Opini
Opini: Algoritma Bahasa Politik
Proses ini mirip optimasi: pesan yang paling efektif diseleksi dan dipakai berulang kali. Dan masyarakat terjebak dalam permainan ini.
Oleh: Br. Pio Hayon, SVD
Biarawan dan Staf Dosen STPM Santa Ursula Ende, Flores - Nusa Tenggara Timur
POS-KUPANG.COM - Di panggung politik, kata-kata sering kali dipilih bukan untuk mengungkap kebenaran penuh, melainkan untuk menanamkan harapan — atau setidaknya kesan.
Fenomena ini bisa kita sebut sebagai “algoritma bahasa politik”: sebuah pola terstruktur bagaimana aktor politik merangkai ujaran agar terdengar manis di bibir, mudah dicerna oleh massa, namun kadang kosong dari substansi.
Opini ini menelaah bagaimana bahasa sederhana, janji-janji yang menggoda, dan warna filosofis tertentu dipakai sebagai alat retorika dalam praktik politik kontemporer.
Bahasa yang manis di bibir: efisiensi retorika
Bahasa politik modern cenderung mengutamakan kejelasan dan singkat—slogan, frasa-klise, dan janji-janji ringkas.
Dalam “algoritma” ini, setiap elemen dipilih untuk memaksimalkan resonansi emosional: kata-kata yang mengandung harapan (“perubahan”, “kesejahteraan”, “keadilan”), metafora sederhana (“membangun”, “mengangkat”), serta repetisi untuk menanamkan pesan.
Baca juga: Opini: Harapan Politik Petani Lokal
Keuntungan strategi ini jelas: audiens dapat langsung menangkap maksud, pesan cepat menyebar di media sosial, dan kesan positif tercipta tanpa membutuhkan analisis mendalam.
Namun, efektivitas retorika manis berisiko menggantikan substansi. Bila janji disampaikan hanya sebagai mantera singkat tanpa rincian kebijakan, publik akan menerima narasi yang terasa enak di telinga namun rapuh saat diuji di tataran implementasi.
Bahasa yang terlalu sederhana juga bisa menyamarkan kompleksitas masalah publik—dari ekonomi hingga lingkungan—sehingga solusi yang ditawarkan tampak mudah padahal menuntut strategi rumit.
Dalam bahasa algoritmik, sebuah output dioptimalkan dari input tertentu melalui aturan yang konsisten.
Dalam politik, janji-janji diproduksi berdasarkan kalkulasi audiens: isu mana yang sensitif, kata-kata apa yang memicu empati, dan simbol apa yang memperkuat identitas kolektif.
Hasilnya adalah janji yang teruji—“gratis”, “mudah”, “cepat”—yang disampaikan karena terbukti menghasilkan dukungan.
Proses ini mirip optimasi: pesan yang paling efektif diseleksi dan dipakai berulang kali. Dan masyarakat terjebak dalam permainan ini.
Alhasilnya, menurut survei oleh Pew Research Center, sekitar 70 persen pemilih merasa terjebak dalam janji-janji yang tidak realistis dan merasa bahwa politisi sering kali tidak memenuhi komitmen mereka.
| Opini: Grooming Bukan Cinta- Pelajaran Pahit dari Buku Broken Strings |
|
|---|
| Opini: Budaya Kepatuhan Simbolik dan Krisis Akuntabilitas Infrastruktur di Manggarai Timur |
|
|---|
| Opini: Iman yang Rajin Tapi Takut Jujur |
|
|---|
| Opini: Ketika Belanja Pegawai Menggerus Ruang Fiskal Produktif NTT |
|
|---|
| Opini: Sekolah Aman Itu Urusan Siapa? |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/PIO-HAYON_06.jpg)