Opini Pos Kupang

Lawan Covid-19 dan Infodeminya di Provinsi NTT

Sejak mewabahnya Covid-19, Organisasi Kesehatan Dunia ( WHO) mendefinisikan infodemi (infodemic) sebagai "banjir informasi

Lawan Covid-19 dan Infodeminya di Provinsi NTT
Dok
Logo Pos Kupang

Tetapi ada kecenderungan bahwa informasi medis masih lebih dicari oleh responden daripada informasi tentang sosial ekonomi, seperti ketahanan pangan masyarakat dalam masa pandemi dan transparansi bantuan sosial Covid-19.

Selain itu, berita palsu atau hoaks masih banyak diperoleh responden. Mayoritas responden (35,2 persen) mengaku 20 persen -50 persen informasi yang diperoleh adalah hoaks. Bahkan 29,1 persen responden memperkirakan 50 persen -80 persen berita yang diterima adalah berita palsu.

Tidak mengherankan media social dengan karakteristik tanpa saringannya merupakan sumber hoaks terbesar. Berdasarkan pengalaman 51,2% responden, hoaks terbanyak ditemukan di platform Facebook dan disusul oleh WhatsApp (36,9 persen).

Responden berharap bahwa informasi resmi dari pemerintah bisa menjadi sumber informasi yang benar dan anti-hoaks. Mayoritas responden (50,4 persen) berharap bisa mendapatkan informasi resmi pemerintah antara 1 sampai 3 kali. Sampai saat survey ini ditutup, mayoritas responden mengaku bahwa informasi yang didapatkan dari pemerintah sudah memenuhi harapannya (53,2 persen).

Walau demikian, itu artinya masih 46,8 persen responden yang mengaku bahwa informasi yang diterima dari pemerintah belum memenuhi harapannya.

Demikian juga bentuk penyajian dan timing informasi menentukan ketertarikan responden. Informasi spasial dengan data realtime merupakan pilihan 50,1 persen responden.

Yang menarik adalah, hanya 0,7 persen responden mengaku tertarik dengan flyer yang merupakan bentuk penyajian informasi di media sosial yang sangat populer. Ada 66 persen responden menginginkan kampanye melawan Covid-19 di NTT juga dapat dalam bahasa daerah, sehingga pesannya lebih akrab dan lebih dipahami.

Bagian terakhir survei ini menyoroti maraknya pemanfaatan diskusi Covid-19 di NTT melalui Webinar. 76,8 persen responden menyatakan bahwa mereka tidak pernah mengikuti diskusi webinar dan bagi yang pernah mengikutinya mayoritas menyatakan bahwa informasi yang didapat belum sesuai harapan mereka.

Ini menjadi masukan bagi para pelaksana diskusi webinar agar dapat mengemas dialog dengan tema yang dapat lebih banyak menarik minat publik serta host dialog dapat mengarahkan diskusi agar narasumber dapat memberikan informasi yang tepat.

Meskipun tidak dapat mewakili seluruh warga NTT, survei daring ini sekiranya menggambarkan harapan warga terhadap informasi yang harusnya mereka terima. Pemerintah melalui Gugus Tugas percepatan penanganan Covid-19 di NTT sebagai benteng informasi harus meningkatkan produksi dan kualitas serta update suplai informasi kepada masyarakat, terutama melalui media sosial seperti Facebook dan WhastApp.Himbauan agar informasi yang disebarkan hanya dari sumber resmi pemerintah saja tidak cukup, apabila kuantitas, kualitas dan jangkauannya masih rendah.

Dalam infodemi Covid-19 di NTT, narasi harusnya dibuat untuk mendorong warga berbagi informasi yang menarik, akurat dan bukan hoaks. Bagi masyarakat luas, mari kita lawan pendemi Covid-19 dan infodeminya di NTT. Semoga wabah ini cepat berlalu. (*)

Editor: Kanis Jehola
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved