Rabu, 29 April 2026

Opini

Opini: Nusa Tenggara Timur Rawan Bencana 

NTT pun sering mengalami El Nino dan La Nina berkepanjangan yang menyebabkan kekeringan maupun banjir.

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
ILUSTRASI
RAWAN BENCANA - Provinsi Nusa Tenggara Timur akrab dengan bencana alam. NTT sering mengalami El Nino dan La Nina berkepanjangan yang menyebabkan kekeringan maupun banjir. 

Oleh: Ite Morina Yostianti Tnunay
Dosen Universitas Timor, Kefamenanu.  Saat ini menempuh pendidikan Doktor pada Prodi Doktor Biologi, Universitas Gadjah Mada. 

POS-KUPANG.COM - Nusa Tenggara Timur (NTT) kini dekat dengan bencana alam. Sepanjang tahun 2020 hingga tahun 2025, NTT mengalami berbagai bencana, di antaranya siklon seroja yang mengancam jiwa manusia, serta merusak berbagai macam sarana dan prasarana.

Selanjutnya NTT juga mengalami cuaca ekstrem yang menyebabkan bencana hidrometeorologi seperti banjir, banjir bandang, angin kencang, tanah longsor, pohon tumbang, dan sambaran petir. 

Selain itu, NTT baru saja mengalami bencana gunung meletus yang merusak pemukiman dan kebun milik warga di daerah Flores. Pulau Sumba juga sering mengalami serangan hama belalang kembara yang mengakibatkan gagal panen.

NTT pun sering mengalami El Nino dan La Nina berkepanjangan yang menyebabkan kekeringan maupun banjir. Krisis air untuk minum dan pertanian juga terjadi di berbagai wilayah di NTT. 

Mata air dan sungai mengering sehingga eksploitasi terhadap air tanah semakin meningkat.

NTT kini sedang dilanda cuaca ekstrem dalam dua bulan terakhir. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah merilis Early Warning System (EWS) atau sistem peringatan dini bencana bahwa terdapat potensi cuaca ekstrim yang terjadi di wilayah NTT dan terus mengimbau masyarakat untuk berhati-hati karena cuaca ekstrem menyebabkan berbagai bencana. 

Berdasarkan informasi dari media masa tercatat bahwa beberapa warga NTT tewas akibat tersambar petir ketika sedang melakukan kegiatan hariannya. 

Selain itu, berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah NTT, cuaca ekstrem menyebabkan ada warga yang tewas, mengalami luka-luka, dan mengungsi ke tempat lain.  

Dampak lain yang terjadi adalah terjadi kerusakan rumah, sekolah, putusnya jembatan, bahkan terputusnya jaringan telekomunikasi, hingga ditutupnya pelayaran.

Pemicu Bencana di NTT

Berdasarkan data yang dihimpun dari berbagai sumber disimpulkan bahwa sebagian besar bencana alam yang terjadi di NTT adalah ulah manusia. 

Simpulan ini dibuat karena faktanya manusia secara sadar maupun tidak sadar telah merusak lingkungan dalam berbagai praktik. Tercatat beragam aktivitas telah dilakukan manusia, sebagai berikut.

Pertama, upaya pembangunan atau proyek investasi yang mengabaikan keselamatan masyarakat dan lingkungan hidup. 

Pemerintah berupaya membuat proyek untuk pariwisata, perkebunan, pertambangan, pertanian, geothermal, dan infrastruktur tetapi kerapkali tidak mempertimbangkan dampaknya ke masyarakat dan lingkungan.

Salah satu kegiatan penambangan yang dilakukan adalah penambangan mangan. Kegiatan ini dilakukan secara aktif karena kualitas mangan di NTT adalah salah satu yang terbaik di dunia. 

Persebaran mangan di NTT cukup luas dan meliputi beberapa kabupaten yaitu Manggarai, Timor Tengah Utara, Belu, Timor Tengah Selatan, dan Kupang khususnya di Desa Ekateta Kecamatan Fatuleu. 

Kegiatan tambang mangan pernah ditolak Masyarakat Adat melalui Gerakan Perlawanan Tambang yang diinisiasi Aletha Baun. 

Proyek yang dijalankan di berbagai wilayah di NTT kebanyakan ditolak masyarakat karena berpotensi dapat merelokasi masyarakat dari kampungnya serta menghancurkan sumber penghidupan masyarakat berupa air, hutan, dan kebun.

Kedua, pengelolaan sampah yang belum benar. Berdasarkan Data Survei Kesehatan Indonesia Tahun 2023 tercatat bahwa 83,6 persen rumah tangga di NTTmengelola sampah organik maupun anorganik dengan cara membakarnya, padahal sampah organik dapat dibuat kompos sedangkan sampah anorganik dapat didaur ulang atau disetorkan ke bank sampah. 

Selain dibakar, 1.3 persen masyarakat membuang sampah ke kali atau selokan dan 3.0 persen dibuang sembarangan. 

Kondisi ini tentu sangat miris karena pengelolaan sampah yang tidak benar dapat memicu terjadinya pencemaran dan membahayakan kesehatan masyarakat, serta berdampak pada lingkungan yang kotor dan juga saluran air yang tersumbat sehingga dapat memicu terjadinya banjir.

Ketiga, kebakaran hutan dan lahan serta penebangan liar yang tak terkendali. Kebakaran hutan sering dijumpai pada lahan yang mulai mengering ketika memasuki musim kemarau. 

Data dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) melaporkan sesuai data Satelit Terra, Aqua, dan Suomi NPP di tahun 2021 tercatat terdapat 175 titik panas di NTT dengan luasan kebakaran 175.000 hektar. 

Pemicu terjadinya kebakaran hutan dan lahan adalah pembukaan lahan baru oleh petani (sebagian besar petani masih menganut sistem ladang berpindah) dan pembakaran rumput-rumput kering (NTT memiliki sabana yang luas). 

Pembakaran yang dilakukan jika ditambah dengan angin kencang yang juga sering terjadi di NTT semakin memperluas lahan yang terbakar. Penebangan liar pun kerap dilakukan oknum tertentu. 

Berita terbaru yang tercatat adalah terjadi penebangan liar kayu pacakan Sonokeling di Kabupaten Timor Tengah Utara. 

Kebakaran hutan dan lahan serta penebangan liar berpengaruh terhadap pencemaran lingkungan, punahnya keanekaragaman hayati baik fauna maupun flora, dan ketersediaan air.

Minimnya Kesadaran Manusia

Bencana yang terjadi di NTT kini tidak bisa dihindari. Hari ke hari kita terus diperhadapkan dengan berbagai bencana yang terjadi dan hal tersebut mengganggu kenyamanan kita dalam beraktivitas. 

Meskipun demikian, kadang kita tidak berupaya untuk menjaga lingkungan padahal lingkungan memberi pengaruh besar bagi keberlangsungan hidup kita di bumi. 

Sering kita merasa acuh dan selalu merasa bahwa menjaga lingkungan adalah tugas segelintir orang karena jobdesknya memang demikian. Kita secara terang-terangan merusak lingkungan tanpa merasa malu. 

Kita hanya berpikir keuntungan hari ini, tanpa berpikir dampak kedepannya seperti apa.

Ayo Konservasi Lingkungan!

Ajakan ini berlaku bagi semua orang tanpa memandang jenis kelamin, usia,
pekerjaan, dan status sosial. Beberapa langkah mudah yang bisa kita lakukan dalam skala kecil adalah: 1) menanam dan merawat pohon; 2) membuang sampah dengan benar dan memilah sampah sesuai jenisnya; 3) hemat air dan energi; dan 4) menggunakan produk yang ramah lingkungan. 

Konservasi dalam skala yang lebih besar dapat dilakukan dengan cara mendukung penelitian serta pengembangan teknologi maupun infrastruktur tepat guna yang memegang prinsip ramah lingkungan, efisiensi energi dan untuk konservasi sumber daya. 

Kita juga dapat terlibat dalam upaya reboisasi lahan dan hutan serta terus memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya mengkonservasi lingkungan.

Konservasi dalam lingkup yang besar membutuhkan kerja sama dengan
berbagai pihak. Oleh karena itu, diperlukan upaya bahu membahu dari kita semua agar lingkungan di NTT dapat dikonservasi. 

Saat ini pun, Kementerian dan Lembaga Negara mengalami pemangkasan anggaran sebagai bentuk efisiensi.

Semoga pemangkasan ini tidak berdampak pada EWS bencana, gempa, atau insiden darurat dan juga terhadap bantuan kepada Masyarakat akibat bencana. 

Adanya EWS yang sering dikeluarkan oleh BMKG hendaknya menjadi “trigger” bagi kita untuk merawat bumi. Mari kita mengkonservasi lingkungan. 

Mulailah dari diri sendiri, tidak perlu melihat orang lain yang tidak melakukannya. (*)

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved