Wagub NTT, Josep Nae Soi Minta IOM Segera Selesaikan Masalah Pengungsi Afghanistan di Kupang  

Wagub NTT, Josep Nae Soi Minta IOM Segera Selesaikan Masalah Pengungsi Afghanistan di Kupang  

POS-KUPANG.COM/RYAN NONG
Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur, Josef Adrianus Nae Soi 

POSKUPANG.COM, KUPANG - Wagub NTT, Josep Nae Soi Minta IOM Segera Selesaikan Masalah Pengungsi Afghanistan di Kupang  

Wakil Gubernur NTT, Josep Nae Soi, SH berjanji akan berkordinasi dengan pihak terkait untuk menjawab permintaan pengungsi Afghansintan di Kupang.

Nae Soi juga Minta IOM Segera Selesaikan Masalah Pengungsi Afghanistan yang sudah ada di kupang hingga 7 tahun itu.   

Usai mendengar keluhan Pengungsi Afghanistan di Kupang Kubra Hasani, Reza Khademi dan Azim Hasani, serta penjelasan dari Kepala IOM Kupang, Asni,  Wagub NTT, Josep Nae Soi, SH mengatakan, akan segera mencari jalan keluar dari persoalan pengungsi dimaksud. 

Menurut Nae Soi tugasnya memediasi persoalan pengungsi yang ada di Kupang. "Lupakan kemarin, sekarang maunya apa," kata Nae Soi.

Wagub NTT, Josep Nae Soi, SH saat bertemu dengan perwakilan pengungsi afghanistan di Kupang, Rabu (19/5/2021) siang
Wagub NTT, Josep Nae Soi, SH saat bertemu dengan perwakilan pengungsi afghanistan di Kupang, Rabu (19/5/2021) siang (POS-KUPANG.COM/NOVEMY LEO)

Dan dia bisa meluangkanw aktunya menemui pengungsi karena mereka saat ini berada di wilayah NTT.

"Apa kalian masih WNA tapi kalian penduduk NTT dan kami wajib, gubernur dan wakil gubernur mendengar keluhan dari warganya. Dia warga negara apapun tapi kalau dia tinggal di suatu daerah di NTT, dia jadi penduduk NTT dan kita akan cari jalan keluar yang paling baik. Ada IOM disini juga kita diskusikan," kata Nae Soi.

Menurut Nae Soi meski berstatus pengungsi namun para pengungsi itu punya hak untuk mendapatkan pelayanan sesuai regulasi yang ada.

Baik ingin pindah ke kota lain di Indonesia ataupun ingin kembali ke negaranya di Afghanistan. Namun tentunya itu semua mesti sesuai dengan regulasi yang ada.  

"Kalau mau pulang kembali ke Afghanistan memungkinkan dan bisa kontak ke kedutaan untuk kembali ke negaranya. Tapi Afghanistan belum terlalu aman disana. Mereka juga terpaksa datang ke negara kita karena situasi negaranya disana. Maka secara kemanusiaan kita harus memperhatikan mereka, tapi ada keterbatasan biaya," jelas Nae Soi.

Baca juga: IOM Kupang Pastikan Ikuti Regulasi Dalam Penanganan Pengungsi Afghanistan di Kupang NTT

Baca juga: Kubra Menangis Disamping Wagub NTT Nae Soi, Pengungsi Afganistan di Kupang Minta Keadilan

Baca juga: Curhatan Pengungsi Afganistan, Kami Seperti Burung Dalam Sangkar Tolong Buka Hatimu IOM & UNHCR

Karenanya camp atau penginapan yang ditempatkan pengungsi Afghanistan di Kupang ini, diasiapkan oleh Pemda dengan keterbatasan pemda.

"NTT miskin sama seperti Afghanistan. Bagaimana kami mau urus kalian kalau rakyat kami juga miskin. Ini jadi akan kami berikan pertimbangan ke pemerintah pusat," kata Nae Soi.

Nae Soi berharap masalah pengungsi ini jangan diselesaikan berlarut-larut. Karenanya IOM Kupang mesti melaporkan keinginan pengungsi ini ke IOM Jakarta.

"IOM Kupang mesti lapor ke Jakarta. Bila pelru saya juga kontak kesana, agar bisa selesaikan masalah. Jangan berlarut-larut, kasihan mereka. Karena semakin berlarut ada korban, semua kita akan menyesal di kemudian hari. Sakit berlarut-larut apalagi dengan covid," kata Nae Soi.

Saat itu, Nae Soi menanyakan kepada Kubra, Reza dan Azim apakah mereka mau menjadi WNI, agar statusnya jelas dan tidak usah pindah ke Negara lain. Dan anak-anak pengungsi bisa sekolah dan mendapatkan ijasah sebagaimana anak indoensia lainnya.

"Mau jadi warga negara Indonesia? Di Kupang Aman? Indonesia Aman? "Ada ketentuan ga? Coba saya cek ke imigrasi di Jakarta, sudah 7 tahun mereka berkeinginan mau jadi warga negara prosesnya bagaimanya? nanti akan dihubungi," kata Nae Soi yag meminta stafnya bisa mengecek regulasinya nanti.

Dan langsung dijawab oleh Kubra dan Reza Khademi bahwa prinsipnya mereka mau asalkan mereka bisa hidup dengan aman.

Reza Khademi, pengungsi asal Aghanistan menemui Wakil Gubenur NTT, Josep Nae Soi, SH di ruang kerjanya, Rabu (19/5/2021).
Reza Khademi, pengungsi asal Aghanistan menemui Wakil Gubenur NTT, Josep Nae Soi, SH di ruang kerjanya, Rabu (19/5/2021). (POS-KUPANG.COM/NOVEMY LEO)

Nae Soi berjanji akan memfasilitasi persoalan pengungsi ini dan hal ini tentu harus dia dikoordinasikan lagi dengan IOM Jakarta dan Imigrasi Jakarta. Begitu juga IOM Kupang harus melaporkan keinginan pengungsi afghanistan di Kupang itu kepada IOM Jakarta.

"Asni tidak bisa ambil keputusan sekarang. Saya dan IOM kita coba cari jalan keluar paling baik supaya bisa secepatnya. Nanti saya akan tanya jalan keluarganya bagaimana. Tolong berikan saya waktu 2 minggu. Saya kontak ke Jakarta, Asni juga kontak kita akan cari yang paling baik," kata Nae Soi.

Nae Soi mengatakan, harus dicari jalan keluar terbaik agar ada win-win solution. Karena disatu pihak pengungsi mau pindah ke negara ketiga atau ke kota lain di Indonesia. Dan di pihak lain, IOM tak bisa memenuhi karena keterbatasan regulasi.

Sambil menunggu hasil, Nae Soi minta Kubra dan pengungsi yang ingin pindah ke Kota lain di Indonesia bukan karena alasan sakit, bisa membuat surat kepada IOM dan Pemda NTT dengan mencantumkan argumentasi yang bisa diterima.

“Tadi sampai airmata keluar karena sudah 6 sampai 7 tahun di Kupang, mereka tidak merasa nyaman dan ingin pindah. Kita tidak bisa memaksakan, orang kebebasan sesuai hak asasi manusia,” kata Nae Soi. (poskupang.com, novemy leo)

IOM Kupang Pastikan Ikuti Regulasi Dalam Penanganan Pengungsi Afghanistan di Kupang, Provinsi NTT.

Hal ini disampaikan Kepala IOM Kupang, Asni kepada Wakil Gubernur NTT, Josep Nae Soi, SH, di ruang kerjanya, Rabu (19/5/2021) siang.

Hari itu Wagub NTT Josep Nae Soi memanggil IOM Kupang untuk bisa didengar klarifikasikan atas pengaduan pengungsi Afgahnistan yang ada di Kupang.   

Asni mengatakan, pihaknya memfasilitasi pendidikan anak dengan sekolah namun untuk ijasah dan NIS tidak bisa difasilitasi IOM karena tak ada regulasi.

“Negara kita memang belum tergabung menandatangani konvensi 51 sehingga ada keterbatas dan mereka tidak bisa dapat ijasah,” jelas Asni. 

Suasana dialog Kubra Hasani pengungsi asal Aghanistan bersama Wakil Gubenur NTT, Josep Nae Soi, SH dan IOM Kupang, Asni, di ruang kerja Wagub NTT, Rabu (19/5/2021). Hadir juga IOM Kupang
Suasana dialog Kubra Hasani pengungsi asal Aghanistan bersama Wakil Gubenur NTT, Josep Nae Soi, SH dan IOM Kupang, Asni, di ruang kerja Wagub NTT, Rabu (19/5/2021). Hadir juga IOM Kupang (POS-KUPANG.COM/NOVEMY LEO)

Untuk kasus Husein, demikian Asni, beberapa waktu lalu mereka sudah membawa Husein ke rumah sakit.

Namun Asni tak mau membicarakan soal kondisi kesehatan Husein karena itu menyangkut privasi pasien.

“Yang pasti  kita sudah berikan fasilitas yang dibuhtuhkan Husein. Selama ini dia harus minum obat yang diberikan oleh kita. Dan kami hanya memfasilitasi setiap anjuran yang diberikan dokter itulah yang kami lakukan,” kata Asni.

Baca juga: Husein Pengungsi Afghanistan di Kupang Mendadak Bisu

Baca juga: Pengungsi Afghanistan di Kupang Minta UNHCR, Pemda NTT, Selamatkan Mereka

Baca juga: Anak-Anak, Remaja, Perempuan Hamil Asal Afghanistan Demo Ke Kantor IOM Kupang

Baca juga: IOM Berikan MHPSS Multi-Layered Pada Pengungsi Afghanistan di Kupang, Provinsi NTT

Untuk pemindahan pengungsi ke kota lain atau ke Negara ketiga, menurut Asni, bisa terjadi jika ada penempatan ke negara ketiga sehingga mereka bisa dipidahkan sementara waktu Jekarta agar lebih dekat dnegan Negara ketiga.

Atau jika ingin pulang kembali ke Afghansitan atas dasar sukarela dari pengungsi bersangkutan.

Atau jika ada masalah kesehatan yang butuh penanganan lanjutan maka bisa dipindahkan ke Kota lain yang memunngkinkan. (poskupang.com, novemy leo)

Kubra Hasani Pegungsi Afghanistan di Kupang Melaporkan Sikap IOM Kepada Wakil Gubernur NTT Josep Nae Soi.

RABU 19 Mei 2021, tiga orang pengungsi asal Aghanistan yang ada di Kota Kupang yakni Kubra Hasani, Reza Khademi dan Azim Hasani menemui Wakil Gubenur NTT, Josep Nae Soi, SH di ruang kerjanya.

Tak hanya mereka, saat itu Wagub NTT Josep Nae Soi pun meminta Kepala IOM Kupang, Asni dan stafnya hadir disana juga.

Dalam dialong sekitar 1 jam itu, Kubra Hasani, Reza Khademi dan Azim Hasani membeberkan perlakuan IOM Kupang terhadap mereka selama hampir 7 tahun itu.

Kubra mengatakan, mereka sudah lama mau bertemu dengan IOM namun IOM tak mengabulkan.

“Hanya Bapak bantu kita, baru kita bisa ketemu. Dua minggu lebih di depan kantor tidak bertemu. Bapa tidak takut kesehatannya karena mau melayani dan dengar suara kita. IOM juga punya kantor melayani pengungsi migran tapi selama beberapa tahun belum pernah ada 1 mingran yang masuk ke kantornya. Tidak membantu migran di kantornya,” ungkap Kubra.

Reza Khademi dan Kubra Hasani, pengungsi asal Aghanistan bersama Wakil Gubenur NTT, Josep Nae Soi, SH di ruang kerjanya, Rabu (19/5/2021).
Reza Khademi dan Kubra Hasani, pengungsi asal Aghanistan bersama Wakil Gubenur NTT, Josep Nae Soi, SH di ruang kerjanya, Rabu (19/5/2021). (POS-KUPANG.COM/NOVEMY LEO)

Atas apa yang sudah terjadi selama beberapa tahun terakhir ini, Kubra mengaku sudah tidak mempercayai IOM lagi.

Apalagi IOM pernah mengatakan bahwa NTT ini adalah community house, nyatanya NTT hanyalah shelter. Dengan status ini maka fasilitas yang diperoleh pengungsi dan proses perpindahan menjadi masalah.

“Kita sudah terlupakan disini. Kalau tidak proses, silahkan pindahkan kita ke kota lain,” kata Kubra.

Menurut Kubra, jika Negara Afghanistan sudah aman, mungkin dia mau pulang kembali ke daerahnya.

Namun saat ini Afghanistan belum aman, dan dia bersama 200-a pengungsi yang ada di Kupang ini adalah suku Hazara yang  adalah suku minoritas dan tidak aman berada di Afghanistan.

Kubra mengatakan, sebenarnya mereka tidak mau merepotkan IOM atau pemerintah Indonesia, mereka hanya ingin diperlakukan dengan baik dan mendapatkan haknya. Kubra sedih melihat pertumbuhan dan masa depan anak-anak pengungsi yang lahir dan bertumbuh disini.

“Sebagai seorang mama, saya senang karena melihat anak saya tumbuh disini, tapi saya tetap sedih karena melihat anak-anak tidak bisa bersekolah normal seperti anak-anak lain yang mendapatkan ijasah, memiliki NIS dan bisa melanjutkan sekolahnya ke janjang pendidikan berikutnya,” kata Kubra.

Karena, hasil ujian dan kenaikan kelas yang terjadi di Kupang ini, tidak bisa dimanfaatkan di Kota lain.

Ada seorang pengungsi yang pindah ke kota lain di Indonesia dan anaknya sudah usia 12 tahun dan mau melanjutkan sekolah, ternyata anaknya diminta mengulang lagi pendidikan dari awal.

“Dan informasi ini mereka (IOM) tidak kasih tahu kalau pendidikan anak-anak itu hanya formalitas saja,” kata Kubra.

Untuk masalah kesehatan, Kubra mencontohkan Husein yang diduga depresi dan kini tak mau bicara lagi dan tak mau bergaul dengan siapapun. Dan IOM tidak menanganinya dengan baik.

Husein hanya diberikan obat oleh security hotel setelah minum, Husein akan tidur dari malam sampai pagi dan pagi sampai malam. Dan konseling dengan psikolog dihentikan dengan alasan Husein tak mau bicara.

“Dia telihat bukan seperi orang hidup. Saya yakin, kalau orang tidak urus dia maka dia akan bunuh diri atau mati. Dalam satu bulan, berat badannya turun 20 kg tapi dari IOM belum pernah ketemu dia. Walaupun saya menangis, sampai psikolog di wa. Husein bukan suadara saya tapi saya kasihan melihat dia. Ada banyak masalah lagi,” kata Kubra.

Para refugee atau pengungsi asal Afghanistan dalam aksi damai di Kantor IOM Kupang, Provinsi NTT, Rabu (28/4/2021) pagi
Para refugee atau pengungsi asal Afghanistan dalam aksi damai di Kantor IOM Kupang, Provinsi NTT, Rabu (28/4/2021) pagi (POS-KUPANG.COM/NOVEMY LEO)

Kubra menambahkan, ketika meminta rujukan dari IOM, IOM baru memberikan rujukan ke pengungsi 2 sampai 3 bulan.

“Kita sudah sehat sendiri atau kita harus bayar sendiri baru ada rujukan. Tapi yang penting buat kita, kita tidak bisa percaya lagi. Semua sudah capek,” kata Kubra.

Kubra berterimasih kepada Wagub NTT yang mau meluangkan waktu untuk mendengar keluh kesah pengungsi. “Saya senang, anda mendengar kita,” kata Kubra.

Kubra mengatakan, untuk meminta surat rekomendasi dari negaranya, pasti tidak akan mereka dapatkan, karena pemerintah disana tidak peduli dengan pengungsi, apalagi mereka adalah kelmpok minoritas suku hazaea.

Terkait demo, Kubra mengatakan, mereka tidak ada pilihan sebab IOM sebagai lembaga yang seharusnya mengurusi pengungsi ternyata tidak mempedulikan mereka selama ini.

Kubra Hasani, Hasana Husaini, Zahra Rahimi, Laila Hadari, Moheddese, Yegane, Zahra Rahimi dan pengungsi Afghanistan di Kupang saat melakukan aksi damai hari keempat di kantor IOM di Kupang, Provinsi NTT, Senin (2/5/2021).
Kubra Hasani, Hasana Husaini, Zahra Rahimi, Laila Hadari, Moheddese, Yegane, Zahra Rahimi dan pengungsi Afghanistan di Kupang saat melakukan aksi damai hari keempat di kantor IOM di Kupang, Provinsi NTT, Senin (2/5/2021). (POS-KUPANG.COM/NOVEMY LEO)

“Kita tidak ada pilihan kita minoritas, suku hazara. Pemernitah kita tidak peduli kita. Banyak migran yang punya ada kasus medis bahkan ada yang sudah dapat surat untuk bisa pindah ke kota lain, namun sudah 1 sampai 2 tahun ini tidak juga diproses oleh IOM Kupang," kata Kubra.

Menurut Kubra, Husein dibawa ke rumah sakit setelah 1 tahun sakit dan setelah mereka berdemo 2 minggu di depan kantor IOM Kupang.

"Kita demo baru dia dapat rujukan ke rumah sakit. Apa kita harus begitu baru bisa dapat mereka (IOM) punya urusan buat orang sakit sepeeti itu. Harus semua anak, ibu hamil, bapak demo di depan kantor IOM baru kasih, harus 2 minggu demo buat orang sakit sampai dia meninggal baru kasih rujukan? Itu mereka punya respon terhadap kita?” kritis Kubra sambil menangis.

Kubra berterimaksih kepada Wagub NTT yang mau mencari solusi untuk pengungsi. “Selama ini kita tunggu 6 sampai 7 tahun, kalau 2 minggu itu tidak rasa,” kata Kubra.

Menurut Kubra, jika mengikuti aturan UNHCR dan IOM maka mestinya pengungsi menetap di community house, karena tak ada community house maka fasilitasnya tidak standar.

Kubra mengaku elama berada di Kupang, kehidupan pengungsi Afghanistan ditangani oleh IOM namun mereka tidak bisa bebas dan punya hak yang sama seperti orang pada umumnya karena status mereka sebagai pengungsi.

“Kita seperti burung dalam sangkar. Itu burung mau bebas tapi tidak bisa. Kalau ada di sangkar yang paling baik, banyak fasilitas, tapi tetap sangkar,” kata Kubra sambil menangis.

Hal senada disamapikan Reza Khademi tentang kehidupan mereka yang ada di Kupang saat ini adalah suku Hazara dan kehidupan suku Hazara di Afghanistan ini minoritas dan ada persoalan ras disana.

Azim Hasani (kiri) dan Reza Khademi (kanan), pengungsi asal Aghanistan menemui Wakil Gubenur NTT, Josep Nae Soi, SH di ruang kerjanya, Rabu (19/5/2021).
Azim Hasani (kiri) dan Reza Khademi (kanan), pengungsi asal Aghanistan menemui Wakil Gubenur NTT, Josep Nae Soi, SH di ruang kerjanya, Rabu (19/5/2021). (POS-KUPANG.COM/NOVEMY LEO)

Mereka dicari dan hendak dibunuh sehingga mereka memilih lari dari Afghanistan ke Iran atau ke luar. Reza Khademi mencontohkan, belum lama ini ratusan anak-anak suku Hazara yang usia 6 sampai 10 tahun tewas karena sekolahnya dibom.  

“Pagi masuk sekolah, siang sudah kubur semua. 200-an orang masih di rumah sakit dan bertambah terus. Bapak bisa cari suku Hazara di google, ada  banyak kuburan, 1 hari sudah penuh. DI Afghanistan tidak ada tempat aman untuk suku Hazara. Beta hanya mau cari tempat aman aman,” kata Reza Khademi yang memiliki 3 orang anak ini.

Reza Khademi mengatakan,  sejak usia 12 tahun dia lari dari Afghanistan ke Iran dan menikah disana.

“Mama bapa saya tidak ada. Setelah menikah di Iran, Issis dan Arab paksa migrant harus ikut berkelahi (perang). Saya tidak mau sehingga saya keluar dari Iran dan sampai kesini,” kata Reza Khademi.

Reza Khademi menjelaskan, dia memiliki tiga anak, anak pertama usia 14 tahun sejak covid tidak pernah bersekolah lagi. Namun beberapa waktu lalu IOM minta anaknya ikut ujian sekolah.

“Tidak sekolah tapi langsung ujian. Anak nomor dua usia 10 tahun juga begitu. Dan aank ketiga yang usia 4 tahun lahir disini. Sekolah hanya formalita saja, IOM dia mau putar-putar, dari sini ke sana, dari sana kesini,” kata Reza Khademi.

Azim Hasani mengungkapkan banyak orang yang mengalami depresi dan minum obat syaraf dan karena terlalu lama akhirnya mereka sampai tidak ingat nama keluarganya, istri, suami atau anak mereka.

“Kalau kita lihat mereka itu rasanya berat karena tidak bisa membantu. Kalau kasih tahu IOM, IOM mengatakan hal itu hanya main-main saja,” kata Azim Hasani. (poskupang.com, novemy leo)

Berikut sejumlah foto yang diabadikan wartawan poskupang.com, saat dialong pengungsi afghanistan, IOM dengan Wagub NTT, Rabu (19/5/2021) siang :

Suasana dialog Reza Khademi, Azim Hasani dan Kubra Hasani pengungsi asal Aghanistan bersama Wakil Gubenur NTT, Josep Nae Soi, SH di ruang kerjanya, Rabu (19/5/2021). Hadir juga IOM Kupang
Suasana dialog Reza Khademi, Azim Hasani dan Kubra Hasani pengungsi asal Aghanistan bersama Wakil Gubenur NTT, Josep Nae Soi, SH di ruang kerjanya, Rabu (19/5/2021). Hadir juga IOM Kupang (POS-KUPANG.COM/NOVEMY LEO)
Wakil Gubernur NTT, Josep Nae Soi, SH, berdialog dengan Kubra Hasani, Reza Khademi dan Azim Hasani, pengungsi Afghansintan di Kupang serta Kepala IOM NTT, Asni di ruang kerjanya, Senin 19 Mei 2021 siang.
Wakil Gubernur NTT, Josep Nae Soi, SH, berdialog dengan Kubra Hasani, Reza Khademi dan Azim Hasani, pengungsi Afghansintan di Kupang serta Kepala IOM NTT, Asni di ruang kerjanya, Senin 19 Mei 2021 siang. (POS KUPANG/NOVEMY LEO)
RABU 19 Mei 2021, tiga orang pengungsi asal Aghanistan yang ada di Kota Kupang yakni Kubra Hasani, Reza Khademi dan Azim Hasani (kiri) menemui Wakil Gubenur NTT, Josep Nae Soi, SH di ruang kerjanya. Hadir juga Kepala IOM Kupang, Asni (kanan)
RABU 19 Mei 2021, tiga orang pengungsi asal Aghanistan yang ada di Kota Kupang yakni Kubra Hasani, Reza Khademi dan Azim Hasani (kiri) menemui Wakil Gubenur NTT, Josep Nae Soi, SH di ruang kerjanya. Hadir juga Kepala IOM Kupang, Asni (kanan) (POS-KUPANG.COM/NOVEMY LEO)

   

Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved