Opini Pos Kupang
Lawan Covid-19 dan Infodeminya di Provinsi NTT
Sejak mewabahnya Covid-19, Organisasi Kesehatan Dunia ( WHO) mendefinisikan infodemi (infodemic) sebagai "banjir informasi
Demikian juga bentuk penyajian dan timing informasi menentukan ketertarikan responden. Informasi spasial dengan data realtime merupakan pilihan 50,1 persen responden.
Yang menarik adalah, hanya 0,7 persen responden mengaku tertarik dengan flyer yang merupakan bentuk penyajian informasi di media sosial yang sangat populer. Ada 66 persen responden menginginkan kampanye melawan Covid-19 di NTT juga dapat dalam bahasa daerah, sehingga pesannya lebih akrab dan lebih dipahami.
Bagian terakhir survei ini menyoroti maraknya pemanfaatan diskusi Covid-19 di NTT melalui Webinar. 76,8 persen responden menyatakan bahwa mereka tidak pernah mengikuti diskusi webinar dan bagi yang pernah mengikutinya mayoritas menyatakan bahwa informasi yang didapat belum sesuai harapan mereka.
Ini menjadi masukan bagi para pelaksana diskusi webinar agar dapat mengemas dialog dengan tema yang dapat lebih banyak menarik minat publik serta host dialog dapat mengarahkan diskusi agar narasumber dapat memberikan informasi yang tepat.
Meskipun tidak dapat mewakili seluruh warga NTT, survei daring ini sekiranya menggambarkan harapan warga terhadap informasi yang harusnya mereka terima. Pemerintah melalui Gugus Tugas percepatan penanganan Covid-19 di NTT sebagai benteng informasi harus meningkatkan produksi dan kualitas serta update suplai informasi kepada masyarakat, terutama melalui media sosial seperti Facebook dan WhastApp.Himbauan agar informasi yang disebarkan hanya dari sumber resmi pemerintah saja tidak cukup, apabila kuantitas, kualitas dan jangkauannya masih rendah.
Dalam infodemi Covid-19 di NTT, narasi harusnya dibuat untuk mendorong warga berbagi informasi yang menarik, akurat dan bukan hoaks. Bagi masyarakat luas, mari kita lawan pendemi Covid-19 dan infodeminya di NTT. Semoga wabah ini cepat berlalu. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/ketimpangan-pendapatan-patologi-inheren-perekonomian.jpg)