Opini

Opini: Nilai Spiritual Pariwisata dalam Kunjungan Apostolik Paus Fransiskus

Kunjungan apostolik bapa Paus ke Indonesia dalam bulan September dapat dimaknai sebagai suatu perjalanan wisata spiritual ke Indonesia.

Editor: Dion DB Putra
POS KUPANG/HO
Sr Irene OP bersalaman dengan Paus Fransiskus disaksikan Dubes Tahta Suci Untuk Indonesia (Nuncio), Mgr Piero Pioppo di Jakarta, Selasa (3/9/2024). 

Dalam hal ini termasuk pilihan sikap option for the poor (keberpihakan kepada kaum miskin) dan gender equity (kesetaraan gender). 

Pembangunan pariwisata harus terhindar dari sikap dan praktek diskriminasi sosial dan eksploitasi sesama manusia.

Laudato Si. Ini adalah ensiklik Paus Fransiskus yang diterbitkan pada 18 Juni 2015 tentang alam semesta adalah rumah kita bersama. 

Alam semesta merupakan ibu dan saudara kita yang harus kita pelihara keberlanjutannya. Keutuhan alam ciptaan dan keberlanjutannya harus dipelihara dan dilindungi oleh manusia demi kelangsungan hidup manusia itu sendiri juga.

Pembangunan pariwisata harus menghormati dan merawat alam dan tidak eksploitasi alam dan merusakkannya demi keuntungan sesaat dan sementara. 

Fratelli Tutti, yakni ensiklik dari Paus Fransiskus yang terbit pada 4 Oktober 2020, bertujuan mendorong keinginan akan persaudaraan dan persahabatan sosial umat manusia. 

Hal ini tentu saja senada dengan tujuan penyelenggaraan kepariwisataan Indonesia yakni mengangkat citra bangsa, memupuk rasa cinta tanah air, memperkukuh jati diri dan kesatuan bangsa dan memperat persahabatan antar bangsa.

Pembangunan pariwisata inklusif juga tercantum dalam pembangunan pariwisata syariah Indonesia. 

Beberapa kriteria umum pariwisata syariah seperti yang ditetapkan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dan BPH DSN MUI, yakni berorientasi pada kemaslahatan umat; beorientasi pada pencerahan, penyegaran dan ketenangan; 

menghindari kemusyrikan dan khurafat; menghindari maksiat seperti zina, pornografi, pornoaksi, minuman keras, narkoba dan judi; menjaga perilaku, etika, dan nilai luhur kemanusiaan seperti menghindari perilaku hedonis dan asusila; 

menjaga amanah, keamanan dan kenyamanan; bersifat universal dan inklusif; menjaga kelestarian lingkungan; menghormati nilai-nilai sosial-budaya dan kearifan lokal (Sucipto Hery & Andayani Fitria 2014, Wisata Syariah, Karakter, Potensi, Prospek, dan Tantangannya, Jakarta, Grafindo Books Media & Wisata Syariah Consulting, p.103-104).  

Tentu saja kriteria umum ini dapat diterima pula dalam pariwisata rohani bagi wisatawan non muslim. (Priyadi Unggul, 2016, Pariwisata Syariah, Prospek dan Perkembangan, Yogyakarta, UPP STIM YKPN, p. 97). 

Kunjungan apostolik Paus Fransiskus ke Indonesia mengandung pula insinuasi bagi tokoh-tokoh agama untuk memberi perhatian kepada pembangunan pariwisata Indonesia. 

Tokoh agama perlu juga memiliki pengetahuan dan ketrampilan memadai dalam bidang kepariwisataan sehingga dapat menjadi influencer dalam pengembangan pariwisata dan diharapkan dapat bekerja sama antartokoh lintas agama guna membangun kerukunan dalam pengembangan pariwisata di Indonesia, tidak terkecuali dalam pariwisata NTT.

Selain itu, mereka juga dapat menjembatani kerja sama kemitraan usaha antara investor (kapitalis) dengan masyarakat lokal desa.

Halaman
1234
Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved