Parodi Situasi
Parodi: Bukan Putra Daerah
“Kalau cerdas, tahu urus birokrasi, tahu masalah, dapat dipercaya, kenapa tidak?” sambung Nona Mia. “Jadi biar sajalah.”
“Biar saja, setuju,” Nona Mia dan Benza lanjut bersamaan.
“Sepanjang kita yakin dengan berbagai data dukung bahwa mereka berhasil memimpin, bisa saja bukan. Yang penting kemajuan pada berbagai bidang dapat dicapai. Yang penting, jangan sampai jadi pemimpin dengan tujuan dapat fee proyek sebanyak-banyaknya, jangan sampai jadi pemimpin yang haus kuasa dan gunakan kuasa untuk merusak birokrasi, merusak hubungan harmonis warga masyarakat yang dipimpinnya,” kata Benza.
“Sekarang ini segalanya gampang dienter dan disenter. Siapa pun bisa jadi mata, hati, dan pikiran. Jadi kalau ada yang mau calonkan diri, sepanjang kita tahu pengalaman memimpin, kualitas kerja, rela berkorban, dan sanggup membangun NTT menuju kesejahteraan sosial budaya, dukung saja.”
“Oh, begitu kah?” tanya Jaki dan Rara bersamaan.
“Kalau begitu, saya dari ujung barat Flores mau ajukan diri jadi bupati di ujung timur,” kata Jaki.
“Jadi bupati pasti saya bisa. Kalau sudah jadi bupati, gampang! Saya undang kamu tiga orang ini untuk jadi staf ahli. Mau gaji berapa?” Rara terpingkal-pingkal dengan rencananya.
“Saya juga dari Timor mau jadi bupati di Sumba. Siapa takut. Tenang saja, saya kasih kamu proyek pembuatan pesawat terbang yang bisa keliling dunia,” Jaki tidak mau kalah.
***
“Hei, jangan mimpi,” kata Nona Mia sambil tertawa.
“Jangan mengigau,” kata Benza sambil menggeleng.
“Mari kita dukung semua proses pilkada di NTT ini dengan gembira. Sehat hati sehat pikiran. Bukan putra daerah, siapa takut?” (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Ilustrasi-Pilkada-2024.jpg)