Parodi Situasi
Parodi: Bukan Putra Daerah
“Kalau cerdas, tahu urus birokrasi, tahu masalah, dapat dipercaya, kenapa tidak?” sambung Nona Mia. “Jadi biar sajalah.”
Oleh Maria Matildis Banda
POS-KUPANG.COM - Bukan putra daerah? Mengapa tidak? Ahok jadi gubernur DKI, Jokowi jadi gubernur DKI.
Bahkan sekarang ini yang akan maju di berbagai tingkat pilkada, pilwalkot, pilkada kabupaten, dan propinsi, datang dari berbagai penjuru. Lintas daerah, lintas budaya, lintas agama, dan berbagai bentuk lintas lainnya.
Apa salahnya?
***
“Seperti sepak bola e,” Jaki tertawa. “Pemain asing tetapi dijadikan pemain utama kita. Sementara kita punya banyak pemain yang jago goreng dan tembak bola, tetapi tinggal duduk diam saja menunggu sambil menghitung kemungkinan dipanggil jadi pemain nasional.”
“Apalagi pemain club di sini, di sana. Hampir semuanya impor dari luar. Apakah salah?
Bukan putra daerah lagi. Duuuh…” komentar Rara.
“Aneh, pilkada juga ikut-ikutan bukan putra daerah,” sambung Jaki.
“Beda e. Jangan campur aduk sepak bola dan pilkada. Beda jauh,” kata Benza.
“Beda arah dan tujuan. Beda semuanya. Indonesia nih sudah biasa dengan lintas putra daerah. Contoh bisa kita cermati mulai dari Jakarta. Apakah harus orang Betawi? Apakah harus asli Jakarta? Kita semua saksi mata dan saksi telinga bahwa fenomena ini nyata.”
“Oh. Begitu kah?”
“Kalau cerdas, tahu urus birokrasi, tahu masalah, dapat dipercaya, kenapa tidak?” sambung Nona Mia. “Jadi biar sajalah.”
***
“Kalau Ahok jadi gubernur NTT bagaimana? Kalau Ridwan Kamil, Emil Dardak, Ganjar jadi gubernur NTT bagaimana? Bisa? Terima?” tanya Jaki dan Rara sambung menyambung.
“Biar saja, setuju,” Nona Mia dan Benza lanjut bersamaan.
“Sepanjang kita yakin dengan berbagai data dukung bahwa mereka berhasil memimpin, bisa saja bukan. Yang penting kemajuan pada berbagai bidang dapat dicapai. Yang penting, jangan sampai jadi pemimpin dengan tujuan dapat fee proyek sebanyak-banyaknya, jangan sampai jadi pemimpin yang haus kuasa dan gunakan kuasa untuk merusak birokrasi, merusak hubungan harmonis warga masyarakat yang dipimpinnya,” kata Benza.
“Sekarang ini segalanya gampang dienter dan disenter. Siapa pun bisa jadi mata, hati, dan pikiran. Jadi kalau ada yang mau calonkan diri, sepanjang kita tahu pengalaman memimpin, kualitas kerja, rela berkorban, dan sanggup membangun NTT menuju kesejahteraan sosial budaya, dukung saja.”
“Oh, begitu kah?” tanya Jaki dan Rara bersamaan.
“Kalau begitu, saya dari ujung barat Flores mau ajukan diri jadi bupati di ujung timur,” kata Jaki.
“Jadi bupati pasti saya bisa. Kalau sudah jadi bupati, gampang! Saya undang kamu tiga orang ini untuk jadi staf ahli. Mau gaji berapa?” Rara terpingkal-pingkal dengan rencananya.
“Saya juga dari Timor mau jadi bupati di Sumba. Siapa takut. Tenang saja, saya kasih kamu proyek pembuatan pesawat terbang yang bisa keliling dunia,” Jaki tidak mau kalah.
***
“Hei, jangan mimpi,” kata Nona Mia sambil tertawa.
“Jangan mengigau,” kata Benza sambil menggeleng.
“Mari kita dukung semua proses pilkada di NTT ini dengan gembira. Sehat hati sehat pikiran. Bukan putra daerah, siapa takut?” (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Ilustrasi-Pilkada-2024.jpg)