Jumat, 8 Mei 2026

Opini Pos Kupang

Bahaya Pandemic Fatigue Syndrom

Sudah satu tahun lebih kita menjalani hidup dalam masa pandemi Covid-19. Belum lagi, muncul varian baru dari virus corona

Tayang:
Editor: Kanis Jehola
DOK POS-KUPANG.COM
Logo Pos Kupang 

Oleh : Wardy Kedy, Peneliti di bidang Psikologi Sosial

POS-KUPANG.COM - Sudah satu tahun lebih kita menjalani hidup dalam masa pandemi Covid-19. Belum lagi, muncul varian baru dari virus corona yakni B.117 asal Inggris, B.1351 asal Afrika Selatan dan varian mutasi ganda dari India, B.1617 yang telah menjadi ancaman besar bagi keberlangsungan hidup dan aktivitas kita.

Kondisi pandemi yang dialami saat ini berdampak pada seluruh aspek seperti kesehatan, finansial, pendidikan, dan sebagainya. Perubahan pada beberapa aspek kehidupan membuat kita perlu beradaptasi dengan situasi dan kondisi saat ini.

Kondisi pandemi yang belum ada kepastian ini membuat masyarakat mulai jenuh dan lelah. Kelelahan yang paling besar dirasakan adalah kelelahan psikologis. Kelelahan dan kejenuhan akibat pandemi memang adalah hal yang wajar, karena sampai saat ini kita masih belum menemukan kepastian kapan pandemi ini akan berakhir.

Baca juga: Waspadai Lonjakan Kasus Covid-19

Baca juga: 29 Koperasi di Nagekeo Tidak Menjalankan Usahanya

Dalam kajian psikologi, kelelahan akibat pandemi dikenal dengan istilah pandemic fatigue (syndrom). Banyak analisis yang menemukan bahwa kelelahan pandemi tidak dapat dihindari dan bisa dialami siapa pun.

Memang sindrom kelelahan pandemi ini tidak terjadi dalam kurun waktu yang lama dan terus menerus, melainkan terjadi pada kondisi dan situasi tertentu, khususnya ketika seorang mulai merasa sangat jenuh dan pasrah terhadap keadaan.

Selain itu, kondisi ini juga dipengaruhi oleh emosi, pengalaman, dan persepsi selama proses adaptasi terhadap situasi. Alasan lain adalah karena berkembangnya rasa putus asa, dan depresi akibat kepastian berakhirnya pandemi yang tidak bisa diprediksi.

Hasil penelitian yang dilakukan di antara penduduk Istanbul, menunjukkan bahwa sekitar 64,1 persen masyarakat mengalami kelelahan psikologis sebagai masalah kesehatan mental utama akibat efek pandemi Covid-19 (CNN Indonesia, 30/1/21).

Baca juga: FPRB NTT Gelar Workshop Sosialisasi Internalisasi Pentahelix, Dunia Usaha, Universitas dan Media

Baca juga: Promo KFC Kamis 20 Mei 2021, Promo KFC Personal Snack Bucket 4 Potong Chicken Strip Mulai RP 29.091

Ini menunjukkan bahwa faktor psikologis memainkan peran penting selama pandemi. Hal ini disebabkan oleh peningkatan kasus virus corona yang signifikan dari hari ke hari, sehingga mengakibatkan munculnya stres dalam diri individu.

Selain itu, faktor seperti kehilangan orang yang mereka cintai, krisis keuangan, pembatasan pergerakan dan aktivitas masyarakat, PSBB, penutupan tempat hiburan, pusat perbelanjaan, tempat kerja dan sekolah, serta isolasi diri, juga telah berkontribusi banyak pada masalah psikologis, sehingga meningkatkan masalah kesehatan mental yang tidak boleh terabaikan.

Disamping itu, studi lain juga menyoroti bahwa perubahan dalam praktik normal seperti menghindari tempat umum, tidak boleh berkerumun, menjaga jarak fisik, stres karena mencuci tangan sepanjang waktu, dan peningkatan informasi tentang penularan virus melalui media, turut memberi andil dalam meningkatkan pandemic fatigue seseorang.

Berkaca dari perilaku dan kebiasaan kita orang NTT, dapat dikatakan bahwa protokol kesehatan menjadi sulit dipertahankan karena kita cenderung mengutamakan relasi keluarga dan kegembiraan.

Tak heran jika sebagian besar orang mengeluh kesulitan beraktivitas secara bebas, atau mengeluh susah liburan dan melaksanakan ibadah atau acara keluarga. Semisal, ketika diberlakukan larangan mudik pada beberapa waktu lalu, ternyata disitulah bibit sindrom kelelahan pandemi muncul.

Hal ini dibuktikan dengan adanya pelanggaran yang dibuat masyarakat atas aturan tersebut. Problematika ini perlu dievaluasi oleh semua pihak, khususnya pembuat kebijakan, agar bisa menemukan jalan keluar yang tepat dengan tidak mengesampingkan kebutuhan psikologis masyarakat umum.

Sebenarnya pandemic fatigue ini adalah sindrom yang sudah diprediksi sebelumnya, terutama ketika terjadi krisis kepatuhan publik yang berkepanjangan terhadap berbagai kebijakan sehingga menimbulkan kejenuhan sosial akibat situasi yang berbeda dari biasanya.

Karena itu, hemat saya, dalam kurun waktu satu tahun masa pandemi covid-19, sebenarnya kita sudah mengalami sindrom ini. Hanya intensitas dan tingkat keparahannya yang berbeda satu dengan lainnya.

Semua itu tergantung pada kondisi piskis, pikiran, dan strategi koping yang digunakan setiap orang dalam menghadapi situasi baru. Jelaslah bahwa kondisi ini mengakibatkan banyak dari kita sudah mulai mengalami demotivasi untuk mentaati prokes dan aturan yang ada.

Memang selama satu tahun lebih pandemi covid-19 merebak, kita semua sudah berjuang untuk beradaptasi dengan gaya hidup baru dan situasi baru yang tidak biasa. Segala kebijakan dan aturan yang diberlakukan juga sudah ditaati, baik dengan kesadaran, maupun dengan loyalitas yang besar.

Akan tetapi, rasa jenuh atau bosan jelas tidak bisa terhindarkan, karena potensi ini berkembang dari kebiasaan baru yang pada akhirnya tidak bisa lagi diikuti. Aktivitas dan kebiasaan kita sebagai orang NTT yang nota bene hidup sosialnya sangat tinggi, dan selalu memelihara tali kekeluargaan yang dibentuk dari interaksi intens secara langsung (face to face), mengakibatkan kecenderungan kelelahan akibat pandemi tidak bisa terhindarkan.

Kendati demikian, sindrom ini bukanlah sesuatu yang berbahaya dan menakutkan, tetapi hanyalah sebuah gejala psikis sementara yang bisa berangsur pulih manakala situasi dan kondisi semakin membaik dan kembali seperti biasa.

Maka dari itu, jika memang potensi sindrom ini sedang kita alami, maka dengan penuh kesadaran harus kita cegah agar tidak berlangsung lama. Beberapa hal yang mungkin bisa menjadi pegangan kita agar terhindari dari sindrom ini antara lain: Pertama, pemerintah disarankan membuat regulasi yang berfokus pada kesehatan psikis masyarakat secara umum.

Kebijakan harus dibuat berbasis data dan kajian ilmiah agar bisa tepat sasar.
Kedua, penting juga untuk mencari community based solution, dalam arti melibatkan anggota masyarakat dalam penyesuaian terhadap situasi pandemi.

Di sini diperlukan adanya keterbukaan dan perubahan gaya hidup dari setiap kita. Ketiga, hindari melakukan doomscrolling. Dalam arti yang sederhana, doomscrolling adalah kecenderungan untuk menelusuri media sosial terus-menerus, terutama untuk mencari berita-berita negatif.

Bila terus dilakukan, kebiasaan ini dapat menimbulkan efek fisik maupun psikis. Pandemi covid-19 memang memaksa kita untuk di rumah saja dan salah satu hiburan yang praktis adalah membuka sosial media. Namun, sebaiknya hindari untuk sengaja mencari atau mendengarkan berita negatif di TV atau di media sosial.

Pasalnya, doomscrolling justru dapat meningkatkan rasa takut, ketidakpastian, kecemasan dan kelelahan. Jika kita merasa sudah terjerumus ke dalam doomscrolling sebaiknya jauhi media sosial.

Keempat, mungkin kita bisa meluangkan waktu untuk introspeksi diri dan merenungkan apa yang akan kita lakukan serta konsekuensinya. Bila kita merasa jengkel, tidak sabar, marah, atau lelah, cemas dan stres, kita harus terima bahwa semua yang sedang dihadapi ini, adalah hal normal dan dapat dimengerti selama masa sulit.

Pikirkan bahwa apa yang kita alami saat ini adalah hal yang wajar dan bukan kita saja yang merasakan hal tersebut. Ini adalah masalah global yang sedang dialami bersama. Karena itu, perlu merilekskan diri dan pikiran agar tidak terjerumus dalam kelelahan psikis.

Catatan terakhir yang tak kalah penting adalah membangun ketahanan keluarga agar kita bisa memiliki kekuatan untuk bangkit melawan masifnya virus ini. Salam sehat untuk kita semua. (*)

Kumpulan Opini Pos Kupang

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved