Semana Santa Larantuka

Semana Santa Larantuka, Rangkaian Perayaan Pekan Suci di Kota Reinha Flores Timur NTT

Yang membuat unik perayaan Semana Santa Larantuka karena ada tambahan-tambahan atau mungkin lebih tepat disebut lebih mendetail

|
Editor: Agustinus Sape
Dok POS-KUPANG.COM
Inilah penampakan salah satu titik rute prosesi Jumat Agung di Larantuka. Para petugas sudah memasang lilin di kiri-kanan rute yang akan dilewati para peziarah. 

4. Jumat Agung

Pada hari Jumat Agung, pada pagi hari diadakan prosesi laut patung Tuan Ana dari Kota Rwido di Sarotari menuju Pante Kuce di Pohon Sirih. 

 

Selanjutnya, seperti biasa, pada pukul 15.00 atau jam 03.00 sore diadakan ibadah peringatan wafat Yesus Kristus dan cium salib di gereja Katedral Reinha Rosari Larantuka. Perayaan ini tidak ada bedanya dengan perayaan di gereja-gereja Katolik umumnya.

Setelah ibadah cium salib, bagi umat yang tidak mengikuti prosesi Jumat Agung dipersilakan kembali ke rumah masing-masing.

Sedangkan umat atau peziarah yang ingin mengikuti prosesi, mereka langsung mempersiapkan diri dan mengambil posisi dalam barisan prosesi yang akan melewati rute yang sudah berlaku tetap dan armida/perhentian.

Prosesi Jumat Agung biasanya dimulai pukul 19.00 atau jam 7 malam, barisan mulai bergerak dari pelataran gereja Katedral Reinha Rosari. Para peziarah paling kurang harus membawa lilin bernyala di tangan.

Para peziarah mesti siap fisik dan mental karena prosesi berlangsung sampai dini hari sekitar pukul 02.00 dan harus tahan berdiri di sepanjang rute prosesi. Ya, ini jalan salib panjang sambil melantunkan doa-doa dan nyanyian.

Menurut sejarahnya ketika prosesi ini digelar di awal-awal, nuansa kesan tobat dan syukur begitu mewarnai. Makna itulah yang terus dipelihara, dijaga, dan dipertahankan hingga sekarang.

Tak ayal, umat Katolik Larantuka menyebutnya dengan Sesta Vera. Prosesi Jumat Agung merupakan perarakan dalam mengantar jenazah Yesus Kristus setelah disalibkan.

Perarakan patung Tuan Ma dan Tuan Ana menuju Gereja Katedral Reinha Rosari dilaksanakan pukul 14.00 waktu setempat. Perarakannya diatur dengan susunan sebagai berikut:

* Genda Do, yang ditabuh terus-menerus sampai dengan selesai prosesi di malam hari.

* Serdati (Panji Conferia Reinha Rosari).

* Anak-anak yang membawa ornamen sengsara.

*Salib dan Serai (lilin besar yang mengait salib).

* Penyanyi O Vos dan Eus.

* Tangan Dayabu (tangan setan), yang merupakan lambang godaan setan sepanjang sejarah manusia.

* Gian de Morti (lukisan rangka manusia), yang merupakan lambang kematian dan pengaruh setan.

* Lampion (lambang terang).

* Krenti dan Krona Spina (rantai dan mahkota duri), yang merupakan lambang belenggu setan dan keangkuhan manusia.

* Paku dan pemukul.

* Pundi-pundi.

* Tongkat dan bunga karang.

*Lembing atau tombak.

* Dadu dalam piring.

* Buah-buahan.
* Tempayan.

* Ayam jantan.

* Salib.

* Tangga.

* Patung Tuan Ana.

* Umat promesa Tuan Ana.

* Patung Tuan Ma.

* Para pesadu confreria dan irmao confreria bersama raja.

* Umat promesa Tuan Ma.

Baca juga: BREAKING NEWS: Tiga Tahun Absen, Prosesi Semana Santa Larantuka Kembali Digelar

Sekitar pukul 18.00 waktu setempat, para umat berkumpul di Gereja Katedral Larantuka untuk melaksanakan lamentasi.

Selanjutnya, para confreria mengumandangkan ratapan Yeremiah dan nyanyian popule meus hingga perarakan patung keluar dari Gereja Katedral.

Suasana prosesi ini terkesan sunyi, meskipun diikuti oleh banyak orang.

Prosesi perarakan pun berjalan dengan melewati armida-armida. Armida bersifat temporal hanya ketika Prosesi Jumat Agung.

5. Minggu Halleluya/Minggu Paskah

Pada Minggu Paskah, dilaksanakan upacara ekaristi Paskah di gereja, sedangkan pada sore harinya para umat bersama dengan irmao confreria dan pesadu confreria mengantar patung Maria Halleluya dari Kapela Pantekebis ke Gereja Katedral untuk disemayamkan selama perayaan ekaristi.

Setelah selesai perayaan ekaristi, patung Maria Halleluya diarak kembali ke Kapela Pantekebis untuk pentakhtaan.

Prosesi ini dilakukan dengan acara Sera Punto Dama/sisa lilin (kegiatan penyerahan tugas mardomu dari yang lama kepada yang baru).

Acara Sera Punto Dama juga dilakukan di Kapela Missericordia Pante Besar setelah prosesi Minggu Paskah selesai.

Dengan demikian, berakhirlah prosesi suci Semana Santa yang panjang dengan Sesta Vera sebagai mahkotanya.

Sebagai budaya sakral warisan Portugis, ritus suci juga digelar di Konga dan Wureh.

Kapela, Armida, dan Tori

Di sini pun perlu dijelaskan sebutan kapela, armida dan tori, yang mungkin belum familiar bagi para peziarah dari jauh.

Larantuka memiliki banyak kapela. Hampir di setiap kampung terdapat kapela dengan pelindung yang berbeda-beda.

Kapela yang terbesar dan menjadi pusat Semana Santa adalah Kapela Tuan Ma dan Kapela Tuan Ana.

Selain itu, ada lagi dua kapela di ujung timur dan barat Larantuka yang menjadi perhatian ketika Semana Santa, yaitu Kapela Tuan Menino dan Kapela Misericordia.

Ketika Prosesi Jumat Agung, kapela-kapela kecil di kampung-kampung pun ikut memanjatkan doa dan menyalakan lilin tepat ketika prosesi atau perrsisa dimulai. Lilin tersebut baru boleh dimatikan tepat ketika persisa selesai dilaksanakan.

Dalam pelaksanaannya, perjalanan prosesi mengelilingi Kota Larantuka menyinggahi delapan armida/perhentian (lambang delapan suku yang berfungsi atau yang berperan dalam rangkaian acara ini), yaitu:

*Armida Suku Mulawato/Misericordia (Pantai Besar) di Kelurahan Lohayong dan Kelurahan Pohon Sirih, yaitu merenungkan janji Tuhan yang mengutus putra-Nya ke dunia.

* Armida umat Sarotari di Kelurahan Pohon Sirih dan Kelurahan Balela yang berpelindung Amu Tuan Meninu (Tuan Bayi Anak), yaitu merenungkan masa kanak-kanak Yesus.

* Armida Suku Amakelen dan Ama Hurint Balela di Kapela St. Philipus Balela, yaitu merenungkan masa hidup dan karya Yesus selama di dunia.
* Armida Suku Kapten Jentera dengan pelindung Amu Tuan Trewa (Tuan Terbelenggu), yaitu merenungkan Yesus yang ditangkap dan diadili.

* Armida Suku Riberu/Mater Dolorosa da Gomes di depan Kapela Tuan Ma, yaitu merenungkan Maria yang bersatu mengikuti jalan salib Yesus.

* Armida Suku Sau/Diaz di Kapela Benteng Daud/Pohon Sirih dengan pelindung St. Antonius dari Padua, yaitu merenungkan saat Yesus dijatuhi hukuman mati.
* Armida keluarga Raja Diaz Viera de Godinho di Armida Kuce yang berada di depan istana raja Larantuka, yaitu merenungkan Yesus yang telah wafat di kayu salib

* Armida Suku Amaleken Lewonama di Kapela Tuan Ana, yaitu merenungkan Yesus yang diturunkan dari kayu salib.

* Armida Suku Amaleken Lewonama menjadi pusat dari prosesi Jumat Agung dikarenakan prosesi perarakan berakhir di sini. Pada armada ini pula patung Yesus diturunkan dari salib dan diletakkan pada pangkuan Bunda Maria. Selanjutnya, seluruh umat kemudian diantar untuk masuk ke dalam Gereja Reinha Rosari Larantuka.

Selain kapela dan armida, terdapat juga tempat ibadah yang disebut dengan Tori. Tori adalah rumah yang secara khusus dijadikan sebagai tempat ibadah dan menyimpan benda-benda suci seperti salib dan patung peninggalan nenek moyang.

Tori-tori ini adalah milik suku-suku tertentu yang menjaga pusaka mereka secara turun-temurun.

Tori-tori itu antara lain Tori Tuan Trewa, Tori Suku Teluma/ Da Santo, Tori Mesti De Kampu/Tori Pante Kebis, dan Tori Lewai.

(*)

Ikuti berita POS-KUPANG.COM di GOOGLE NEWS

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved