Berita Rote Ndao
Pemkab Rote Ndao Terima Dokumen Naskah Akademik Program ATSEA-2 dari UNDP
Pada kesempatan tersebut, Bupati Paulina menyampaikan bahwa Kabupaten Rote Ndao memiliki Sumber Daya Alam (SDA) yang tinggi dan menjanjikan
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Mario Giovani Teti
POS-KUPANG.COM, BA'A - Pemerintah Kabupaten Rote Ndao menerima Dokumen Naskah Akademik program
Arafura and Timor Seas Ecosystem Action fase kedua atau ATSEA-2 dari United Nations Development Programme (UNDP) di ruangan TBUPP (Tim Bupati untuk Percepatan Pembangunan) pada Kamis, 02 Maret 2023.
Dokumen Naskah Akademik Program ATSEA-2 ini diterima langsung oleh Bupati Rote Ndao Paulina Haning-Bullu didampingi Sekda Rote Ndao, Jonas M Selly, Asisten Administrasi Pemerintahan dan Kesra, Untung Harjito, Asisten Adminitrasi Perekonomian dan Pembangunan, Armis Saek dan Kabag Hukum, Hangry Mooy.
Baca juga: Pulangkan Nelayan Papela Rote yang Terdampar di Maluku, BPBD Rote Ndao Koordinasi dengan BPBD Maluku
Adapun penyerahan dokumen tersebut diserahkan oleh National Project Coordinator, ATSEA-2 Project, Dwi Ariyoga Gautama. Sebelumnya, abstraksi dokumen ini dibacakan oleh akademisi Universitas Nusa Lontar, Suryati Mandala.
Usai penyerahan Dokumen Naskah Akademik Program ATSEA-2, dilanjutkan dengan penandatanganan berita acara penyerahan.
Untuk diketahui, penyerahan Dokumen Naskah Akademik Program ATSEA-2 tersebut, dalam rangka mendukung rancangan peraturan daerah pengelolaan dan perlindungan wilayah pesisir dan lingkungan hidup Kabupaten Rote Ndao.
Baca juga: Rusak Lokasi Wisata, Camat Loura Larang Warga Tambang Pasir di Pantai Mananga Aba
Pada kesempatan tersebut, Bupati Paulina menyampaikan bahwa Kabupaten Rote Ndao memiliki Sumber Daya Alam (SDA) yang tinggi dan menjanjikan dalam tata kelola wilayah pesisir terpadu.
"Perlu diketahui, Rote Ndao memiliki sumber daya alam yang tinggi dan menjanjikan dengan produksi perikanan sebesar 3,361 ton, rumput laut kering sebanyak 15,776 ton, serta non perikanan pada tahun 2017, sebanyak 187,4 ton," sebut Bupati Paulina.
Ia melanjutkan, kemudian pada sektor pariwisata, wisatawan yang berkunjung dari tahun 2019 sampai tahun 2021 terus meningkat. Mulai dari 4.988-7.500 wisatawan yang membantu sektor ekonomi dari masyarakat Rote Ndao.
Srikandi Rote Ndao ini menambahkan, ketiga ekosistem utama tersebut, telah menopang mata pencaharian dari 2.393 rumah tangga perikanan.
"Diharapkan tata kelola pengelolaan wilayah pesisir terpadu, perlu didorong dalam menangani isu-isu adaptis terhadap perubahan iklim dan tanggap kebencanaan," pesan Bupati Paulina.
Baca juga: Banjir Rob, Air Laut Masuk ke Perkebunan Warga di Halla Rote Ndao
Dirinya kembali menerangkan, setidaknya ada 5 domain yang perlu ditangani dan diatur dalam kebijakan yaitu, meliputi perlindungan, restorasi dan pengelolaan habitat, mekanisme peringatan dini untuk tanggap terhadap kebencanaan alam, juga meningkatan masyarakat yang prevalensi terhadap kebencanaan melalui ketahanan pangan, pengelolaan mata pencaharian alternatif dan pengelolaan air bersih.
Lalu juga mencegah polusi dan pengelolaan limbah, serta meningkatkan peran perempuan dalam tata kelola pesisir.
Ranah kebijakan ini, bagi Bupati Paulina, perlu juga memastikan harmonisasi peraturan di tingkat nasional, tata ruang pesisir dan wacana jangka panjang dan pendek di daerah.
Baca juga: Resmikan Embung Noisek, Bupati Rote Ndao Sampaikan Mereka Dipilih Tuhan Untuk Masyarakat
Dengan begitu, tambahnya, agar dapat memastikan dan mengatur hal-hal teknis dalam mendukung ruang masyarakat, guna memanfaatkan sumber daya alam dan pesisir dengan lestari dan berdaya saing secara ekonomi.
"Harapan kami juga tentu pembuatan garam itu bisa terealisasi, karena di Rote memang mempunyai potensi. Banyak sekali potensi untuk produksi garam," ujar Bupati Paulina.
Selain itu, dirinya mengingatkan, dengan adanya kerjasama antara pihak ketiga, dengan maksud untuk mendorong program ATSEA, supaya dapat meningkatkan ekonomi daripada masyarakat Rote Ndao.
"Masyarakat juga membutuhkan sentuhan-sentuhan, bukan saja dari pemerintah, tetapi tentunya juga dari pihak ketiga untuk mendongkrak ekonomi masyarakat, sehingga bertumbuh, hidup lebih sejahtera dan bermartabat," tutul Bupati Paulina.
Selanjutnya, National Project Coordinator, ATSEA-2 Project, Dwi Ariyoga Gautama yang kerap disapa Yoga mengatakan, implementasi program ATSEA-2 ini berlangsung selama 4 tahun untuk melihat isu-isu yang perlu dibuatkan suatu kebijakan dalam menciptakan kesejahteraan masyarakat.
"Implementasi program ATSEA-2 selama 4 tahun ini, yang kemudian kami jadikan sebagai pembelajaran di lapangan, untuk melihat hal-hal apa yang perlu dibuatkan suatu kebijakan dalam menyejahterakan masyarakat," ungkap Yoga.
Baca juga: BPBD Rote Ndao Tinjau Bencana Longsor dan Tanggul Jebol di Desa Siomeda
Ia mengisahkan, ketika program ASTEA-2 masuk di Rote Ndao, salah satu isu yang terbesar yakni tentang kebencanaan.
"Kami melihat pencemaran maupun kebencanaan itu secara langsung dampaknya ke masyarakat. Kemudian masyarakat tidak ada opsi lain terkait mata pencaharian yang mengandalkan potensi laut dan hal ini akan mengancam kesejahteraan masyarakat," pungkasnya.
Sebab itu, kata Yoga, salah satu aspek yang dijalankan adalah memberikan ruang kepada ekonomi di tingkat masyarakat UMKM untuk bisa tumbuh dan tahan terhadap kebencanaan.
Baca juga: BPBD Rote Ndao Tinjau Bencana Longsor dan Tanggul Jebol di Desa Siomeda
"Karena program ATSEA ini masih berjalan dan akan habis di Januari 2024, di akhir program ini, kami lebih banyak merumuskan kebijakan yang disampaikan kepada Pemda untuk menjadi pertimbangan guna mengedepankan isu-isu lingkungan di Rote Ndao," tandasnya.
Yoga juga berharap kerja sama UNDP kedepannya tidak putus di program ATSEA saja. Menurutnya, program ATSEA ini hanya sebuah proyek, tetapi keberlanjutannya terhadap program-program di pesisir yang harus senantiasa dikolaborasikan.
Karena, masih kata dia, program ATSEA merupakan bagian dari program KKP yang berkaitan dengan SDM, pengembangan manusianya akan terus ada di Rote Ndao.
"Lalu pesan dari Ibu Bupati terkait dukungan untuk produksi garam. Untuk diketahui, dari KKP akan mulai turun Bulat Maret guna dilakukannya survei lokasi mana yang cocok untuk pembuatan garam skala desa. Jadi tidak membutuhkan lahan yang luas," kata Yoga.
Baca juga: Genjot Ekonomi Pokmas Proyek ATSEA-2, Pemkab Rote Ndao dan Bank NTT Kick Off MoU serta PKS
Lebih lanjut ujar dia, terkait produksi garam, sudah ada pengembangan teknologi terbarukan, bisa produksi garam di skala desa, pihaknya bersama KKP akan mecoba bertahap, mungkin tahun ini satu desa dahulu.
"Nanti kita lihat produksinya, kalau sukses, saya pikir bisa direplikasi atau diduplikasi prosesnya dan bekerjasama dengan KKP," terang Yoga.
"Terima kasih untuk Ibu Bupati, semoga apa yang sudah dihasilkan melalui program 4 tahun ATSEA ini, bisa dirumuskan menjadi suatu kebijakan yang membantu Pemkab Rote Ndao," sambungnya. (Rio)
Ikuti berita POS-KUPANG.COM lainnya di GOOGLE NEWS
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/program-atsea-2.jpg)