Semana Santa Larantuka
Semana Santa Larantuka, Rangkaian Perayaan Pekan Suci di Kota Reinha Flores Timur NTT
Yang membuat unik perayaan Semana Santa Larantuka karena ada tambahan-tambahan atau mungkin lebih tepat disebut lebih mendetail
POS-KUPANG.COM - Perayaan Pekan Suci atau Semana Santa Larantuka berlangsung dalam rangkaian kalender liturgi perayaan Pekan Suci Gereja Katolik universal.
Yang membuat unik perayaan Semana Santa Larantuka karena ada tambahan-tambahan atau mungkin lebih tepat disebut lebih mendetail dari perayaan Pekan Suci pada umumnya.
Lagi pula suasana sakralnya sangat terasa karena petugas dan peziarah harus benar-benar patuh pada tata cara dan aturan yang sudah berlaku di sana. Jadi orang tidak bisa seenaknya. Ada semacam ketakutan rohani ketika mengikuti perayaan Semana Santa Larantuka.
Ritual Semana Santa atau orang Larantuka menyebutnya Hari Bae dilaksanakan selama tujuh hari berturut-turut oleh umat Katolik di Larantuka, Flores Timur.
Kata semana santa berasal dari bahasa Portugis. Semana yang berarti pekan atau minggu dan santa yang berarti suci.
Secara keseluruhan, semana santa berarti pekan suci yang dimulai dari Minggu Palma, Rabu Pengkhianatan/Rabu Trewa, Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Suci hingga perayaan Minggu Halleluya atau Minggu Paskah.
Pada saat perayaan ini berlangsung, warga Kota Larantuka di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur selalu antusias menyambut perayaan ditemukannya patung Tuan Ma (Bunda Maria).
Para peziarah dari sejumlah penjuru tanah air berdatangan ke kota Bunda Maria itu. Mereka ingin menyaksikan perayaan besar tersebut sekaligus ingin mendapatkan mukjizat. Bahkan ada di antara peziarah yang justru sedang menderita sakit, misalnya sakit strok dan sakit cacat atau sakit berat lainnya.
Peziarah yang sakit seperti itu kebanyakan didampingi oleh anggota keluarganya agar dapat mencium Tuan Ma.
Para peziarah yang datang dari daratan Flores, Timor, Sumba, dan Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur kebanyakan merupakan generasi muda.
Baca juga: Semana Santa Larantuka, Sejarah Prosesi Jumat Agung di Kota Reinha Flores Timur
Mengutip Wikipedia.org, orang Flores yang sudah tua dan tinggal di perantauan biasanya menyuruh anak mereka untuk mengikuti ziarah tersebut.
Salah satu dari peziarah bernama Manecas da Costa menjelaskan bahwa sepulangnya dari Larantuka, perwakilan keluarga biasanya akan membawa air berkat hasil cucian patung Tuan Ma dan Tuan Ana yang diyakini dapat menyembuhkan penyakit dan mengusir setan.
Selain mengenakan pakaian berwarna hitam, biasanya peziarah juga membawa doa rosario dan gambar-gambar kudus untuk disimpan di sekitar patung Tuan Ma dan Tuan Ana.
Gambar-gambar itu diyakini akan diberkati oleh Tuan Ma untuk keselamatan seluruh keluarga.
Adapun rangkaian prosesi Semana Santa secara keseluruhan, yaitu Minggu Palma, Rabu Trewa, Kamis Putih, Jumat Agung atau Sesta Vera, Sabtu Santo/Suci, hingga perayaan Minggu Halleluya atau Minggu Paskah.
1. Minggu Palma
Minggu Palma adalah rangkaian awal dalam ritual Semana Santa. Masyarakat lokal menyebutnya Minggu Palma dengan nama Dominggu Ramu atau Minggu Daun-Daun.
Minggu Palma tidak hanya diwarnai dengan perayaan liturgis saja, tetapi juga perayaan devosi. Confreria dan para umat akan mengadakan persisan, yaitu sebuah prosesi mengelilingi katedral dalam rangka mengenang Yesus memasuki Kota Lama Yerusalem.
Pada saat itu, Yesus dianggap sebagai raja dengan sebutan Hosana Filio David.
2. Rabu Trewa/Rabu Terbelenggu
Rabu dalam pekan suci ini oleh masyarakat Larantuka disebut dengan Rabu Trewa. Tradisi Rabu Trewa memang unik karena hanya ada di Larantuka dan wilayah di sekitarnya.
Masyarakat setempat menyebut Trewa karena berdasarkan sejarahnya pada hari tersebut Yesus dibelenggu dan menjadi awal dari kisah sengsara Yesus. Rabu Trewa merupakan tradisi yang memiliki ciri khas dari masyarakat Nagi.
Pada Rabu Trewa, umat Katolik Larantuka akan memenuhi dua kapela, yakni Kapela Tuan Ma di Pantai Kebis, Kelurahan Larantuka, dan Kapela Tuan Ana di Kelurahan Lohayong.
Rabu Trewa di Larantuka ditandai dengan penutupan “mengaji” Semana Santa (berdoa sambil bernyanyi) yang merupakan giliran Kapten Jentera atau Fernandez Aikoli Kampung Larantuka.
Salah satu umat atau tokoh Katolik Larantuka, Bernardus Tukan memperjelas bahwa prosesi ini dilakukan secara bergilir oleh 13 suku, yaitu Suku Kabelen (Resiona), Suku Lewi (Kabu dan Leweni), Suku Kea (Aliandu), Suku Sau (Diaz), Raja Ama Kelen (de Rosary), Raja Ama Koten (Diaz Viera da Godinho), Suku Maran, Suku Riberu da Gomez, Suku Kelen, Suku Lamury, Suku Mulowato, Suku Lawerang, dan Suku Kapten Jentera atau Fernandez Aikoli.
Pada pagi hari akan diadakan doa di Kapela Maria dengan upacara yang diatur secara baku oleh suku-suku yang telah mentradisi.
Doa Semana Santa sendiri dihantar oleh mama muji (ibu-ibu penyanyi dalam bahasa Latin atau Portugis), sedangkan pada sore harinya diadakan lamentasi (ratapan Nabi Yeremia) di Gereja Katedral Reinha Rosari Larantuka yang dilakukan menurut ritus gereja Katolik Romawi Kuno di Postoh, Larantuka, Flores Timur.
Di akhir lamentasi dibuat semacam keributan dan kegaduhan dengan teriakan “trewa, trewa, trewa!”.
Baca juga: Semana Santa Larantuka Kembali Digelar, Pemkab Flores Timur Akomodasi Penginapan
Pada zaman dahulu acara ini memperbolehkan penghancuran kapal-kapal yang ada di pelabuhan serta dihiasi pula dengan pesta dan mabuk-mabukan, tetapi hal tersebut kini tidak dilakukan lagi.
3. Kamis Putih
Kegiatan Kamis Putih diawali dengan perayaan perjamuan Kudus oleh Uskup Larantuka yang bersifat liturgis.
Sementara itu, mardomu bersama dengan keluarga, kerabat, dan umat melaksanakan tradisi tikan turo, yaitu memasang tiang dari kayu dan bambu tempat pemasangan lilin untuk devosi Jumat Agung serta membangun armida.
Kegiatan lantas dilanjutkan dengan upacara Muda Tuan pada siang hari, yakni upacara pembukaan peti patung Tuan Ma atau Mater Dolorosa yang selama satu tahun ditutup oleh petugas confreria yang diangkat melalui sumpah.
Setelah dibuka, patung Mater Dolorosa dibersihkan, dimandikan, dan dihiasi.
Sub ritual ini tertutup untuk umum. Hanya confreria dan orang-orang terpilih saja yang dapat ikut serta dalam upacara Muda Tuan.
Sebelum umat dan peziarah dapat melakukan devosi cium Tuan Ma, pintu kapela secara simbolis dibuka oleh raja keturunan Diaz Viera de Godinho pada sore hari.
Pembukaan pintu Kapela Tuan Ma yang disebut dengan buka pintu tuan ini adalah salah satu bagian dan permulaan sub ritual cium Tuan Ma.
Sebelum membuka pintu kapela tersebut, raja berdoa dan meminta restu kepada raja-raja sebelumnya, termasuk kepada Watowele (leluhur para Raja Larantuka yang berasal dari Gunung Ile Mandiri).
Setelah pintu kapela dibuka, dimulailah devosi cium Tuan Ma. Menurut Bernardus Tukan, kesempatan tersebut diberikan kepada para umat untuk bersujud dengan menyampaikan promesa (permohonan berkat dan rahmat).
Para umat meyakini bahwa Bunda Maria akan membawa doa dan permohonannya kepada Tuhan Yesus (Per Mariam ad Jesum).
Seperti tradisi Gereja Katolik umumnya, pada Kamis Putih malam di Gereja Reinha Rosari diadakan perayaan ekaristi pembasuhan kaki 12 rasul yang dilanjutkan dengan adorasi (penyembahan umum), doa bergilir di depan sakramen Maha Kudus, mencium Tuan Ma di Kapela Tuan Ma, dan mencium Tuan Ana di Kapela Tuan Ana.
Tahap yang disebut dengan promesa lakademu ini disiapkan secara sukarela oleh beberapa orang.
Adapun tugas dari lakademu atau nikodemus hanya dari Gereja Reinha Rosari sampai ke Kapela Tuan Ana selama prosesi Jumat Agung malam.
Para anggota lakademu yang dipilih secara sukarela dan rahasia ini memeriksa rute perjalanan dan mengecek kesiapan armida-armida (tempat perhentian).
Aksi jalan-jalan melakukan “inspeksi” ini disebut dengan jalan kure. Para lakademu berjalan bergandengan tangan sepanjang rute prosesi dan berhenti di tiap armida untuk memeriksa keamanan jalan dan keadaan sekitar armida itu.
4. Jumat Agung
Pada hari Jumat Agung, pada pagi hari diadakan prosesi laut patung Tuan Ana dari Kota Rwido di Sarotari menuju Pante Kuce di Pohon Sirih.
Selanjutnya, seperti biasa, pada pukul 15.00 atau jam 03.00 sore diadakan ibadah peringatan wafat Yesus Kristus dan cium salib di gereja Katedral Reinha Rosari Larantuka. Perayaan ini tidak ada bedanya dengan perayaan di gereja-gereja Katolik umumnya.
Setelah ibadah cium salib, bagi umat yang tidak mengikuti prosesi Jumat Agung dipersilakan kembali ke rumah masing-masing.
Sedangkan umat atau peziarah yang ingin mengikuti prosesi, mereka langsung mempersiapkan diri dan mengambil posisi dalam barisan prosesi yang akan melewati rute yang sudah berlaku tetap dan armida/perhentian.
Prosesi Jumat Agung biasanya dimulai pukul 19.00 atau jam 7 malam, barisan mulai bergerak dari pelataran gereja Katedral Reinha Rosari. Para peziarah paling kurang harus membawa lilin bernyala di tangan.
Para peziarah mesti siap fisik dan mental karena prosesi berlangsung sampai dini hari sekitar pukul 02.00 dan harus tahan berdiri di sepanjang rute prosesi. Ya, ini jalan salib panjang sambil melantunkan doa-doa dan nyanyian.
Menurut sejarahnya ketika prosesi ini digelar di awal-awal, nuansa kesan tobat dan syukur begitu mewarnai. Makna itulah yang terus dipelihara, dijaga, dan dipertahankan hingga sekarang.
Tak ayal, umat Katolik Larantuka menyebutnya dengan Sesta Vera. Prosesi Jumat Agung merupakan perarakan dalam mengantar jenazah Yesus Kristus setelah disalibkan.
Perarakan patung Tuan Ma dan Tuan Ana menuju Gereja Katedral Reinha Rosari dilaksanakan pukul 14.00 waktu setempat. Perarakannya diatur dengan susunan sebagai berikut:
* Genda Do, yang ditabuh terus-menerus sampai dengan selesai prosesi di malam hari.
* Serdati (Panji Conferia Reinha Rosari).
* Anak-anak yang membawa ornamen sengsara.
*Salib dan Serai (lilin besar yang mengait salib).
* Penyanyi O Vos dan Eus.
* Tangan Dayabu (tangan setan), yang merupakan lambang godaan setan sepanjang sejarah manusia.
* Gian de Morti (lukisan rangka manusia), yang merupakan lambang kematian dan pengaruh setan.
* Lampion (lambang terang).
* Krenti dan Krona Spina (rantai dan mahkota duri), yang merupakan lambang belenggu setan dan keangkuhan manusia.
* Paku dan pemukul.
* Pundi-pundi.
* Tongkat dan bunga karang.
*Lembing atau tombak.
* Dadu dalam piring.
* Buah-buahan.
* Tempayan.
* Ayam jantan.
* Salib.
* Tangga.
* Patung Tuan Ana.
* Umat promesa Tuan Ana.
* Patung Tuan Ma.
* Para pesadu confreria dan irmao confreria bersama raja.
* Umat promesa Tuan Ma.
Baca juga: BREAKING NEWS: Tiga Tahun Absen, Prosesi Semana Santa Larantuka Kembali Digelar
Sekitar pukul 18.00 waktu setempat, para umat berkumpul di Gereja Katedral Larantuka untuk melaksanakan lamentasi.
Selanjutnya, para confreria mengumandangkan ratapan Yeremiah dan nyanyian popule meus hingga perarakan patung keluar dari Gereja Katedral.
Suasana prosesi ini terkesan sunyi, meskipun diikuti oleh banyak orang.
Prosesi perarakan pun berjalan dengan melewati armida-armida. Armida bersifat temporal hanya ketika Prosesi Jumat Agung.
5. Minggu Halleluya/Minggu Paskah
Pada Minggu Paskah, dilaksanakan upacara ekaristi Paskah di gereja, sedangkan pada sore harinya para umat bersama dengan irmao confreria dan pesadu confreria mengantar patung Maria Halleluya dari Kapela Pantekebis ke Gereja Katedral untuk disemayamkan selama perayaan ekaristi.
Setelah selesai perayaan ekaristi, patung Maria Halleluya diarak kembali ke Kapela Pantekebis untuk pentakhtaan.
Prosesi ini dilakukan dengan acara Sera Punto Dama/sisa lilin (kegiatan penyerahan tugas mardomu dari yang lama kepada yang baru).
Acara Sera Punto Dama juga dilakukan di Kapela Missericordia Pante Besar setelah prosesi Minggu Paskah selesai.
Dengan demikian, berakhirlah prosesi suci Semana Santa yang panjang dengan Sesta Vera sebagai mahkotanya.
Sebagai budaya sakral warisan Portugis, ritus suci juga digelar di Konga dan Wureh.
Kapela, Armida, dan Tori
Di sini pun perlu dijelaskan sebutan kapela, armida dan tori, yang mungkin belum familiar bagi para peziarah dari jauh.
Larantuka memiliki banyak kapela. Hampir di setiap kampung terdapat kapela dengan pelindung yang berbeda-beda.
Kapela yang terbesar dan menjadi pusat Semana Santa adalah Kapela Tuan Ma dan Kapela Tuan Ana.
Selain itu, ada lagi dua kapela di ujung timur dan barat Larantuka yang menjadi perhatian ketika Semana Santa, yaitu Kapela Tuan Menino dan Kapela Misericordia.
Ketika Prosesi Jumat Agung, kapela-kapela kecil di kampung-kampung pun ikut memanjatkan doa dan menyalakan lilin tepat ketika prosesi atau perrsisa dimulai. Lilin tersebut baru boleh dimatikan tepat ketika persisa selesai dilaksanakan.
Dalam pelaksanaannya, perjalanan prosesi mengelilingi Kota Larantuka menyinggahi delapan armida/perhentian (lambang delapan suku yang berfungsi atau yang berperan dalam rangkaian acara ini), yaitu:
*Armida Suku Mulawato/Misericordia (Pantai Besar) di Kelurahan Lohayong dan Kelurahan Pohon Sirih, yaitu merenungkan janji Tuhan yang mengutus putra-Nya ke dunia.
* Armida umat Sarotari di Kelurahan Pohon Sirih dan Kelurahan Balela yang berpelindung Amu Tuan Meninu (Tuan Bayi Anak), yaitu merenungkan masa kanak-kanak Yesus.
* Armida Suku Amakelen dan Ama Hurint Balela di Kapela St. Philipus Balela, yaitu merenungkan masa hidup dan karya Yesus selama di dunia.
* Armida Suku Kapten Jentera dengan pelindung Amu Tuan Trewa (Tuan Terbelenggu), yaitu merenungkan Yesus yang ditangkap dan diadili.
* Armida Suku Riberu/Mater Dolorosa da Gomes di depan Kapela Tuan Ma, yaitu merenungkan Maria yang bersatu mengikuti jalan salib Yesus.
* Armida Suku Sau/Diaz di Kapela Benteng Daud/Pohon Sirih dengan pelindung St. Antonius dari Padua, yaitu merenungkan saat Yesus dijatuhi hukuman mati.
* Armida keluarga Raja Diaz Viera de Godinho di Armida Kuce yang berada di depan istana raja Larantuka, yaitu merenungkan Yesus yang telah wafat di kayu salib
* Armida Suku Amaleken Lewonama di Kapela Tuan Ana, yaitu merenungkan Yesus yang diturunkan dari kayu salib.
* Armida Suku Amaleken Lewonama menjadi pusat dari prosesi Jumat Agung dikarenakan prosesi perarakan berakhir di sini. Pada armada ini pula patung Yesus diturunkan dari salib dan diletakkan pada pangkuan Bunda Maria. Selanjutnya, seluruh umat kemudian diantar untuk masuk ke dalam Gereja Reinha Rosari Larantuka.
Selain kapela dan armida, terdapat juga tempat ibadah yang disebut dengan Tori. Tori adalah rumah yang secara khusus dijadikan sebagai tempat ibadah dan menyimpan benda-benda suci seperti salib dan patung peninggalan nenek moyang.
Tori-tori ini adalah milik suku-suku tertentu yang menjaga pusaka mereka secara turun-temurun.
Tori-tori itu antara lain Tori Tuan Trewa, Tori Suku Teluma/ Da Santo, Tori Mesti De Kampu/Tori Pante Kebis, dan Tori Lewai.
(*)
Ikuti berita POS-KUPANG.COM di GOOGLE NEWS
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.