Opini
Opini: Kepemimpinan di Tanah Papua Pasca Pilkada
Para kandidat paslon kepala daerah terpilih segera menjadi pemimpin dengan gaya kepemimpinan yang tengah ditunggu-tunggu.
Oleh Yosua Noak Douw
Doktor lulusan Universitas Cenderawasih, Jayapura
POS-KUPANG.COM - Pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak 2024 di Indonesia, baik gubernur-wakil, bupati-wakil bupati, dan walikota-wakil walikota, kini tengah berlangsung.
Tak terkecuali pilkada di seluruh wilayah tanah Papua. Kemeriahan pilkada sebagai pesta demokrasi di bumi Cenderawasih menyuguhkan pemandangan berbeda.
Hampir seluruh kampanye kandidat disiarkan secara langsung melalui televisi di hadapan pemirsa, terutama masyarakat pemilih pemilik suara guna menilai kualitas masing-masing kandidat yang tak lama lagi menjadi pemimpin bila raihan suara paling besar dari kandidat lain.
Dari debat kandidat, publik dengan mudah menyaksikan langsung masing-masing kandidat mengeksplorasi gagasan berpijak visi, misi, dan program bila mandat rakyat berada dalam rengkuhannya.
Jauh sebelumnya, masing-masing kandidat bersama tim pemenangan keluar masuk kampung, menyapa masyarakat guna menyampaikan gagasannya bila terpilih menjadi pemimpin.
Para kandidat paslon kepala daerah terpilih segera menjadi pemimpin dengan gaya kepemimpinan yang tengah ditunggu-tunggu.
Hingga saat ini, wacana kepemimpinan daerah masih bersifat tradisional, berfokus pada siapa orangnya (figur) dan belum bergerak pada sistem kepemimpinan itu sendiri.
Karena masih berfokus pada figur, yang berkembang dalam proses itu adalah isu tradisional dan primordial.
Bahkan bergerak lebih dalam menyasar aspek suku, agama, dan berbagai hal lain yang menjadi perhatian masyarakat di tanah Papua.
Otonomi khusus Papua memberi ruang gerak masyarakat pulau kepala burung ini lebih leluasa untuk membangun dirinya sendiri, termasuk memilih siapa pemimpin mereka.
Namun, adanya pemekaran daerah otonom baru (DOB) provinsi oleh pemerintah berujung siapapun yang menjadi pemimpin di tanah Papua menjadi sebuah wacana yang lebih transformatif.
Semangat kepemimpinan perlahan tanggal, tidak lagi tersandera sentimen primordial tradisional.
Kesadaran membaik
Kepemimpinan kini terus bergerak lebih sinergis dan holistik. Mengapa? Hal ini terjadi karena kesadaran masyarakat termasuk para pemimpin semakin membaik, sesuatu yang tengah dirindukan bagi tanah Papua di masa akan datang.
Pemimpin tanah Papua diharapkan mampu membawa masyarakat di wilayahnya masing-masing menjadi masyarakat modern dan dapat bersaing hidup dalam masyarakat kontemporer.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.