan tahap yang dimulai dari obsesi, isolasi, hingga eskalasi fisik yang berujung pembunuhan. 

Pada kasus Asri, kita melihat cekcok mulut yang tiba-tiba berubah menjadi penikaman di leher dan injakan di perut. 

“Spontan” hanyalah alasan untuk menutupi bahwa kekerasan sudah lama menjadi bahasa dalam hubungan itu. 

Tangan pelaku lebih dulu berbicara daripada hati dan otaknya, hal ini merupakan sebuah pola yang sebenarnya bisa dideteksi sejak dini jika kita mau jujur membaca tanda-tandanya.

Lalu, mengapa korban kerap bertahan? Mengapa seseorang tetap mencintai orang yang tangannya sudah terbiasa melukai? 

Paul Bloom dalam The Sweet Spot: The Pleasures of Suffering and the Search for Meaning (2021) menawarkan jawaban yang menggelisahkan bahwa; manusia kadang justru mencari makna dalam penderitaan. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved