Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik Minggu 31 Agustus 2025: Lupa diri dan Hormat yang Sejati

Orang yang “gila hormat” mengejar penghargaan dari manusia, padahal sifatnya fana dan cepat berlalu. 

Editor: Dion DB Putra
DOK PRIBADI
RD. Leo Mali 

Oleh: RD. Leo Mali
Rohaniwan dan Dosen Fakultas Filsafat Unwira Kupang - Nusa Tenggara Timur

POS-KUPANG.COM - Injil Luk. 14:1.7–14 mengisahkan bagaimana Yesus mengajarkan tentang kerendahan hati. 

Ia melihat orang-orang yang berebut tempat terhormat dalam perjamuan. 

Lalu Yesus menegaskan: “Barang siapa meninggikan diri, ia akan direndahkan, dan barang siapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” (ay. 11). 

Pesan Yesus ini sederhana, tetapi amat dalam: hormat yang sejati bukanlah sesuatu yang direbut, melainkan diberikan Allah kepada mereka yang hidup dalam ketulusan hati. 

Baca juga: Renungan Harian Katolik Sabtu 30 Agustus 2025, "Baik dan Setia"

Kita hidup di zaman ketika kehormatan sering dipahami secara dangkal: jabatan, posisi, pengakuan, atau popularitas. 

Orang yang “gila hormat” mengejar penghargaan dari manusia, padahal sifatnya fana dan cepat berlalu. 

Ketika harapan itu tak terpenuhi, lahirlah kekecewaan, kemarahan, bahkan dendam. 

Sebaliknya, orang yang melakukan kebaikan dengan tulus, tanpa pamrih, justru menemukan hormat sejati: pengakuan dari Allah sendiri. 

Kitab Putera Sirakh mengingatkan:“Semakin besar engkau, hendaklah engkau semakin rendah hati, maka engkau akan mendapat kasih karunia di hadapanTuhan.” (Sir. 3:18). 

Dalam pandangan iman, justru orang kecil, hina, dan rendah hati yang akan ditinggikan oleh Allah. 

Surat kepada Orang Ibrani menegaskan pula bahwa hormat sejati adalah hormat yang lahir dari iman — bukan dari pencapaian duniawi, melainkan dari kesatuan dengan Allah yang kudus (Ibr. 12:22–24). 

Secara filosofis, “gila hormat” dapat dipahami sebagai bentuk alienasi manusia dari dirinya sendiri. 

Kierkegaard menulis bahwa “keputusasaan adalah tidak mau menjadi diri sendiri.” 

Orang yang gila hormat sesungguhnya sedang meletakkan pusat eksistensinya pada pengakuan orang lain, bukan pada martabat dirinya yang dikaruniakan Allah. 

Halaman
1234
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved