Opini Pos Kupang

Lawan Covid-19 dan Infodeminya di Provinsi NTT

Sejak mewabahnya Covid-19, Organisasi Kesehatan Dunia ( WHO) mendefinisikan infodemi (infodemic) sebagai "banjir informasi

Lawan Covid-19 dan Infodeminya di Provinsi NTT
Dok
Logo Pos Kupang

Oleh: Noverius H. Nggili, Pendiri LSM Geng Motor IMUT. Relawan FPRB NTT.

POS-KUPANG.COM - Bahaya penyebaran infodemi bisa melebihi kecepatan pendemi.  Ketidakseimbangan informasi, berita yang keliru, hoaks dapat memupuk infodemi suburberkembang. Sejak mewabahnya Covid-19, Organisasi Kesehatan Dunia ( WHO) mendefinisikan infodemi (infodemic) sebagai "banjir informasi mengenai suatu permasalahan (wabah tertentu), baik akurat maupun tidak, yang justru dapat mengaburkan solusi atau sumber panduan terpercaya atas permasalahan tersebut".

Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Nasional bahkan memasang menu Hoax Buster disitus websitenya untuk mengkarantina berita yang menyesatkan masyarakat.

Warga Urus Surat Keterangan Pelaku Perjalanan di Posko Satgas Covid-19 Kabupaten Ngada

Pendemi global Covid-19 juga ikut meningkatkan pengunaan media sosial. Masyarakat menjadi aktif menyebarkan informasi, baik yang ilmiah ataupun antisains, membuat ketenangan ataupun kepanikan. Platform media sosial besar seperti Facebook, WhatsApp, Twitter, Instagram dan Youtube paling banyak memberikan informasi bagi masyarakat.

Di zaman revolusi 4.0 saat ini, pemanfaatan perangkat komunikasi dan mudahnya akses informasi dapat merubah pola konsumsi informasi dan perilaku masyarakat, tak luput di Nusa Tenggara Timur ( NTT).

Rapid Test 5 Warga Sumba Barat Sepesawat Dengan Pasien Covid-19 Waingapu Non Reaktif

Kami di FPRB melakukan survei daring sederhana selama lima hari (1-5 Mei 2020) untuk memetakan pengalaman warga NTT ditengah pendemi Covid-19 ini.

Responden dalam survei ini tidak ditentukan (convenience sampling), sehingga siapa saja boleh mengisi formulir yang disebarkan secara online. Sampai penutupan survei ada 674 responden yang terlibat (46,3 persen perempuan dan 53,7 persen laki-laki). 623 responden diantaranya berdomisili di NTT.

Survei ini menunjukkan bahwa sosial media merupakan sumber informasi dominan di masa pandemi. Responden mendapatkan informasi Covid-19 terbanyak melalui Facebook (21 persen), WhatsApp (20,9 persen), Televisi (15,1 persen), News/Surat Kabar/Koran Online (15 persen), Youtube (10,8 persen), Instagram (8,1 persen) Surat Kabar/Koran Cetak (6 persen) dan Twitter (3,2 persen). Bila digabungkan, hanya 21 persen responden yang mendapat informasi dari media non daring, yakni televisi dan koran cetak.

Dengan beragamnya informasi yang beredar dalam infodemi, masyarakat dapat memilih jenis yang diinginkan dan mengkonstruksikan sendiri pengetahuannya. Responden dalam survei ini menginginkan informasi yang beragam terkait Covid-19.

Cakupannya mulai dari data dasar medis (jumlah ODP, PDP, OTG, kasus konfirmasi), kapasitas penanganan pada fasilitas kesehatan, sampai informasi tentang dampak ekonomi dan ketahanan pangan serta transparansi pengelolaan dana bantuan sosial Covid-19.

Halaman
12
Editor: Kanis Jehola
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved