Opini Pos Kupang
Bahaya Pandemic Fatigue Syndrom
Sudah satu tahun lebih kita menjalani hidup dalam masa pandemi Covid-19. Belum lagi, muncul varian baru dari virus corona
Karena itu, hemat saya, dalam kurun waktu satu tahun masa pandemi covid-19, sebenarnya kita sudah mengalami sindrom ini. Hanya intensitas dan tingkat keparahannya yang berbeda satu dengan lainnya.
Semua itu tergantung pada kondisi piskis, pikiran, dan strategi koping yang digunakan setiap orang dalam menghadapi situasi baru. Jelaslah bahwa kondisi ini mengakibatkan banyak dari kita sudah mulai mengalami demotivasi untuk mentaati prokes dan aturan yang ada.
Memang selama satu tahun lebih pandemi covid-19 merebak, kita semua sudah berjuang untuk beradaptasi dengan gaya hidup baru dan situasi baru yang tidak biasa. Segala kebijakan dan aturan yang diberlakukan juga sudah ditaati, baik dengan kesadaran, maupun dengan loyalitas yang besar.
Akan tetapi, rasa jenuh atau bosan jelas tidak bisa terhindarkan, karena potensi ini berkembang dari kebiasaan baru yang pada akhirnya tidak bisa lagi diikuti. Aktivitas dan kebiasaan kita sebagai orang NTT yang nota bene hidup sosialnya sangat tinggi, dan selalu memelihara tali kekeluargaan yang dibentuk dari interaksi intens secara langsung (face to face), mengakibatkan kecenderungan kelelahan akibat pandemi tidak bisa terhindarkan.
Kendati demikian, sindrom ini bukanlah sesuatu yang berbahaya dan menakutkan, tetapi hanyalah sebuah gejala psikis sementara yang bisa berangsur pulih manakala situasi dan kondisi semakin membaik dan kembali seperti biasa.
Maka dari itu, jika memang potensi sindrom ini sedang kita alami, maka dengan penuh kesadaran harus kita cegah agar tidak berlangsung lama. Beberapa hal yang mungkin bisa menjadi pegangan kita agar terhindari dari sindrom ini antara lain: Pertama, pemerintah disarankan membuat regulasi yang berfokus pada kesehatan psikis masyarakat secara umum.
Kebijakan harus dibuat berbasis data dan kajian ilmiah agar bisa tepat sasar.
Kedua, penting juga untuk mencari community based solution, dalam arti melibatkan anggota masyarakat dalam penyesuaian terhadap situasi pandemi.
Di sini diperlukan adanya keterbukaan dan perubahan gaya hidup dari setiap kita. Ketiga, hindari melakukan doomscrolling. Dalam arti yang sederhana, doomscrolling adalah kecenderungan untuk menelusuri media sosial terus-menerus, terutama untuk mencari berita-berita negatif.
Bila terus dilakukan, kebiasaan ini dapat menimbulkan efek fisik maupun psikis. Pandemi covid-19 memang memaksa kita untuk di rumah saja dan salah satu hiburan yang praktis adalah membuka sosial media. Namun, sebaiknya hindari untuk sengaja mencari atau mendengarkan berita negatif di TV atau di media sosial.
Pasalnya, doomscrolling justru dapat meningkatkan rasa takut, ketidakpastian, kecemasan dan kelelahan. Jika kita merasa sudah terjerumus ke dalam doomscrolling sebaiknya jauhi media sosial.
Keempat, mungkin kita bisa meluangkan waktu untuk introspeksi diri dan merenungkan apa yang akan kita lakukan serta konsekuensinya. Bila kita merasa jengkel, tidak sabar, marah, atau lelah, cemas dan stres, kita harus terima bahwa semua yang sedang dihadapi ini, adalah hal normal dan dapat dimengerti selama masa sulit.
Pikirkan bahwa apa yang kita alami saat ini adalah hal yang wajar dan bukan kita saja yang merasakan hal tersebut. Ini adalah masalah global yang sedang dialami bersama. Karena itu, perlu merilekskan diri dan pikiran agar tidak terjerumus dalam kelelahan psikis.
Catatan terakhir yang tak kalah penting adalah membangun ketahanan keluarga agar kita bisa memiliki kekuatan untuk bangkit melawan masifnya virus ini. Salam sehat untuk kita semua. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/ketika-jokowi-menjenguk-korban-bencana.jpg)