Opini

Opini: Nilai Spiritual Pariwisata dalam Kunjungan Apostolik Paus Fransiskus

Kunjungan apostolik bapa Paus ke Indonesia dalam bulan September dapat dimaknai sebagai suatu perjalanan wisata spiritual ke Indonesia.

Editor: Dion DB Putra
POS KUPANG/HO
Sr Irene OP bersalaman dengan Paus Fransiskus disaksikan Dubes Tahta Suci Untuk Indonesia (Nuncio), Mgr Piero Pioppo di Jakarta, Selasa (3/9/2024). 

Makna partisipatif dalam arti melibatkan berbagai elemen masyarakat dalam perencanaan dan pelaksanaan program pembangunan. 

Semua unsur di atas itu ideal sebagai penuntun normatif pembangunan kepariwisataan nasional berdasar pada Bhineka Tunggal Ika dan Pancasila, UUD 1945 dan NKRI.

Paus Fransiskus dalam pidatonya di Istana Negara dan Masjid Istiqlal berbicara tentang Bhineka Tunggal Ika. Kunjungan apostolik Paus ke Indonesia membawa pesan faith, fraternity and compassion. 

Pesan-pesan ini sebenarnya menggarisbawahi lagi prinsip-prinsip penting dalam Ajaran Sosial Gereja (ASG) mengenai human dignity, bonum commune, subsidiaritas, solidaritas, laudato si dan fratelli tutti. 

Menurut Gereja, prinsip-prinsip ini harus diutamakan dalam pembangunan masyarakat (community development) termasuk dalam pembangunan dan pengembangan pariwisata (Guidelines for the Pastoral Care of Tourism, 2001, Vatican. No.25).

Human dignity atau martabat manusia menunjukkan manusia itu ciptaan Allah menurut citraNya. Martabat ini tidak hilang karena kemiskinan atau kekurangan lainnya. 

Manusia lebih utama daripada benda atau barang dan tidak bisa diperalat demi kepentingan orang lain.

Pembangunan pariwisata untuk manusia dan bukan manusia untuk pariwisata. Bonum Commune atau kebaikan bersama menandaskan bahwa manusia itu makhluk sosial ciptaan Allah. 

Karena itu manusia harus saling bertanggung jawab dalam hidup satu terhadap lainnya dalam mewujudkan potensi-potensinya dan memenuhi kebutuhan-kebutuhannya demi kesejahteraan seluruh umat manusia. 

Pembangunan pariwisata tidak boleh memarginalisasi dan menindas orang lainnya demi keuntungan pribadi atau kelompoknya.

Subsidiaritas. Prinsip ini mengutamakan partisipasi masyarakat akar rumput dalam perencanaan dan pelaksanaan keputusan bersama demi kepentingan besama. 

Atasan (baik individu penguasa maupun kelompok penguasa) harus membantu masyarakat bawahannya melaksanakan partisipasinya untuk kepentingan bersama. 

Pembangunan pariwisata tidak boleh hanya menjadi monopoli atasan atau kelompoknya dan mengabaikan hak dan kewajiban masyarakat akar rumput.

Solidaritas. Prinsip ini menegaskan bahwa sebagai citra dan gambaran Allah, manusia membentuk satu kehidupan bersama atau komunitas dimana yang satu tidak dapat hidup tanpa bantuan dari yang lain. 

Ada kewajiban saling membantu dan saling bertanggung jawab demi kesejahteraan bersama. 

Halaman
1234
Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved