Opini

Potret Kiprah Politik Jokowi dalam Bingkai Filosofi Daun Pepaya dan Gaya Kampanye Blusukan

Sebut nama Jokowi, Presiden RI ke-7 sekarang ini, terlintas sekilas dalam benak penulis tentang daun pepaya dan blusukan. Mengapa tidak?

Editor: Dion DB Putra
TribunnewsBogor.com/Muamarrudin Irfani
Presiden Jokowi blusukan di pasar Bogor beberapa waktu lalu. 

Karena itu, tidak heran jika dari Kota Solo, Jokowi beranjak ke Jakarta dan meraih keberhasilan dalam kontestasi pilkada di DKI dan kemudian terpilih menjadi Presiden RI ke-7 menggantikan SBY.

Kepiawaian Jokowi dalam menahkodai bangsa Indonesia sebagai bangsa majemuk terbesar ke empat di dunia selama dua periode mengundang detak kagum para pemimpin dan masyarakat sejagat.

Seperti dikemukakan John Quincy Adams, Joko Widodo memang benar-benar sosok seorang pemimpin dan bahkan sosok seorang pemimpin benaran.

Karena berbagai tindakannya melalui tagline, kerja dan kerja, telah menginspirasi bangsa Indonesia untuk bermimpi lebih, belajar lebih, berbuat lebih dan menjadi lebih karena Indonesia memang memiliki banyak kelebihan.

Jokowi tidak suka menampilkan dagelan politik melodramatik tidak bermutu di atas pentas politik nasional demi memperoleh belas kasihan.

Meski dia seringkali disalimi kaum kadrun yang merasa kebakaran jenggot selama masa kepemimpinannya di negeri ini, Jokowi tetap tegar. Dalam menyikapi komentar miring bernada sumbang kaum kadrun, Jokowi lebih banyak bersikap diam dan tidak melakukan upaya balas dendam.

Mengapa? Karena semua itu dianggapnya hanya menguras secara sia-sia energi bangsa Indonesia.

Dalam diam yang sesekali diiringi seketul senyum khas sebagai kekhususannya,
Jokowi melakukan berbagai kesuksesan besar dalam pembangunan guna mengarak bangsa Indonesia ke luar dari kerangkeng kemangkrakan masa lalu. Dengan kesuksesan besar, Jokowi menepis komentar miring bernada sumbang kaum kadrun.

Hal ini selaras dengan pandangan Frank Sinarta yang menyatakan, the best revenge is massive success (pembalasan dendam terbaik adalah kesuksesan besar). God bless you, Jokowi. Your are the best, karena bagimu, time is work.

Sejalan dengan itu, action speaks louder than words, adalah ancangan kepemimpinanmu yang layak ditiru para pemimpin kita ke depan. Mencapai Indonesia emas tidak mungkin dicapai dengan gelegar retorika manis di atas pentas.

Kebermaknaan kata-kata manis di atas pentas mesti menyata dalam aksi. Karena jika tidak, kata-kata itu akan menjadi tunamakna. Sebagaimana dilontarkan Roman Jakobson, language without meaning is meaningless. *

Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved