Opini

Potret Kiprah Politik Jokowi dalam Bingkai Filosofi Daun Pepaya dan Gaya Kampanye Blusukan

Sebut nama Jokowi, Presiden RI ke-7 sekarang ini, terlintas sekilas dalam benak penulis tentang daun pepaya dan blusukan. Mengapa tidak?

Editor: Dion DB Putra
TribunnewsBogor.com/Muamarrudin Irfani
Presiden Jokowi blusukan di pasar Bogor beberapa waktu lalu. 

Lalu, mengapa jurus blusukan sebagai gaya kampanye Jokowi dan bukan jurus lain sesuai kelaziman yang diperagakan politisi kawakan?

Karena keterbatasan dana, dia tidak bisa melakukan kampanye akbar dengan menggelar panggung besar berlayar lebar di ruang terbuka dan pawai besar-besaran di ruas-ruas jalan yang digegapi berbagai gempita bunyi-bunyian.

Jurus dan gaya kampanye beraroman gegap gempita bukan selera Jokowi karena, bagi dia, kesederhanaan adalah mahkota segala keindahan.

Dengan jurus blusukan sebagai gaya kampanye yang dikemas secara maknawi dengan filosofi daun pepaya, Jokowi melakukan lawatan di berbagai tempat.

Dengan demikian, selain dapat menjangkau sudut terdalam, dia merasakan denyutan kehidupan rakyat sampai ke lorong-lorong sempit yang tidak terlihat masyarakat luar dalam hirupan atmoster kehidupan yang tidak tersentuh percikan pembangunan.

Inilah the power of blusukan sebagai gaya kampanye Jokowi sambil mendendangkan filosofi daun pepaya. Semula daun papaya memang terasa pahit ketika dimakan, tetapi membawa kesembuhan dari penyakit di kemudian hari.

Peragaan jurus blusukan dengan filosofi daun pepaya yang diterapkan Jokowi ternyata tidak menuai hampa. Sambil bertatap muka dan bersalaman dengan rakyat kebanyakan di sudut-sudut kota Solo, Jokowi iseng menghitung dalam hati besaran jumlah pemilih yang diduga akan menentukan preferensi politik mereka kepadanya.

Sesuai banyaknya warga yang sempat bersalaman selama blusukan, menurut prediksinya, dia akan meraih kemenangan dengan raupan suara sekitar 37 persen.

Prediksi itu ternyata tidak meleset. Seusai pemungutan suara digelar, pasangan Jokowi dan Rudy berhasil ke luar sebagai pemenang dengan besaran raupan suara mencapai 37 persen.

Kemenangan itu mengkaparkan beberapa kandidat lain sebagai mitra tandingnya yang sudah sekian lama melintang pukang di ranah politik di tingkat lokal, regional, dan nasional.

Karena Jokowi yang berperawakan kurus dan terkesan bertampang ndeso secara ragawi bukanlah siapa-siapa dalam pusaran politik di Kota Solo dan Indonesia saat itu, maka tidak heran jika berita kemenangannya menggema secara serempak ke seluruh pelosok Indonesia.

Banyak politisi yang merasa pintar dan tidak pintar merasa ketika melakukan kalkulasi politik dalam berbagai kontestasi pesta demokrasi di negeri ini terjerembab diterpa rasa cengang.

Sembari gigit jari, mereka menyimak dengan saksama berita kemenangan seorang anak bantaran sungai bernama Jokowi yang berhasil menjadi pemenang dengan raupan suara terbanyak dalam perhelatan politik Pemilihan Walikota Solo saat itu.

Luar biasa kucuran anugerah Tuhan untuk seorang anak bantaran sungai bernama Jokowi.

Tampilan ragawi yang seringkali disemat pesaingnya dengan predikat ndeso ternyata sosok seorang pria idaman berhati emas yang memang ditakdirkan Tuhan sebagai Arsitek Agung menjadi sosok pemimpin mewakili kaum papa.

Halaman
123
Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved